Kemenekraf Dukung JFW 2027, Dorong Gerakan Ekonomi Kreatif dan Ekspansi Global
Kemenekraf Dukung JFW 2027 sebagai platform utama untuk memajukan industri mode nasional, mendorong inovasi, dan memperluas jangkauan desainer lokal ke pasar global.
Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menyatakan dukungan penuhnya terhadap gelaran Jakarta Fashion Week (JFW) 2027. Menekraf Teuku Riefky Harsya melihat JFW sebagai gerakan ekonomi kreatif yang progresif. Festival mode ini secara konsisten merayakan inovasi, keberagaman, serta evolusi gaya dalam industri fesyen Indonesia.
Dukungan ini disampaikan setelah Menekraf Riefky menerima audiensi dari Chairwoman Jakarta Fashion Week, Svida Alisjahbana, di Kantor Kemenekraf, Jakarta, pada Kamis (8/1) lalu. Pertemuan tersebut membahas perkembangan, pencapaian JFW tahun sebelumnya, serta rencana kolaborasi strategis untuk edisi 2027.
Tujuan utama dari kolaborasi ini adalah untuk memajukan industri mode Indonesia di kancah global, dengan fokus pada dampak positif bagi desainer lokal. Kemenekraf berharap JFW dapat menjadi jembatan bagi produk fesyen nasional untuk menembus pasar ekspor internasional.
Fokus Pengembangan Desainer Lokal dan Pasar Ekspor
Menekraf Teuku Riefky Harsya menekankan pentingnya dampak nyata dari festival fesyen terhadap desainer lokal dan potensi pasar ekspor. Menurutnya, hal ini krusial untuk memastikan subsektor fesyen Indonesia dapat "naik kelas" di mata dunia. Kemenekraf sendiri telah memiliki program Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK) yang dirancang khusus untuk mendukung tujuan tersebut.
JFW berperan strategis dalam menghubungkan ekosistem desainer dengan berbagai acara internasional, sekaligus mengangkat wastra Indonesia ke skala global. Ini menjadi platform penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan kreativitas lokal kepada audiens yang lebih luas.
Kemenekraf siap menghidupkan kembali kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kerjasama ini diharapkan dapat memperkuat pengembangan subsektor fesyen melalui inisiasi berkelanjutan dari JFW. Kemitraan lintas kementerian dan lembaga ini akan membuka akses ke jaringan dan calon sponsor yang lebih luas.
JFW sebagai Jembatan Global Industri Mode Indonesia
Kehadiran Kemenekraf pada puncak JFW 2026 November lalu menjadi momentum kuat untuk menjaring kolaborasi lintas negara ASEAN. Dukungan dari berbagai kementerian berhasil meningkatkan kesadaran dan partisipasi ekosistem mode. JFW 2026 mencatat total 619 publikasi dalam delapan hari cakupan media nasional dan internasional, menunjukkan jangkauan yang signifikan.
Dalam upaya menjadikan Jakarta sebagai barometer fesyen Asia Tenggara, JFW juga berencana mengembangkan talenta melalui Jakarta Fashion Force Academy. Inovasi program ini bertujuan untuk membina dan mempersiapkan generasi desainer muda Indonesia.
Keberlanjutan partisipasi JFW dalam pameran internasional seperti Tranoi dan Premiere Vision Paris, hingga Riyadh Fashion Week, disinyalir akan membangun jembatan global kemitraan strategis. Chairwoman JFW Svida Alisjahbana menyatakan bahwa JFW telah menjadi mitra resmi Tranoi Paris dan Riyadh Fashion Week. Ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mendapatkan paviliun khusus dalam acara-acara bergengsi tersebut.
Kurasi Ketat dan Promosi Wastra Mendunia
Dengan dukungan Kemenekraf, Svida Alisjahbana berharap dapat menciptakan skenografi atau desain interior yang menarik perhatian di acara internasional. Hal ini penting untuk menarik minat pembeli internasional dan mempromosikan desainer Indonesia secara efektif.
JFW akan melakukan kurasi ketat terhadap desainer yang siap mendunia, memastikan mereka memiliki kapasitas dan koleksi yang kuat. Proses ini bertujuan agar karya-karya desainer Indonesia menjadi bahan perbincangan dan menarik pesanan dari pembeli internasional. Svida meyakini Kemenekraf dapat membantu mengembangkan pemain subsektor fesyen untuk naik kelas, khususnya mengangkat wastra Indonesia ke pasar global.
Wastra, sebagai hulu dari industri fesyen, menghadapi tantangan tersendiri untuk mendunia. Proses ini membutuhkan kurasi, renovasi, dan strategi pemasaran yang tepat agar dapat diterima oleh rumah-rumah mode global. Kolaborasi antara berbagai pihak sangat diperlukan untuk membina perancang busana Indonesia menjadi pemain dunia, dengan target peningkatan kualitas, branding, dan penetrasi pasar internasional.
Sumber: AntaraNews