Indeks Kualitas Sinetron KPI 2025 Lampaui Standar, Program Infotainment Masih Jadi Sorotan
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengumumkan Indeks Kualitas Sinetron KPI 2025 mencapai 3,05, melampaui standar yang ditetapkan. Namun, program infotainment masih memerlukan perbaikan serius.
Jakarta, 20 November — Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) baru-baru ini mengumumkan hasil positif terkait kualitas program siaran sinetron di Tanah Air. Indeks Kualitas Program Siaran Televisi (IKPSTV) 2025 untuk kategori sinetron tercatat mencapai angka 3,05, yang secara signifikan melampaui nilai standar yang telah ditetapkan, yakni 3,00.
Pencapaian ini menjadi kabar baik bagi industri pertelevisian nasional, mengingat sebelumnya indeks kualitas sinetron kerap berada di bawah standar. Anggota KPI Pusat Bidang Kelembagaan, Amin Shabana, menyampaikan apresiasinya terhadap berbagai upaya lembaga penyiaran dalam meningkatkan mutu tayangan sinetron.
Amin Shabana, dalam keterangan persnya di Jakarta, Jumat, menegaskan bahwa peningkatan ini menunjukkan komitmen lembaga penyiaran. Meskipun demikian, KPI juga menyoroti beberapa aspek lain yang masih membutuhkan perhatian serius, terutama terkait program infotainment.
Peningkatan Kualitas Sinetron dan Daya Tarik Cerita
Kenaikan signifikan pada Indeks Kualitas Sinetron KPI 2025 menjadi bukti nyata bahwa ada perbaikan substansial. Angka 3,05 ini menandakan bahwa sinetron-sinetron yang tayang di televisi telah memenuhi atau bahkan melampaui ekspektasi kualitas yang ditetapkan oleh KPI.
Menurut Amin Shabana, daya tarik utama sinetron Indonesia terletak pada alur cerita yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Para informan ahli yang terlibat dalam penilaian mencatat bahwa relevansi cerita menjadi faktor kunci yang membuat sinetron digemari penonton.
Meskipun Indeks Kualitas Sinetron KPI telah mencapai standar, Amin Shabana menekankan bahwa masih ada ruang untuk perbaikan. Aspek edukasi dan kepatuhan terhadap norma sosial menjadi fokus utama yang perlu ditingkatkan dalam produksi sinetron ke depannya.
Perluasan Penilaian dan Tantangan Program Infotainment
IKPSTV 2025 secara keseluruhan juga mengalami peningkatan, dari 3,22 pada tahun sebelumnya menjadi 3,29. Penilaian Indeks Kualitas Program Siaran Televisi tahun ini dilaksanakan dengan cakupan yang lebih luas dan komprehensif.
KPI bekerja sama dengan 33 KPI Daerah serta melibatkan perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Informan yang terlibat dalam penilaian berasal dari 33 provinsi, jauh lebih banyak dibandingkan penilaian sebelumnya yang hanya mencakup 12 provinsi.
Obyek penilaian IKPSTV 2025 juga diperluas, mencakup 21 stasiun televisi nasional, di antaranya tvOne, ANTV, RCTI, iNews, GTV, MNCTV, RTV, Kompas TV, Metro TV, Indosiar, SCTV, Trans TV, Trans7, MDTV, TVRI, Mentari TV, BTV, CNN Indonesia, JPM, Garuda TV, dan Moji. Namun, dari delapan kategori program siaran yang dinilai, program infotainment masih belum mampu mencapai nilai standar kualitas KPI.
Indeks kualitas untuk kategori program infotainment hanya mencapai 2,68. Angka ini mencerminkan masih adanya isu terkait penghormatan terhadap hak privat, muatan hedonistik, dan kepatuhan terhadap norma yang berlaku di masyarakat dalam tayangan infotainment.
Harapan KPI untuk Program Siaran Berkualitas
Amin Shabana meyakini bahwa hasil IKPSTV tahun 2025 ini lebih komprehensif dan merepresentasikan publik yang lebih luas. Dengan data yang lebih akurat, KPI berharap IKPSTV dapat menjadi pertimbangan penting bagi para pengiklan dalam memilih penempatan produk mereka.
Tujuannya adalah untuk mendukung program-program siaran yang berkualitas dan edukatif. "Jangan sampai, program-program siaran yang baik, justru terkendala lantaran tidak ada dukungan pengiklan, sehingga masyarakat yang terhalang haknya dalam mendapatkan konten-konten berkualitas, edukatif, dan terpercaya," ujar Amin Shabana.
Setelah menyelesaikan penilaian IKPSTV, KPI berencana untuk beraudiensi dengan berbagai instansi dan lembaga pemerintah yang memiliki anggaran iklan besar. "Harapannya, anggaran-anggaran yang dikeluarkan negara juga ikut berkontribusi atas kesinambungan program-program baik di televisi dan radio," tutup Amin Shabana, menekankan pentingnya dukungan finansial untuk konten berkualitas.
Sumber: AntaraNews