Dubes Tegaskan Konsistensi Bantuan Kemanusiaan UAE di Sudan untuk Atasi Krisis
Duta Besar UAE Abdulla Salem Al Dhaheri menegaskan komitmen negaranya dalam menyalurkan Bantuan Kemanusiaan UAE di Sudan serta mendorong gencatan senjata dan solusi damai.
Duta Besar Uni Emirat Arab (UAE) untuk Indonesia, Abdulla Salem Al Dhaheri, menegaskan komitmen negaranya dalam merespons krisis di Sudan. Ia menyatakan UAE konsisten mendukung upaya kemanusiaan serta mencari solusi damai bagi rakyat Sudan yang terdampak konflik.
Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah jumpa pers yang berlangsung di Jakarta pada Jumat (5/12) malam. Fokus utama UAE adalah mencapai gencatan senjata segera dan transisi kepemimpinan sipil yang stabil di Sudan.
Al Dhaheri juga menyoroti pentingnya penanganan krisis kemanusiaan melalui penyediaan bantuan mendesak. UAE berupaya bekerja sama dengan mitra regional dan internasional untuk mengatasi situasi sulit ini secara komprehensif.
Komitmen Gencatan Senjata dan Transisi Sipil
Dubes Al Dhaheri menekankan bahwa prioritas utama UAE adalah tercapainya gencatan senjata kemanusiaan secepat mungkin. Ini bertujuan untuk menghentikan konflik yang berkepanjangan antara pihak-pihak yang bertikai di Sudan.
Selain itu, UAE mendorong solusi damai melalui transisi yang dipimpin oleh warga sipil. Ini dianggap sebagai jalan terbaik untuk memastikan stabilitas dan pembangunan berkelanjutan bagi Sudan di masa depan.
UAE juga mengecam keras pelanggaran yang terus dilakukan oleh kedua belah pihak terhadap rakyat Sudan. Perang saudara ini telah menghancurkan negara dan menyebabkan penderitaan yang meluas di berbagai wilayah.
"UEA, begitu pula komunitas internasional, tidak setuju dan tidak akan setuju dengan apa yang terjadi di Sudan," kata Al Dhaheri. Ia menegaskan bahwa rakyat Sudan berhak atas pemerintahan sipil yang menjamin keamanan dan kemakmuran.
Dukungan Kemanusiaan dan Bantuan Finansial
Sejak konflik pecah pada April 2023, UAE telah menunjukkan komitmen besar dalam bantuan kemanusiaan di Sudan. Total bantuan yang disalurkan mencapai US$784 juta, menjadikannya penyumbang terbesar kedua setelah Amerika Serikat.
Jumlah ini setara dengan sekitar Rp13 triliun, menunjukkan skala dukungan finansial yang signifikan. Konsistensi bantuan kemanusiaan UAE di Sudan ini telah berlangsung sejak awal krisis dan terus berlanjut.
Selain bantuan darurat, total bantuan UAE kepada Sudan dari periode 2015 hingga 2025 diperkirakan mencapai US$4,24 miliar. Angka ini mencerminkan dukungan jangka panjang untuk pemulihan dan pembangunan infrastruktur.
UAE terus bekerja sama dengan mitra internasional untuk memastikan respons kemanusiaan yang efektif. Upaya ini meliputi penyediaan kebutuhan dasar dan dukungan pemulihan bagi jutaan warga yang terdampak konflik.
Penolakan Terhadap Pihak Bertikai dalam Kepemimpinan Masa Depan
Al Dhaheri dengan tegas menyatakan bahwa kedua pihak yang bertikai di Sudan tidak seharusnya menjadi bagian dari kepemimpinan sipil masa depan. Hal ini karena mereka dinilai gagal memenuhi kewajiban terhadap proses perdamaian.
Penolakan berulang terhadap upaya gencatan senjata menunjukkan sikap yang menghambat proses perdamaian. UAE menilai bahwa rakyat Sudan adalah pihak yang paling menderita akibat dari tindakan ini.
Konflik antara tentara Sudan (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF) yang dimulai pada 15 April 2023 telah memicu kerusakan luas. Lebih dari 4 juta orang mengungsi ke luar negeri, sementara jutaan lainnya mengungsi di dalam negeri.
Posisi UAE konsisten sejak awal krisis untuk mendorong penyelesaian konflik. Mereka berupaya mendukung transisi menuju pemerintahan yang stabil dan aman demi masa depan Sudan yang lebih baik.
Sumber: AntaraNews