Kemenekraf Siapkan Strategi Adaptif Hadapi Dinamika Geopolitik Global
Kemenekraf merespons tantangan geopolitik global dengan strategi adaptif untuk menjaga pertumbuhan pariwisata nasional tetap positif, termasuk diversifikasi pasar dan optimalisasi penerbangan.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) telah menyiapkan serangkaian strategi komprehensif untuk menghadapi dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi sektor pariwisata nasional. Langkah ini bertujuan untuk memastikan pertumbuhan pariwisata Indonesia tetap berada dalam tren positif di tengah ketidakpastian global.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Widiyanti Putri Wardhana, menegaskan pentingnya strategi responsif dan adaptif guna meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia. Hal ini disampaikannya dalam Webinar Nasional “Tourism Under Fire” yang berlangsung di Jakarta pada Senin, 16 Maret.
Situasi geopolitik, khususnya yang berkembang di kawasan Timur Tengah, telah mulai berdampak pada operasional maskapai penerbangan, menyebabkan penyesuaian rute dan kenaikan biaya perjalanan akibat lonjakan harga bahan bakar. Kondisi ini berpotensi besar memengaruhi arus perjalanan internasional menuju Indonesia.
Dampak Geopolitik Terhadap Sektor Pariwisata Nasional
Dinamika geopolitik global, terutama yang berkembang di kawasan Timur Tengah, diperkirakan dapat menimbulkan dampak signifikan terhadap industri pariwisata Indonesia. Pemerintah memproyeksikan potensi penurunan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai sekitar 4.700 hingga 5.500 orang per hari.
Jika kondisi yang tidak menguntungkan ini terus berlanjut, potensi kehilangan devisa bagi negara diperkirakan akan berkisar antara Rp157,9 miliar hingga Rp184,8 miliar setiap harinya. Angka ini menunjukkan betapa rentannya sektor pariwisata terhadap gejolak eksternal.
Selain itu, dampak geopolitik juga terasa pada operasional maskapai penerbangan, yang harus melakukan penyesuaian rute penerbangan jarak jauh. Kenaikan harga bahan bakar global turut berkontribusi pada peningkatan biaya perjalanan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi minat wisatawan untuk bepergian.
Mitigasi dan Diversifikasi Pasar Wisatawan
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kemenekraf telah menyiapkan sejumlah strategi mitigasi yang berfokus pada diversifikasi pasar wisatawan mancanegara. Promosi akan diperkuat pada pasar jarak pendek dan menengah yang memiliki konektivitas penerbangan relatif stabil.
Wilayah seperti Asia Tenggara, Asia Timur, Australia, dan India menjadi target utama dalam upaya diversifikasi ini, mengingat stabilitas rute penerbangan dan kedekatan geografis. Kampanye promosi juga akan lebih gencar menampilkan Indonesia sebagai destinasi alternatif yang menarik, aman, dan stabil untuk dikunjungi.
Optimalisasi penerbangan langsung juga menjadi prioritas, termasuk rute Amsterdam–Jakarta dan Amsterdam–Denpasar yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu menjaring wisatawan dari pasar Eropa, terutama menjelang musim libur musim semi dan musim panas.
Penguatan promosi digital berbasis data juga dilakukan untuk menjangkau calon wisatawan secara lebih tepat sasaran, meningkatkan efektivitas kampanye, serta mendorong masyarakat Indonesia untuk berwisata di dalam negeri.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Peluang Baru
Kemenekraf juga aktif mendorong penyelenggaraan berbagai acara pariwisata di wilayah perbatasan guna menjaga dinamika ekonomi pariwisata daerah. Contohnya, wisatawan dari Singapura yang berkunjung ke Kepulauan Riau menunjukkan kecenderungan untuk melakukan kunjungan berulang.
Peluang ini dimanfaatkan secara optimal antara lain dengan menawarkan paket wisata golf, wisata belanja, wellness, dan berbagai pengalaman wisata lainnya. Ini menunjukkan potensi besar pariwisata berbasis kawasan.
Kolaborasi lintas kementerian dan lembaga juga menjadi kunci, melibatkan Kementerian Perhubungan, Kementerian Hukum dan HAM (Direktorat Jenderal Imigrasi), dan Kementerian Keuangan. Tujuannya adalah mengeksplorasi kebijakan yang dapat memperkuat daya saing pariwisata Indonesia.
Opsi yang sedang didorong meliputi penambahan kapasitas kursi penerbangan, peningkatan keterjangkauan harga tiket, serta kebijakan bebas visa kunjungan bagi pasar-pasar potensial untuk menarik lebih banyak wisman.
Prospek Positif dan Tantangan Berkelanjutan
Meskipun menghadapi tantangan geopolitik, sektor pariwisata Indonesia sebenarnya berada pada momentum yang sangat baik. Pada tahun 2025, tercatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara dengan capaian devisa sebesar 18,27 miliar dolar AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan bahwa sektor pariwisata mencatatkan performa impresif sepanjang tahun 2025, berkontribusi Rp945,7 triliun atau 3,97 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 25,91 juta tenaga kerja.
Perkembangan positif juga datang dari pasar Asia Timur, dengan beberapa maskapai seperti China Airlines, Spring Airlines, dan China Southern yang akan menambah frekuensi penerbangan serta membuka rute baru menuju Jakarta dan Bali mulai Mei 2026. Ini menandakan optimisme pasar terhadap destinasi Indonesia.
Namun, di tengah capaian dan prospek positif ini, ketangguhan sektor pariwisata terus diuji oleh tantangan geopolitik yang mengganggu konektivitas global. Kemenekraf terus berupaya menonjolkan Indonesia sebagai destinasi premium dengan harga terjangkau melalui berbagai strategi pemasaran.
Sumber: AntaraNews