Iran Tegaskan Keamanan Selat Hormuz: Untuk Semua atau Tidak Sama Sekali
Duta Besar Iran untuk Moskow, Kazem Jalali, menegaskan bahwa **Keamanan Selat Hormuz** adalah prinsip mutlak, harus berlaku untuk semua atau tidak sama sekali, di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS dan Israel.
Duta Besar Iran untuk Moskow, Kazem Jalali, pada Minggu (15/3) menyatakan sikap tegas negaranya terkait **Keamanan Selat Hormuz**. Jalali menegaskan bahwa jalur perairan strategis tersebut harus aman bagi semua pihak atau tidak akan aman sama sekali. Pernyataan ini disampaikan kepada RIA Novosti di tengah memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Sikap Iran ini selaras dengan pidato Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, pada 12 Maret lalu. Khamenei sebelumnya telah menyerukan agar Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali Teheran sebagai alat tawar-menawar dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Hal ini mengindikasikan bahwa Iran memandang Selat Hormuz sebagai aset penting dalam konflik yang sedang berlangsung.
Ketegangan di sekitar Iran telah meningkat tajam menyusul serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Serangan tersebut menargetkan beberapa lokasi di Iran, termasuk Teheran, yang mengakibatkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Sikap Tegas Iran atas Selat Hormuz
Kazem Jalali menjelaskan bahwa posisi Iran mengenai **Keamanan Selat Hormuz** sangat jelas dan transparan. Ia menekankan bahwa pesan ini telah disampaikan kepada seluruh dunia. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya Selat Hormuz bagi Iran, baik dari segi keamanan maupun strategis.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dalam pidato pertamanya pada 12 Maret, secara eksplisit menyatakan perlunya Selat Hormuz berada di bawah blokade Teheran. Ini menunjukkan bahwa Iran melihat kontrol atas selat ini sebagai leverage signifikan. Terutama dalam menghadapi tekanan dan konflik dengan kekuatan regional serta internasional seperti Amerika Serikat dan Israel.
Ancaman blokade ini bukanlah hal baru dalam retorika Iran, namun kembali mengemuka di tengah eskalasi konflik. Selat Hormuz merupakan choke point vital bagi pengiriman minyak global. Oleh karena itu, setiap ancaman terhadap keamanannya memiliki implikasi serius bagi pasar energi dunia.
Eskalasi Konflik dan Dampaknya
Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mencapai puncaknya pada akhir Februari lalu. Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan ini dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan dan menimbulkan korban di kalangan warga sipil.
Sebagai respons, Iran tidak tinggal diam dan segera melancarkan serangan balasan. Target serangan balasan Iran meliputi wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah. Aksi saling serang ini semakin memperkeruh situasi keamanan regional.
Eskalasi ketegangan di sekitar Iran ini telah memicu blokade de facto terhadap **Selat Hormuz**. Blokade ini secara tidak langsung menghambat jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia. Akibatnya, dampaknya terasa pada tingkat ekspor dan produksi minyak di seluruh kawasan.
Sumber: AntaraNews