Erupsi Gunung Semeru Tujuh Kali pada Jumat Pagi, PVMBG Tetapkan Status Siaga
Gunung Semeru erupsi sebanyak tujuh kali pada Jumat pagi, 20 Februari 2026, dengan tinggi letusan mencapai 1 kilometer. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status Siaga dan mengeluarkan rekomendasi penting bagi masyarakat di.
Gunung Semeru, yang menjulang di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, dilaporkan mengalami tujuh kali erupsi pada Jumat pagi, 20 Februari 2026. Letusan-letusan ini memuntahkan kolom abu setinggi 500 meter hingga 1 kilometer di atas puncak. Aktivitas vulkanik ini menjadi perhatian serius bagi warga sekitar dan pihak berwenang.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, mengonfirmasi serangkaian erupsi tersebut dalam laporan tertulisnya kepada publik. Erupsi pertama tercatat pada pukul 00.14 WIB, menandai dimulainya rentetan aktivitas vulkanik yang intens. Laporan ini menekankan pentingnya kewaspadaan di tengah peningkatan aktivitas gunung api.
Dengan status Level III (Siaga) yang ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), masyarakat diimbau untuk mematuhi rekomendasi keselamatan. Langkah-langkah pencegahan ini bertujuan untuk meminimalkan risiko dampak erupsi. Keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam menghadapi kondisi ini.
Detail Erupsi Gunung Semeru Pagi Hari
Serangkaian erupsi Gunung Semeru dimulai pada Jumat dini hari, dengan letusan pertama terjadi pukul 00.14 WIB. Kolom letusan teramati sekitar 700 meter di atas puncak, dengan abu berwarna putih hingga kelabu bergerak ke arah utara. Erupsi ini berlangsung cukup lama saat laporan awal dibuat.
Aktivitas vulkanik berlanjut dengan erupsi kedua pada pukul 00.24 WIB, juga dengan tinggi kolom letusan sekitar 700 meter di atas puncak. Kolom abu kembali terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang, bergerak menuju utara. Pola erupsi yang berulang menunjukkan peningkatan aktivitas internal gunung.
Erupsi ketiga dan keempat terjadi berurutan pada pukul 05.18 WIB dan 05.23 WIB, meskipun visual letusan tidak teramati secara jelas. Namun, aktivitas seismik menunjukkan adanya letusan yang masih berlangsung pada waktu tersebut. Ini menunjukkan bahwa gunung terus melepaskan energi dari dalam.
Gunung Semeru kembali erupsi pada pukul 05.56 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 500 meter di atas puncak, diikuti erupsi pada pukul 05.48 WIB yang mencapai 1 kilometer. Erupsi terakhir yang dilaporkan terjadi pukul 07.15 WIB, memuntahkan kolom abu setinggi 900 meter ke arah utara dan timur laut. Erupsi ini terekam dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 125 detik pada seismograf.
Rekomendasi Keselamatan dari PVMBG
Mengingat status Level III (Siaga) Gunung Semeru, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan beberapa rekomendasi penting. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, dalam jarak 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi). Zona ini sangat berbahaya karena potensi dampak langsung dari erupsi.
Selain itu, masyarakat juga tidak diperbolehkan beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan. Area ini berisiko tinggi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar, yang dapat mencapai hingga 17 kilometer dari puncak. Kepatuhan terhadap larangan ini sangat krusial untuk menghindari korban jiwa.
Larangan beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru juga diberlakukan karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar). Bahaya ini bisa sangat mematikan dan tidak terduga, sehingga area tersebut harus steril dari keberadaan manusia. PVMBG secara ketat memantau area ini.
Masyarakat diimbau untuk selalu mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Area-area seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta anak sungai dari Besuk Kobokan, memerlukan kewaspadaan ekstra. Kesiapsiagaan adalah kunci dalam menghadapi ancaman bencana alam ini.
Sumber: AntaraNews