Pagi Ini, Gunung Semeru Erupsi 9 Kali Berturut-turut Tinggi Letusan Capai 1.000 Meter
Gunung Semeru kembali aktif dengan menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup signifikan pada pagi hari, tepatnya pada Sabtu, 4 April 2026.
Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang sangat signifikan. Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini tercatat mengalami sembilan erupsi berturut-turut pada pagi hari Sabtu (4/4), dengan tinggi kolom abu mencapai 1.000 meter di atas puncak.
Rangkaian erupsi ini menimbulkan kewaspadaan yang tinggi bagi masyarakat di sekitar perbatasan Lumajang dan Malang. Berdasarkan laporan dari Pos Pengamatan Gunung Semeru, aktivitas seismik saat ini didominasi oleh gempa letusan yang terjadi secara berkala sejak dini hari. Rentetan aktivitas vulkanik ini dimulai sesaat setelah pergantian hari dan terus berlangsung hingga pagi hari.
Pada pukul 00.07 WIB, erupsi pembuka terjadi dengan kolom abu setinggi 700 meter yang mengarah ke selatan. Selanjutnya, pada pukul 05.19 WIB, terjadi letusan terbesar dengan tinggi kolom abu mencapai 1.000 meter di atas puncak (sekitar 4.676 mdpl).
"Pada pukul 06.22 WIB, erupsi kesembilan terekam dengan amplitudo maksimum 22 mm selama 141 detik, melontarkan abu tebal ke arah barat," ungkap Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, pada Sabtu (4/4).
Secara keseluruhan, lanjutnya, dalam periode enam jam saja (00.00-06.00 WIB), seismograf mencatat telah terjadi 17 kali gempa letusan dengan durasi berkisar antara 56 hingga 112 detik.
PVMBG Keluarkan Instruksi Tegas
Mengingat status Gunung Semeru yang masih berada pada Level III, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan instruksi yang tegas untuk masyarakat dan wisatawan. "Dilarang keras melakukan aktivitas apapun dalam radius 13 kilometer dari pusat erupsi di sektor Tenggara," ujar Liswanto.
"Di samping itu, masyarakat harus mematuhi jarak aman 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena risiko perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer. Pada radius 5 kilometer dari kawah, area tersebut harus dikosongkan sepenuhnya untuk menghindari bahaya lontaran batu pijar," lanjutnya.
Liswanto juga mengingatkan agar warga tidak hanya fokus pada erupsi yang terjadi di puncak, karena ancaman juga bisa datang dari bawah.
"Masyarakat perlu waspada terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berasal dari puncak, terutama di Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat," jelasnya.
"Pemerintah daerah meminta warga untuk tetap tenang tetapi selalu siaga dan mengikuti arahan dari petugas BPBD setempat, mengingat kondisi cuaca yang dapat memicu terjadinya lahar dingin di anak-anak sungai Besuk Kobokan," tutup Liswanto.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5419163/original/094434300_1763641369-Infografis_Semeru_CMS.jpg)