Hutan Adat Bangli Giri Upawana: Komitmen Pemkab Jaga Ekosistem dan Air
Pemerintah Kabupaten Bangli, Bali, membangun Hutan Adat Giri Upawana seluas 70 are di Desa Tiga untuk menjaga ekosistem alam dan sumber daya air, sekaligus mendorong desa wisata berbasis komunitas di Bangli.
Pemerintah Kabupaten Bangli, Bali, mengambil langkah proaktif dalam pelestarian lingkungan dengan membangun hutan adat. Hutan adat seluas 70 are atau 7.000 meter persegi ini berlokasi di Desa Tiga, Kecamatan Susut. Inisiatif ini bertujuan utama untuk menjaga ekosistem alam serta keberlanjutan sumber daya air di wilayah tersebut.
Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, menegaskan pentingnya peran serta masyarakat dalam upaya konservasi ini. “Kuncinya adalah masyarakat harus menjadi pelaku utama menjaga kelestarian hutan adat,” ujar Bupati di Bangli, Bali. Penanaman berbagai jenis pohon telah dimulai di Banjar Linjong dengan kampanye #LangkahKecilDampakBesar.
Hutan adat yang diberi nama Giri Upawana ini diharapkan dapat menjadi daerah resapan air vital di hulu. Nama Giri Upawana sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti hutan pegunungan. Selain itu, kawasan ini juga diproyeksikan sebagai laboratorium alam untuk edukasi keanekaragaman hayati bagi generasi muda.
Konservasi Ekosistem dan Sumber Daya Air di Hutan Adat Bangli
Pembangunan Hutan Adat Giri Upawana menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian lingkungan di Bangli. Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru hijau baru, tetapi juga sebagai area konservasi flora lokal yang memiliki nilai ritual penting bagi masyarakat Hindu di Bali. Komitmen ini sejalan dengan konsep Wana Kerthi, yaitu memuliakan hutan sebagai area suci yang harus dijaga keseimbangannya.
Penanaman pohon di wilayah hulu sangat krusial untuk menjaga daerah resapan air. Mengingat Bangli merupakan salah satu sumber air utama di Pulau Dewata, dengan 88 titik mata air di 42 desa yang memiliki debit mencapai 1.534,30 liter per detik. Keberadaan hutan adat ini diharapkan dapat mengoptimalkan fungsi hidrologis tersebut, memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Peran aktif warga Banjar Linjong dalam pengelolaan dan pengawasan hutan adat sangat ditekankan oleh Pemerintah Kabupaten Bangli. Partisipasi komunitas lokal adalah kunci keberhasilan program ini dalam jangka panjang. Hutan adat ini diharapkan menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Bangli untuk mitigasi perubahan iklim secara lokal.
Hutan Adat Giri Upawana sebagai Penggerak Desa Wisata Berbasis Komunitas
Selain fungsi konservasi, Hutan Adat Giri Upawana juga memiliki potensi besar sebagai daya tarik desa wisata. Bupati Sang Nyoman Sedana Arta menyatakan komitmen penuh untuk menjadikan Linjong sebagai desa wisata ikonik berbasis komunitas. Konsep ini bertujuan untuk menyinergikan konservasi hutan adat dengan peningkatan ekonomi masyarakat lokal.
Pengembangan desa wisata ini didasari sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan investasi yang bertanggung jawab. Menurut Pemkab Bangli, inisiatif ini merupakan “langkah kecil dampak besar” bagi kesejahteraan warga sekaligus pelestarian lingkungan. Melalui konsep berbasis komunitas, diharapkan Linjong akan menjadi destinasi wisata berkelanjutan.
Ketua Panitia Kelompok Sadar Wisata Kencana Loka Desa Adat Linjong, Made Win, menjelaskan bahwa semangat gotong royong warga adalah modal utama. “Kami mengelola 70 are lahan hutan adat sebagai daya tarik wisata unik,” ujarnya. Fokus utama adalah melibatkan seluruh warga agar manfaat ekonomi dari pariwisata dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat Linjong.
Potensi Sumber Daya Air dan Dampak Lingkungan
Data dari Statistik Daerah Bangli Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bangli 2024 menunjukkan bahwa Bangli merupakan salah satu sumber air di Pulau Dewata. Kabupaten ini memiliki potensi mata air mencapai 88 titik di 42 desa. Total debit air dari mata air tersebut mencapai 1.534,30 liter per detik. Keberadaan Hutan Adat Giri Upawana sangat vital dalam menjaga keberlanjutan pasokan air ini, sekaligus berkontribusi pada mitigasi dampak perubahan iklim di tingkat lokal.
Sumber: AntaraNews