Fadli Zon Tegaskan Peran Sastra Penopang Peradaban Bangsa: Trivia Puisi dari Pujangga Lama hingga Angkatan 66
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan **peran sastra** sebagai pilar penting peradaban bangsa, mendorong internasionalisasi dan penguatan ekosistem sastra nasional. Apa saja upaya yang dilakukan?
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon secara tegas menyatakan bahwa sastra memegang peranan krusial dalam menopang peradaban bangsa Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam acara "Malam Dzikir Puisi" yang diselenggarakan oleh Teater Sastra dan Alumni UI Lintas Generasi di Universitas Indonesia, Depok, pada Sabtu (23/8).
Menurut Fadli Zon, sastra adalah bagian integral dari kehidupan bangsa, terutama puisi yang telah merekam perjalanan panjang sejarah Indonesia. Ia menyoroti evolusi sastra dari era Pujangga Lama, Pujangga Baru, Balai Pustaka, Angkatan 45, hingga Angkatan 66, menunjukkan bagaimana puisi menjadi cerminan zaman.
Kegiatan "Malam Dzikir Puisi" ini dinilai sangat relevan dan penting, khususnya di tengah suasana peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Hal ini menjadi momentum untuk mensyukuri kekokohan bangsa yang berdiri tegak dengan keberagaman budaya sebagai pemersatu dan perekat.
Sastra: Cerminan Sejarah dan Kekuatan Bangsa
Fadli Zon menggarisbawahi bahwa sastra, khususnya puisi, bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah cermin yang merefleksikan perjalanan dan perkembangan suatu bangsa. Dari masa ke masa, para sastrawan telah mengabadikan berbagai peristiwa, pemikiran, dan perasaan yang membentuk identitas kolektif.
Ia mencontohkan bagaimana berbagai angkatan sastra di Indonesia, mulai dari era Pujangga Lama hingga Angkatan 66, telah memberikan kontribusi signifikan dalam membentuk narasi kebangsaan. Karya-karya mereka tidak hanya memperkaya khazanah budaya, tetapi juga menjadi saksi bisu dinamika sosial dan politik yang terjadi.
Keberadaan sastra yang kuat dan beragam menjadi indikator kematangan peradaban suatu bangsa. Fadli Zon meyakini bahwa dengan menjaga dan mengembangkan sastra, Indonesia dapat terus memperkuat fondasi kebudayaannya dan mempertahankan jati diri di tengah arus globalisasi.
Mendorong Internasionalisasi dan Ekosistem Sastra Nasional
Kementerian Kebudayaan saat ini memiliki program ambisius untuk memperkuat ekosistem sastra nasional dan mendorong internasionalisasi sastra Indonesia. Tujuan utamanya adalah agar karya-karya sastra Indonesia dapat diapresiasi dan dinikmati secara luas oleh audiens internasional.
Salah satu upaya konkret yang dilakukan adalah penyelenggaraan "Sasana Sastra: Membaca 80 Tahun Indonesia". Acara ini dijadwalkan pada 22 Agustus 2025 di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen Kementerian Kebudayaan untuk memajukan sastra Indonesia di kancah global.
Fadli Zon menegaskan pentingnya karya sastra Indonesia untuk lebih dikenal dan dinikmati oleh publik dunia, tidak hanya di dalam negeri. Selain itu, upaya menghidupkan ekosistem sastra di dalam negeri juga menjadi prioritas utama, termasuk di dalamnya pengembangan dan apresiasi terhadap puisi.
"Malam Dzikir Puisi": Ruang Perenungan dan Perekat Bangsa
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia, Mahmud Subandriyo, menjelaskan bahwa "Malam Dzikir Puisi" diselenggarakan sebagai ruang perenungan bersama. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, masyarakat diingatkan untuk tidak melupakan sandaran pada kekuatan Ilahi.
Acara ini menegaskan kembali peran puisi sebagai sarana untuk membangun peradaban. Puisi, menurut Mahmud, memiliki kekuatan untuk menghubungkan zikir kepada Sang Pencipta dan menumbuhkan cinta kepada bangsa.
"Malam Dzikir Puisi" menampilkan pembacaan puisi oleh sejumlah tokoh alumni Universitas Indonesia dari berbagai angkatan, mulai dari tahun 1970-an hingga kini. Beberapa di antaranya adalah Sayuti Asyathrie, Linda Djalil, Yahya Andisaputra, Ali Sonhadj, Ishak Rafick, Neno Warisman, I. Yudhi Soenarto, dan Indrajaya Piliang. Selain itu, acara ini juga dimeriahkan oleh musikalisasi puisi dari kelompok musik seperti Mawar Merah Putih Indonesia, Swara SeadaNya, D'Yello, dan Ahmad Munjid, bersama para mahasiswa Universitas Indonesia.
Sumber: AntaraNews