Gunung Salak Hampir Gundul, Air yang Dulu Jernih Kini Cepat Keruh!
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, berencana untuk menyelidiki dugaan kerusakan lahan yang terjadi di kaki Gunung Salak.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, berencana untuk menindaklanjuti laporan mengenai perusakan lahan yang terjadi di kaki Gunung Salak, khususnya di Blok Cangkuang, Desa Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dalam upaya mengatasi masalah ini, Faisol mengundang Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk bekerja sama.
"Kita akan segera tangani karena memang tenaga kita harus searah dengan Provinsi," ujarnya saat melakukan peninjauan di lokasi Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Cimenteng pada Kamis (31/7).
Faisol juga menegaskan bahwa perusakan lingkungan di kawasan pegunungan yang menjadi destinasi wisata bukan hanya terjadi di Sukabumi saja. Ia berkomitmen untuk mengambil tindakan tegas terhadap pelaku yang merusak Gunung Salak.
"Pelan-pelan kita akan tegakkan," tambahnya, menunjukkan keseriusannya dalam menjaga kelestarian lingkungan di daerah tersebut.
Dedi Mulyadi Tindak Tegas
Sejalan dengan pernyataan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat, Herman Suryatman, menegaskan bahwa mereka akan segera melakukan pemeriksaan di lokasi yang dimaksud. Herman menegaskan bahwa Dedi Mulyadi tidak akan memberikan toleransi terhadap pelanggaran yang dapat merusak ekosistem lingkungan.
"Pak Gubernur sangat tegas dalam memastikan kelestarian lingkungan, termasuk pengendalian alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan aturan," ungkapnya.
Jika ditemukan adanya pelanggaran, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan menerapkan sanksi baik administratif maupun pidana. "Apabila pelanggarannya termasuk dalam kategori administratif, kami akan memberikan sanksi administratif yang tegas. Namun, untuk pelanggaran yang bersifat pidana, itu akan menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum," jelasnya.
Untuk memastikan penanganan yang cepat dan efektif, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kehutanan telah diberikan instruksi untuk melakukan pemeriksaan langsung di lapangan.
Keluhan Warga Gunung Salak
Warga Desa Cidahu telah merasakan kecemasan yang mendalam terkait potensi bencana ekologis akibat praktik pembalakan liar yang berlangsung selama dua tahun terakhir.
Kerusakan hutan di Blok Cangkuang, yang ditandai dengan penebangan besar-besaran terhadap pohon-pohon bernilai tinggi seperti Manggong, Damar, Jengjeng, Pasah, Saninten, dan Puspa, telah mengakibatkan sekitar setengah dari luas 70 hektare hutan menjadi gundul. Akibatnya, debit air bersih mengalami penurunan yang signifikan dan kualitas air pun semakin memburuk.
"Air yang dulu jernih, sekarang cepat keruh walau hanya hujan ringan. Kolam-kolam penampungan yang biasanya penuh, kini hanya terisi setengah," ungkap Rohadi (75), seorang tokoh masyarakat setempat. Puncak dari kerusakan ini terlihat pada bencana banjir bandang yang melanda Pondokaso pada bulan Oktober 2022.
Peristiwa tersebut disebabkan oleh meluapnya Sungai Cibojong yang membawa lumpur dan ranting, yang kemudian merusak permukiman warga. Dalam situasi yang semakin mengkhawatirkan ini, masyarakat berharap agar pemerintah baik pusat maupun daerah segera mengambil tindakan untuk menangani kerusakan yang terjadi di Gunung Salak.