Menteri Fadli Zon: Peran Sastra Pilar Peradaban Bangsa, Mengenang 80 Tahun Kemerdekaan RI Lewat Puisi

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan peran sastra sebagai pilar peradaban bangsa. Simak bagaimana sastra, khususnya puisi, merangkum perjalanan 80 tahun kemerdekaan Indonesia.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menteri Fadli Zon: Peran Sastra Pilar Peradaban Bangsa, Mengenang 80 Tahun Kemerdekaan RI Lewat Puisi
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan **peran sastra** sebagai pilar penting peradaban bangsa, mendorong internasionalisasi dan penguatan ekosistem sastra nasional. Apa saja upaya yang dilakukan? (Merdeka.com)

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, baru-baru ini menegaskan bahwa sastra memegang peranan vital sebagai pilar utama dalam mendukung pembangunan peradaban bangsa Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah keterangan resmi di Jakarta pada Minggu (24/8), menekankan betapa sastra telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan Fadli Zon saat menghadiri acara "Malam Dzikir Puisi" yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Sastra dan Teater Lintas Generasi Universitas Indonesia (UI) di Depok pada Sabtu (23/8). Acara ini menjadi momentum penting, khususnya di tengah peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, untuk merenungkan kembali kontribusi sastra.

Melalui berbagai era, mulai dari Pujangga Lama, Pujangga Baru, Balai Pustaka, Angkatan '45, hingga Angkatan '66, puisi dan karya sastra lainnya telah merekam perjalanan panjang bangsa. Hal ini menunjukkan bagaimana sastra bukan hanya hiburan, melainkan juga cerminan sejarah dan identitas nasional yang terus berkembang.

Sastra sebagai Jembatan Sejarah dan Pemersatu Bangsa

Fadli Zon menyoroti bagaimana sastra, khususnya puisi, telah berhasil menangkap esensi perjalanan Indonesia dari masa ke masa. Karya-karya sastra ini tidak hanya berfungsi sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai medium untuk memahami perubahan sosial dan budaya yang membentuk identitas bangsa.

Keberagaman budaya Indonesia, yang menjadi landasan persatuan dan ketahanan bangsa, patut disyukuri. Sastra mampu merangkum kekayaan ini, menjadikannya kekuatan pemersatu yang tak lekang oleh waktu. Ini adalah bukti bahwa sastra memiliki kapasitas untuk melampaui batas-batas perbedaan dan menyatukan berbagai elemen masyarakat.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia, Mahmud Subandriyo, juga menambahkan bahwa "Malam Dzikir Puisi" adalah ruang refleksi kolektif. Ia mengingatkan pentingnya mencari kekuatan ilahi di tengah tantangan bangsa, menekankan bahwa puisi dapat menghubungkan ingatan kepada Sang Pencipta dengan cinta tanah air.

Upaya Internasionalisasi dan Penguatan Ekosistem Sastra Nasional

Kementerian Kebudayaan, menurut Fadli Zon, memiliki berbagai program strategis yang bertujuan untuk memperkuat ekosistem sastra nasional. Selain itu, kementerian juga berupaya keras untuk mempromosikan sastra Indonesia di kancah internasional, agar karya-karya anak bangsa dapat dinikmati oleh audiens global.

Salah satu inisiatif penting adalah acara "Sasana Sastra: Membaca 80 Tahun Indonesia" yang diselenggarakan pada 22 Agustus 2025 di Teater Utama, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Acara ini merupakan bagian dari komitmen kementerian untuk memajukan sastra Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri.

Fadli Zon menyatakan harapannya agar karya sastra Indonesia semakin dikenal dan dihargai di tingkat internasional, bukan hanya di tanah air. Namun, ia juga menekankan pentingnya membina ekosistem sastra domestik, termasuk puisi, agar terus berkembang dan melahirkan karya-karya berkualitas.

"Malam Dzikir Puisi": Refleksi Lintas Generasi

Acara "Malam Dzikir Puisi" menampilkan pembacaan puisi oleh para alumni terkemuka Universitas Indonesia dari lima dekade berbeda, mulai dari tahun 1970-an hingga saat ini. Kehadiran mereka menunjukkan kesinambungan dan regenerasi dalam dunia sastra Indonesia.

Para penampil yang turut memeriahkan acara ini antara lain Sayuti Asyathrie, Linda Djalil, Yahya Andisaputra, Ali Sonhadj, Ishak Rafick, Neno Warisman, I. Yudhi Soenarto, dan Indrajaya Piliang. Keberagaman latar belakang mereka menambah kekayaan interpretasi puisi yang ditampilkan.

Selain pembacaan puisi, acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan musikalisasi puisi dari berbagai grup seperti Mawar Merah Putih Indonesia, Swara SeadaNya, D'Yello, dan Ahmad Munjid. Mahasiswa Universitas Indonesia juga turut berpartisipasi, menunjukkan antusiasme generasi muda terhadap sastra.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi