Keluarga Argo Bantah Tempuh Jalur Damai, Proses Hukum Tetap Jalan
Meiliana sama sekali tidak bersedia menjelaskan apakah keluarga merasa ada kecurigaan terhadap peristiwa yang menimpa Argo.
Meiliana, ibu dari Argo Ericko Achfando (19) mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tewas dalam kecelakaan di Jalan Palagan Tentara, Sleman, Yogyakarta membantah kabar keluarga ditawarai uang damai hingga Rp1 mMiliar. Namun keluarga tidak menjelaskan secara detil dengan alasan seluruh proses hukum sudah dilimpahkan pada kuasa hukum.
"Tidak ada. Pokoknya saya cuma bilang proses hukum tetap berjalan itu saja sih. Saya hanya mencari keadilan berkendara, kecepatan, dan mungkin hal-hal lain lah," katanya, Sabtu (31/5).
Meiliana sama sekali tidak bersedia menjelaskan apakah keluarga merasa ada kecurigaan terhadap peristiwa yang menimpa Argo. Dirinya sekali lagi menekankan bahwa semua proses hukum sudah dilimpahkan ke kuasa hukum.
"Kalau terkait masalah saya limpahkan ke tim kuasa hukum. Jadi terkait proses hukum mohon maaf saya limpahkan ke kuasa hukum yang telah diberikan kewenangan untuk menangani itu jadi mohon maaaf saya belum bisa menjelaskan. Memang kondisi saya masih berduka, saya beban mental psikis saya, jadi harap dimaklumi,” ujarnya.
Dia menyadari bahwa risiko dari berkendara adalah menabrak atau ditabrak. Namun disini Meiliana menegaskan bahwa etika berkendara harus dijunjung tinggi. Pengendara harus mematuhi rambu yang ada serta memperhatikan kecepatan berkendara.
"Tapi paling tidak punya etika dan punya rambu-rambu batasan-batasan kecepatan dan lainnya, buat saya sih itu.Jadi untuk teman-teman baik itu yang motor atau yang mobil ya seperti yang tadi bilang etika," tegasnya.
Hal Baik dalam Diri Argo Bisa Jadi Contoh
Sebagai seorang ibu, Meiliana berharap hal-hal baik yang ada dalam diri Argo dapat dijadikan contoh. Dia menekankan, sebagai anak yatim tidak membuat Argo patah arang untuk memilki cita-cita besar dan mimpi menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
"Anak saya ini membawa dampak untuk anak-anak, terutama yang sedang menuntut ilmu, baik itu teman dia satu angkatan atau nantinya. Jadikanlah motivasi, inspirasi, role model untuk teman-teman yang akan menuntut ilmu nantinya. Ambillah yang sifat-sifat baik, dedikasinya, semangatnya untuk penerus penerus ke depannya. Yang itu yang akan membawa nantinya harum ke nama anak saya. Saya berharap itu bisa berdampak untuk banyak orang. Terutama untuk penerus penerus bangsa ya yang menuntut ilmu," harapnya.
Argo hidup tanpa figure ayah selama 11 tahun. Selama itulah Argo menjalani masa kecilnya dengan kemampuan yang dimiliki. Meiliana mengaku bangga dengan Argo yang dapat melalui itu semua dan menjadikannya anak mandiri dan kuat.
"Jadi dia bisa dijadikan bahwa dengan dia berstatus anak yatim, tidak ada figur ayahnya dan begitu banyak cobaan yang dialami semasa kecil, termasuk juga dengan adiknya, beban mental, itu tidak menyudutkan saya dan tidak menakutkan buat saya sebagai ibunya. Bahwa mimpi mereka tetap saya dukung, terutama untuk masa depan mereka, terutama dalam hal pendidikan," katanya.
Meiliana pun ingin berpesan pada para single parent yang ada di luaran agar tetap semangat demi anak-anak. Single mama janganlah berkecil hati dalam membesarkan anak karena akan ada jalan untuk mereka kemudian hari.
"Jadi juga untuk ibu-ibu yang merasa bahwa mempunyai anak yatim janganlah berkecil hati dan janganlah merasa bahwa tidak ada kesempatan atau peluang untuk menyekolahkan anak setinggi mungkin, karena akan ada banyak cara dan ada kemudahan yang nantinya Allah berikan untuk anak-anak yatim," pungkasnya.