Arkeolog Temukan Kerangka Aneh di Piramida Berusia 3.500 Tahun, Bukan Milik Firaun atau Kaum Bangsawan
Arkeolog menggunakan otot dan ligamen pada tulang untuk menentukan asal usul kerangka tersebut.
Selama berabad-abad, ilmuwan meyakini hanya orang-orang elit yang dapat dimakamkan di piramida. Namun, penelitian baru-baru ini menunjukkan penemuan kerangka kuno mempertanyakan kembali asumsi tersebut.
Arkeolog dari Universitas Leiden baru-baru ini mengungkap fakta tentang makam kuno piramida kuno di Tombos, Sudan. Peneliti menganalisis kerangka jasad yang dimakamkan di situs tersebut. Mereka mencari tanda-tanda halus di mana otot dan ligamen telah melekat pada tulang. Jejak jejak ini (disebut perubahan entheseal) dapat memberi petunjuk kepada arkeolog tentang bagaimana kehidupan secara fisik dapat mengubah tulang mereka, seperti dilansir BBC, Selasa (25/3).
“Perubahan Entheseal tidak memberi tahu kita secara pasti apa yang dilakukan orang-orang ini, tetapi perubahan tersebut dapat memberi tahu kita apakah mereka lebih aktif atau pemalas,” jelas penulis utama dan profesor arkeologi di Universitas Leiden, Dr Sarah Schrader kepada BBC Science Focus.
Beberapa kerangka menunjukkan mereka menjalani kehidupan yang tidak banyak bergerak dan kemungkinan besar berasal dari bangsawan kaya. Namun, kerangka lain yang dikubur di piramida yang sama, memiliki tanda bahwa mereka aktif secara fisik. Menurut peneliti, mereka yang aktif secara fisik merupakan bukti bahwa mereka berasal dari kelas pekerja.
“Hal ini berpotensi mengguncang apa yang kita ketahui tentang piramida,” kata Schrader.
“Di masa lalu, kita hanya berasumsi bahwa orang-orang yang dikubur di sana adalah kaum elit. Asumsi itu masih berlaku, tetapi mungkin ada orang lain yang dikubur di piramida juga.”
Individu yang aktif secara fisik bisa jadi “buruh, atau pelayan, atau orang-orang yang berhubungan dengan seseorang berstatus tinggi.” kata Schrader.
Schrader mengatakan, orang-orang ini dikubur di tempat yang sama dengan tujuan mereka dapat terus melayani tuan mereka di akhirat. Namun, beberapa peneliti berpendapat mereka yang aktif bisa jadi adalah bangsawan yang memilih untuk tetap bugar secara fisik untuk memperkuat status mereka.
Studi ini merupakan analisis ulang dari temuan lama yang diterbitkan pada 2012. Schrader berharap studi ini akan mendorong pemeriksaan ulang terhadap kerangka yang lain yang ditemukan di piramida.
Situs kuno Tombos terletak di sepanjang Sungai Nil di wilayah yang disebut Nubia, sekitar 3.500 tahun lalu. Kota kuno ini ditaklukkan oleh firaun Mesir Thutmose I (memerintah sekitar 70 tahun sebelum Tutankhamun).
Bangunan Non-Kerajaan
Dr. Roland Enmarch, ahli Egyptologi atau Mesir kuno dari Universitas Liverpool yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan pada era kolonial, sebagian besar piramida merupakan bangunan non-kerajaan, bukan untuk firaun atau raja.
“Kami sangat mencermati paruh akhir sejarah mesir, ketika makam non-kerajaan yang lebih mengesankan sering kali memiliki piramida sebagai bagian dari bangunan atas makam yang terbuat dari batu bata lumpur,” ucapnya.
Namun, Enmarch mengatakan bahwa asumsi tentang bangsawan yang melatih fisik mereka untuk memperkuat status tidak mungkin terjadi.
“Ini adalah asumsi yang diakui secara umum, bahwa sebagian besar masyarakat, orang-orang yang berada di skala sosial yang lebih tinggi mungkin memiliki lebih sedikit bukti kelelahan fisik yang ekstrem,” jelasnya.
Penemuan ini mengungkap kehidupan tersembunyi Tombos, dan yang membuat penelitian ini semakin menantang adalah sejarah kolonial Tombos, tempat di mana budaya Mesir dan Nubia saling tumpang tindih, terjalin, dan membentuk satu sama lain.
Reporter magang: Devina Faliza Rey