Seorang mahasiswa S2 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM), Sunita Diah Putri, memilih Novel Bersampul Batik karya Muhammad Hairul sebagai objek kajian mendalam untuk penelitiannya. Putri tertarik untuk mengupas agensi perempuan dan mekanisme pertahanan diri di tengah tekanan struktur sosial tradisional melalui novel tersebut.
Penelitian ini berlokasi di Bondowoso, Jawa Timur, di mana Putri menyampaikan alasannya memilih karya seorang penggerak literasi nasional tersebut. Ia menjelaskan bahwa Novel Bersampul Batik memiliki kekuatan pada "suara batin" yang sangat pekat, menjadikannya pilihan selektif bagi mahasiswa pascasarjana.
Melalui pendekatan psikokritisisme, Putri berencana membedah kompleksitas batin tokoh utama, Aida, yang menegosiasikan lukanya di tengah tuntutan tradisi yang sakral. Kajian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman baru tentang perjuangan psikologis perempuan dalam menghadapi norma sosial.
Advertisement
Advertisement
Putri menegaskan bahwa Novel Bersampul Batik menonjol karena keberanian penulisnya mengeksplorasi area abu-abu, berbeda dengan sastra pesantren kebanyakan yang fokus pada romantisme atau moralitas hitam-putih. Kompleksitas batin tokoh Aida, yang tetap merdeka di dalam meskipun patuh di luar, menjadi daya tarik utama untuk dibedah secara saintifik di level S2.
Pendekatan psikokritisisme dipilih karena dinilai paling mampu membedah anatomi pertahanan diri Aida secara mendalam. Putri tertarik pada bagaimana trauma dan represi yang dialami Aida tidak berakhir pada gangguan jiwa klinis, melainkan bertransformasi menjadi energi kreatif.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk masuk ke dalam labirin pikiran tokoh, mencari jawaban mengapa Aida memilih patuh secara eksternal namun tetap mempertahankan kemerdekaan batinnya. Hal ini memberikan perspektif unik terhadap respons psikologis terhadap tekanan sosial.
Advertisement
Advertisement
Salah satu fokus utama dalam Kajian Novel Bersampul Batik ini adalah konsep sublimasi, yang merupakan bagian inti dari penelitian Putri. Sublimasi didefinisikan sebagai mekanisme pertahanan ego yang paling tinggi, di mana dorongan atau emosi yang tidak dapat diterima diubah menjadi bentuk yang lebih dapat diterima secara sosial atau kreatif.
Tokoh Aida dalam novel mengalami represi hebat, seperti dilarang mencintai Mahiru dan dipaksa menikah. Alih-alih melakukan pemberontakan fisik yang destruktif, ia menyublimasikan rasa sakitnya ke dalam tindakan kreatif.
Tindakan menyampul buku dengan batik dan menulis menjadi manifestasi dari sublimasi tersebut. Putri menjelaskan bahwa batik bukan sekadar hiasan, melainkan "perban yang indah untuk menutupi eksistensi diri yang hancur." Menulis bagi Aida adalah katarsis, sebuah ruang di mana ia tetap menjadi subjek yang berdaulat.
Advertisement
Advertisement
Melalui kajiannya terhadap Novel Bersampul Batik, Putri ingin menyampaikan pesan akademik penting kepada pembaca, khususnya sesama perempuan. Ia ingin menunjukkan bahwa agensi perempuan itu multifaset dan tidak selalu terwujud dalam bentuk perlawanan terbuka.
Seringkali perempuan dianggap lemah ketika mereka diam atau patuh pada tradisi. Namun, Putri berupaya membuktikan bahwa di balik kepatuhan tersebut, ada perjuangan psikologis yang luar biasa hebat.
Menurutnya, ketika perempuan memilih diam, itu bukan berarti kalah. Terkadang, diam adalah cara perempuan menjaga benteng terakhir identitas mereka melalui literasi dan kreativitas. Kajian ini membuktikan bahwa karya sastra bukan sekadar hiburan, melainkan laboratorium psikologi yang kaya, mampu menangkap nuansa kesehatan mental yang luput dari pengamatan medis.
Advertisement
Sumber: AntaraNews