Kebakaran Tambora Hanguskan 14 Rumah dan Konveksi, 64 Jiwa Kehilangan Tempat Tinggal
Musibah Kebakaran Tambora di Jakarta Barat pada Minggu pagi menyebabkan 14 rumah dan satu usaha konveksi ludes, mengakibatkan 64 jiwa dari 14 KK kehilangan tempat tinggal dan kerugian ditaksir Rp1,7 miliar.
Kebakaran hebat melanda kawasan Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat, pada Minggu pagi, 11 Januari 2026. Insiden ini menghanguskan belasan rumah tinggal serta satu bangunan usaha konveksi di Jalan Duri Bangkit. Sebanyak 64 jiwa dari 14 kepala keluarga kini terpaksa kehilangan tempat tinggal akibat musibah tersebut.
Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Barat menerima laporan kejadian pada pukul 04.19 WIB. Petugas segera mengerahkan 21 unit armada pemadam kebakaran beserta 105 personel untuk mengatasi kobaran api. Operasi pemadaman berlangsung intensif hingga api berhasil dipadamkan sepenuhnya pada pukul 09.04 WIB.
Kebakaran yang terjadi di RT 08/RW 09 Jembatan Besi ini menyebabkan kerugian material yang tidak sedikit. Total kerugian akibat peristiwa nahas ini ditaksir mencapai angka Rp1,7 miliar. Warga sekitar sempat berupaya memadamkan api secara mandiri sebelum tim pemadam tiba di lokasi.
Kronologi dan Dampak Kebakaran di Tambora
Kebakaran di Tambora ini bermula pada Minggu dini hari, dengan laporan masuk ke Gulkarmat Jakarta Barat pukul 04.19 WIB. Api dengan cepat membesar, melalap 14 unit rumah tinggal warga serta satu bangunan yang difungsikan sebagai usaha konveksi. Lokasi kejadian berada di area padat penduduk, yakni Jalan Duri Bangkit, RT 08/RW 09 Jembatan Besi.
Kepala Suku Dinas Gulkarmat Jakarta Barat, Suheri, menjelaskan bahwa operasi pemadaman dimulai pukul 04.26 WIB. Tim pemadam bekerja keras selama beberapa jam untuk mengendalikan api. Proses pendinginan dan pemadaman total baru berhasil diselesaikan pada pukul 09.04 WIB.
Dampak langsung dari musibah ini adalah hilangnya tempat tinggal bagi 64 jiwa yang tergabung dalam 14 kepala keluarga. Mereka kini membutuhkan bantuan serta penanganan darurat untuk memenuhi kebutuhan dasar. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta turut mendata kerugian yang terjadi.
Isnawa Adji, Kepala BPBD DKI Jakarta, menyebutkan bahwa total kerugian material akibat kebakaran ini diperkirakan mencapai Rp1,7 miliar. Angka tersebut mencakup kerusakan pada bangunan dan aset yang terbakar. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap bahaya kebakaran di permukiman padat.
Upaya Penanganan dan Respons Cepat Petugas
Melihat kobaran api yang semakin membesar, warga sekitar Jalan Duri Bangkit tidak tinggal diam. Mereka secara swadaya mencoba memadamkan api menggunakan peralatan seadanya. Namun, keterbatasan alat dan cepatnya rambatan api membuat upaya tersebut tidak maksimal.
Laporan cepat dari warga ke Suku Dinas Gulkarmat Jakarta Barat menjadi kunci dalam penanganan lebih lanjut. Respons cepat dari petugas pemadam kebakaran patut diapresiasi. Pengerahan 21 unit armada dan 105 personel menunjukkan keseriusan dalam menanggulangi bencana ini.
Petugas Gulkarmat bekerja secara sistematis untuk melokalisir dan memadamkan api, mencegahnya merembet ke area lain yang lebih luas. Koordinasi yang baik antara tim di lapangan sangat penting dalam situasi darurat seperti ini. Keberhasilan pemadaman dalam beberapa jam menunjukkan efektivitas operasi.
Pihak berwenang, termasuk BPBD DKI Jakarta, kini fokus pada penanganan pasca-bencana. Ini meliputi pendataan korban, penyediaan tempat penampungan sementara, serta distribusi bantuan logistik. Solidaritas masyarakat juga diharapkan dapat membantu para korban untuk bangkit kembali.
Sumber: AntaraNews