Pakar UGM Tekankan Pelaksanaan Kurban Halal dan Aman Jelang Idul Adha 1447 H
Menjelang Idul Adha 1447 H, pakar UGM menyoroti pentingnya kurban halal dan aman untuk kualitas daging dan kesehatan masyarakat, membekali panitia melalui pelatihan komprehensif.
Yogyakarta – Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Cuk Tri Noviandi, menegaskan bahwa ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah harus mengedepankan prinsip halal, aman, dan ihsan. Penekanan ini disampaikan untuk memastikan seluruh proses penyembelihan hewan ternak berjalan sesuai syariat dan standar kesehatan. Menurut Noviandi, kurban bukan hanya sekadar menyembelih, tetapi juga tentang bagaimana memperlakukan hewan dengan baik dan memastikan hasilnya layak dikonsumsi.
Kesalahan dalam penanganan hewan kurban di lapangan, mulai dari stres pada hewan hingga proses penyembelihan yang tidak sesuai standar, kerap terjadi. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kualitas daging, tetapi juga berisiko bagi panitia kurban yang terlibat. Oleh karena itu, edukasi dan pelatihan menjadi krusial untuk meminimalisir potensi masalah tersebut.
Menyikapi kebutuhan ini, Fakultas Peternakan UGM secara proaktif menggelar pelatihan penanganan kurban bagi panitia dan masyarakat umum. Pelatihan ini bertujuan membekali peserta dengan pengetahuan lengkap, mulai dari fikih kurban hingga praktik penanganan hewan dan pengelolaan daging yang higienis. Inisiatif ini sangat relevan mengingat Idul Adha 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, menjadikan persiapan yang matang semakin penting.
Pentingnya Prinsip Halal, Aman, dan Ihsan dalam Kurban
Pelaksanaan kurban yang sesuai syariat Islam tidak hanya berfokus pada aspek keagamaan, tetapi juga pada praktik yang etis dan higienis. Cuk Tri Noviandi dari Fakultas Peternakan UGM menekankan bahwa prinsip halal, aman, dan ihsan harus menjadi landasan utama. Halal mencakup kesesuaian dengan syariat, aman berarti tidak membahayakan hewan maupun manusia, dan ihsan berarti memperlakukan hewan dengan baik dan penuh kasih sayang.
Seringkali, panitia kurban menghadapi tantangan dalam penanganan hewan, seperti hewan yang stres sebelum disembelih atau metode penyembelihan yang tidak memenuhi standar. Situasi ini dapat berdampak negatif pada kualitas daging kurban, membuatnya kurang optimal untuk dikonsumsi. Selain itu, penanganan yang tidak tepat juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi panitia dan masyarakat.
Kondisi hewan yang stres sebelum penyembelihan dapat memengaruhi pH daging, yang pada gilirannya mengurangi daya simpan dan kualitas organoleptik daging. Oleh karena itu, memastikan hewan kurban dalam kondisi tenang dan sehat adalah langkah awal yang vital. Penerapan prinsip ihsan dalam seluruh proses, mulai dari pengangkutan hingga penyembelihan, akan sangat membantu menjaga kualitas daging dan kesejahteraan hewan.
Pelatihan Komprehensif UGM untuk Penanganan Kurban
Untuk mengatasi permasalahan penanganan kurban yang sering terjadi, Fakultas Peternakan UGM menyelenggarakan pelatihan khusus. Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Budi Guntoro, menyatakan bahwa pelatihan ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga membekali peserta dengan praktik langsung. Materi yang disampaikan mencakup fikih kurban, teknik penanganan hewan yang benar, dan pengelolaan daging sesuai standar kesehatan.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan berbagai aspek praktis, termasuk teknik pemotongan dan distribusi daging yang higienis, cara memisahkan daging dan jeroan dengan benar, serta pentingnya penggunaan sarung tangan. Selain itu, UGM juga menganjurkan penggunaan kemasan ramah lingkungan, seperti besek bambu, sebagai alternatif wadah daging kurban.
Prof. Budi Guntoro berharap melalui kegiatan ini, para peserta dapat melanjutkan ke proses sertifikasi kompetensi yang selama ini telah dilakukan UGM. Sertifikasi ini akan sangat diperlukan, terutama jika daging kurban nantinya masuk pada ranah diperjualbelikan kepada khalayak luas. Hal ini menunjukkan komitmen UGM dalam meningkatkan standar kualitas dan keamanan produk hewani.
Risiko Kesehatan Akibat Pengelolaan Daging Kurban Tidak Higienis
Pengelolaan daging hewan kurban yang tidak higienis dapat memicu berbagai risiko penularan penyakit yang serius. Dosen Fakultas Peternakan UGM, Rio Olympias Sujarwanto, mengingatkan bahwa daging merupakan media yang sangat mudah terkontaminasi. Kesalahan penanganan, seperti meletakkan daging langsung di tanah atau menggunakan wadah yang tidak aman, dapat meningkatkan jumlah kuman secara drastis.
Kontaminasi bakteri pada daging dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari infeksi saluran pencernaan hingga keracunan makanan. Oleh karena itu, penting untuk selalu menjaga kebersihan alat potong, area penyembelihan, dan wadah penyimpanan daging. Suhu penyimpanan yang tepat juga krusial untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme berbahaya.
Edukasi mengenai praktik kebersihan dan sanitasi yang baik selama proses kurban sangat diperlukan bagi seluruh panitia dan masyarakat. Dengan menerapkan standar higienis yang ketat, risiko penularan penyakit dapat diminimalisir, sehingga daging kurban yang didistribusikan aman dan sehat untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Hal ini sejalan dengan tujuan ibadah kurban itu sendiri, yaitu memberikan manfaat terbaik kepada sesama.
Sumber: AntaraNews