Fakta Unik: Okupansi Hotel Turun di Tengah Lonjakan Kunjungan Wisatawan, Kemenpar Genjot Promosi!

Meskipun Kunjungan Wisatawan mancanegara dan nusantara melonjak signifikan, terjadi penurunan okupansi hotel. Kementerian Pariwisata terus genjot promosi dan tata kelola.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: Okupansi Hotel Turun di Tengah Lonjakan Kunjungan Wisatawan, Kemenpar Genjot Promosi!
Meskipun Kunjungan Wisatawan mancanegara dan nusantara melonjak signifikan, terjadi penurunan okupansi hotel. Kementerian Pariwisata terus genjot promosi dan tata kelola. (Merdeka.com)

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) baru-baru ini merilis laporan kinerja bulanan yang menunjukkan performa positif sektor pariwisata Indonesia. Data terkini dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengindikasikan adanya peningkatan signifikan dalam Kunjungan Wisatawan, baik dari mancanegara maupun nusantara, pada Juli 2025.

Laporan tersebut, yang disampaikan oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana bersama Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa pada Kamis (4/9) di Jakarta, menyoroti pertumbuhan yang menjanjikan. Meskipun demikian, di balik angka-angka positif ini, terdapat fenomena menarik terkait tingkat okupansi hotel yang justru mengalami penurunan.

Situasi ini mendorong Kementerian Pariwisata untuk semakin gencar mengimplementasikan berbagai strategi promosi dan tata kelola. Upaya ini bertujuan untuk memastikan tren positif terus berlanjut, sekaligus mengatasi tantangan yang muncul demi keberlanjutan ekosistem pariwisata nasional.

Lonjakan Kunjungan Wisatawan dan Fenomena Okupansi Hotel

Jumlah Kunjungan Wisatawan mancanegara pada Juli 2025 mencapai 1,48 juta, menunjukkan peningkatan sebesar 13,01 persen dibandingkan Juli 2024. Malaysia tetap menjadi kontributor terbesar dengan 212.113 kunjungan, diikuti Australia (173.241 kunjungan) dan Tiongkok (144.531 kunjungan). Secara kumulatif, periode Januari-Juli 2025 mencatat pertumbuhan +10,04 persen menjadi 8,53 juta kunjungan wisman.

Kinerja positif juga terlihat pada pergerakan wisatawan nusantara, dengan total 100,2 juta perjalanan pada Juli 2025, naik +29,72 persen dibandingkan Juli 2024. Pencapaian ini sejalan dengan periode libur sekolah yang umumnya berlangsung hingga pertengahan Juli, berkontribusi pada pertumbuhan kumulatif Januari–Juli 2025 sebesar +19,25 persen. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan, “Kami optimistis tren ini akan terjaga hingga akhir tahun.”

Namun, di tengah lonjakan Kunjungan Wisatawan ini, tingkat okupansi hotel di Indonesia justru mengalami penurunan 3,57 poin persentase pada Juli 2025 dibandingkan Juli 2024. Secara kumulatif Januari–Juli 2025, penurunan juga tercatat sebesar 3,54 poin persentase. Dua indikasi utama penyebab penurunan ini adalah pergeseran wisatawan ke akomodasi alternatif dan pertumbuhan jumlah kamar hotel yang lebih cepat dibandingkan peningkatan jumlah wisatawan, menunjukkan indikasi oversupply.

Meskipun demikian, jumlah kamar terisi pada Juli 2025 meningkat +13,18 persen menjadi 7,56 juta kamar dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Peningkatan ini, meskipun kunjungan wisman dan wisnus lebih rendah dari Juni 2025, dapat dipengaruhi oleh penyelenggaraan event dan MICE di kota-kota besar. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menambahkan, “Aktivitas semacam ini, terutama yang menghadirkan keramaian di sekitar destinasi pariwisata berpotensi menjadi penggerak okupansi dan dapat menghidupkan industri perhotelan.”

Strategi Kemenpar dalam Mengembangkan Pariwisata

Untuk mendorong iklim usaha yang sehat dan tata kelola destinasi yang tertib, Kementerian Pariwisata menerbitkan Surat Edaran SE/4/HK.01.03/MP/2025 tentang Imbauan Pendaftaran Perizinan Berusaha bagi Pelaku Usaha Penyediaan Akomodasi Pariwisata. Pemerintah daerah diimbau untuk menindaklanjuti dengan mendata, membina, mengawasi, dan menerapkan sanksi administratif bagi usaha yang belum memiliki perizinan. Asosiasi Penyediaan Akomodasi Pariwisata juga diminta untuk memenuhi perizinan dan standar usaha paling lambat 31 Desember 2025.

Kemenpar juga konsisten menyelenggarakan Karisma Event Nusantara (KEN), sebuah rangkaian 110 event daerah di 37 provinsi yang terbukti berdampak ekonomi lokal. Hingga 1 September 2025, 61 event telah terlaksana di 31 provinsi, menarik 9,05 juta pengunjung dan menghasilkan transaksi ekonomi Rp691,30 miliar. KEN juga melibatkan 9,75 ribu UMKM, membuka lebih dari 83 ribu lapangan kerja, dan lebih dari 77 ribu pekerja seni. Salah satu contoh, festival “Pacu Jalur” mencatat lebih dari 1,65 juta wisatawan dan perputaran uang lebih dari Rp165 miliar. “Dengan hasil yang nyata terasa oleh masyarakat, Kementerian Pariwisata akan kembali menghadirkan program Karisma Event Nusantara pada tahun 2026,” ucap Ni Luh Puspa.

Pada Agustus 2025, Kemenpar meluncurkan Halo Wonderful, platform layanan terpadu untuk informasi, pengaduan, aspirasi, dan konsultasi bagi masyarakat dan stakeholder pariwisata. Layanan ini tersedia melalui berbagai saluran komunikasi seperti WhatsApp, call center, email, aplikasi, media sosial, website, hingga kunjungan langsung ke kantor Kemenpar. Ini memastikan masyarakat dapat menyampaikan saran dan keluhan dengan mudah, transparan, dan inklusif.

Selain itu, Kemenpar memperkuat kolaborasi lintas kementerian dan lembaga. Pada 13 Agustus 2025, MoU ditandatangani dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian UMKM, Badan Gizi Nasional (BGN), dan BASARNAS. Di penghujung Agustus, enam kementerian meluncurkan “Rasa Rempah Indonesia (S’RASA)” untuk memperkenalkan kuliner dan budaya Indonesia ke mancanegara, memberdayakan lima restoran Indonesia di Amsterdam, London, New York, Tokyo, dan Sydney. Program ini sekaligus mendorong promosi kuliner, peningkatan ekspor rempah, serta perluasan produk UMKM Indonesia di luar negeri.

Seluruh capaian ini mencerminkan komitmen bersama dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi nasional. Kementerian Pariwisata berharap Kunjungan Wisatawan mancanegara terus meningkat seiring dengan citra pariwisata Indonesia yang semakin kuat. Begitu pula dengan geliat perjalanan wisatawan domestik, yang menjadi fondasi kokoh pemulihan dan pertumbuhan pariwisata di tanah air. Menteri Widiyanti Putri Wardhana mengimbau, “Mari kita jaga dan rawat pariwisata Indonesia, karena pariwisata yang tumbuh adalah pariwisata yang dikelola bersama, dengan semangat gotong royong dan kepedulian.”

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi