Hasan Nasbi Sebut Makan Gorengan Picu Hutan Gundul, Jebolan Matematika ITB Bongkar Data Aslinya
Hasan menilai permintaan tinggi terhadap produk tersebut mendorong pembukaan lahan yang berujung pada penebangan hutan.
Pernyataan Mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, yang menyebut kebiasaan masyarakat mengonsumsi kopi hingga gorengan dapat memicu deforestasi, menuai polemik. Hasan menilai permintaan tinggi terhadap produk tersebut mendorong pembukaan lahan yang berujung pada penebangan hutan.
"Jangan main pukul rata. Hancur ekonomi kita. Tapi bahwa lingkungan harus dijaga bener," ujar Hasan dalam pernyataannya yang viral baru-baru ini.
Narasi yang seolah menyalahkan pola konsumsi rakyat kecil ini langsung mendapat tanggapan cerdas dari Alfin Hijriah. Kreator konten edukasi sekaligus alumni Magister Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB) ini membedah klaim tersebut menggunakan data matematika untuk membuktikan: benarkah hobi makan gorengan rakyat yang bikin hutan gundul?
Hitungan Matematika, Konsumsi Rakyat Hanya Butuh Lahan Kecil
Melalui akun TikTok @aliftowew, Alif mengajak publik berhitung menggunakan dua variable, konsumsi minyak goreng dan produksi minyak goreng nasional.
"Konsumsi minyak goreng adalah 9,5 kilogram per tahun per orang. Dan populasi di Indonesia 278 juta. Berarti total konsumsi minyak goreng ini sekitar 2,6 juta ton per tahun," papar Alif.
Ia kemudian membandingkannya dengan produktivitas lahan sawit. Dengan luas lahan sawit Indonesia yang mencapai 16 juta hektare dan produksi CPO sekitar 50 juta ton, produktivitas rata-rata adalah 3,14 ton per hektare.
"Jika kita melihat luas lahan kelapa sawit yang dibutuhkan (untuk gorengan rakyat), berarti konsumsi nasional dibagi produktivitas. Berarti sekitar 847.000 hektare," hitung Alif.
16 juta hektare lahan sawit
Fakta ini menohok, dari 16 juta hektare lahan sawit yang ada, rakyat sebenarnya hanya membutuhkan 847.000 hektare untuk kebutuhan gorengan mereka. Itu artinya, ketersediaan lahan saat ini 19 kali lipat lebih besar dari kebutuhan perut rakyat.
"Jadi pernyataan menyalahkan mereka yang mengonsumsi makanan goreng itu tidak sepenuhnya benar ya. Karena kebutuhan minyak sawit (rakyat) hanya 850 ribu hektare," tegasnya.
Jika rakyat hanya butuh sedikit, lantas untuk apa sisa lahan belasan juta hektare lainnya? Alif memaparkan data GAPKI bahwa total kebutuhan dalam negeri (termasuk biodiesel dan oleokimia) adalah 22,2 juta ton, yang setara dengan 7 juta hektare lahan.
"Namun luas lahan sawit kita saat ini 16 juta hektare. Artinya ada kelebihan 9 juta hektare. Sepertinya ini memenuhi kebutuhan ekspor," ungkapnya.
Masalah di Kebijakan, Bukan di Piring Rakyat
Alif menyimpulkan bahwa kerusakan hutan atau deforestasi lebih disebabkan oleh kebijakan tata kelola yang tidak merata, bukan karena rakyat hobi makan gorengan. Ia menyoroti beberapa provinsi seperti Riau, Sumatera Selatan, dan Lampung yang luas hutannya sudah di bawah ambang batas undang-undang (30%).
"Jadi sebenarnya menyalahkan orang yang makan makanan goreng tidak sepenuhnya benar, karena akar masalahnya berasal dari kebijakan yang kurang tepat. Maksudnya, kenapa di daerah yang hutannya hampir atau kurang dari 30 persen, masih ada yang bisa membuka lahan hutan?" kata Alif.
Reporter magang : Muhammad Naufal Syafrie