Gunung Semeru Erupsi 11 Kali Pagi Ini, Kolom Letusan Capai 1.200 Meter
Gunung Semeru kembali erupsi sebanyak 11 kali pada Minggu pagi, dengan tinggi letusan mencapai 1.200 meter. Warga diimbau untuk waspada terhadap aktivitas Gunung Semeru Erupsi.
Gunung Semeru yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Minggu pagi, 15 Maret. Tercatat, gunung berapi ini mengalami erupsi sebanyak 11 kali dengan tinggi letusan yang bervariasi. Aktivitas ini memicu kewaspadaan bagi masyarakat sekitar dan otoritas terkait.
Erupsi paling signifikan terjadi pada pukul 05.47 WIB, di mana kolom letusan terpantau mencapai ketinggian 1.200 meter di atas puncak. Ketinggian ini setara dengan 4.876 meter di atas permukaan laut (mdpl), menunjukkan intensitas letusan yang cukup besar. Visual abu letusan berwarna putih hingga kelabu teramati bergerak ke arah selatan.
Menyikapi serangkaian erupsi ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menetapkan status Gunung Semeru pada Level III atau Siaga. PVMBG, sebagai salah satu unit di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat untuk menjaga keselamatan dan memitigasi risiko bencana.
Kronologi Erupsi Gunung Semeru Pagi Ini
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru dimulai sejak dini hari, dengan erupsi pertama tercatat pada pukul 00.20 WIB. Meskipun visual letusan pada waktu tersebut tidak teramati, aktivitas seismik menunjukkan adanya letusan yang berlangsung. Beberapa erupsi berikutnya juga tidak selalu terlihat secara visual, namun terekam oleh peralatan pemantauan.
Puncak erupsi terjadi pada pukul 05.47 WIB, di mana kolom abu teramati jelas mencapai 1.200 meter di atas puncak. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, dalam laporan tertulisnya menyatakan, "Terjadi erupsi pukul 05.47 WIB dengan tinggi kolom letusan mencapai 1.200 meter di atas puncak atau 4.876 meter di atas permukaan laut (mdpl)." Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang bergerak ke arah selatan. Pada saat laporan ini dibuat, erupsi masih terus berlangsung.
Erupsi ke-11 kemudian terjadi pada pukul 06.32 WIB, dengan tinggi kolom abu mencapai 1.000 meter di atas puncak atau 4.676 mdpl. Kolom abu pada erupsi ini teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, bergerak dominan ke arah timur dan tenggara. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sekitar 133 detik, memberikan data penting bagi analisis aktivitas gunung.
Data seismograf tersebut menjadi indikator kuat bahwa aktivitas di dalam kawah Gunung Semeru masih sangat aktif. Pemantauan terus dilakukan oleh petugas di lapangan untuk mengantisipasi perkembangan situasi lebih lanjut dan memberikan informasi terkini kepada publik. Masyarakat di sekitar lereng Semeru diimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pihak berwenang.
Status Siaga dan Rekomendasi PVMBG untuk Gunung Semeru
Mengingat peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menaikkan status Gunung Semeru menjadi Level III atau Siaga. Status ini mengindikasikan bahwa potensi bahaya erupsi masih tinggi dan memerlukan kewaspadaan ekstra dari seluruh pihak. Keputusan ini diambil berdasarkan data pemantauan yang komprehensif.
PVMBG mengeluarkan sejumlah rekomendasi krusial untuk keselamatan masyarakat. Pertama, masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, dalam radius 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi). Zona ini merupakan jalur utama potensi aliran awan panas dan guguran material vulkanik.
Selain itu, masyarakat juga tidak diperbolehkan beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan. Larangan ini diberlakukan karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar dapat mencapai hingga jarak 17 kilometer dari puncak. Kewaspadaan di area sungai sangat penting mengingat sifat lahar yang merusak.
Rekomendasi lain yang tak kalah penting adalah larangan beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Area ini sangat rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Oleh karena itu, masyarakat di sekitar lereng gunung diminta untuk mematuhi zona larangan ini demi keamanan.
Masyarakat juga perlu mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Secara spesifik, area yang harus diwaspadai meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Potensi lahar juga mengancam sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan, sehingga pemantauan terus dilakukan.
Sumber: AntaraNews