Krisis Makin Memburuk, Jutaan Orang di Sudan Terancam Alami Kelaparan dan Kekerasan

UNICEF beserta organisasi kemanusiaan lainnya mengingatkan bahwa situasi di Sudan saat ini sangat kritis dan memerlukan perhatian global.

Tim Global
Oleh Tim Global - Reporter
Krisis Makin Memburuk, Jutaan Orang di Sudan Terancam Alami Kelaparan dan Kekerasan
Angkatan Darat Sudan mengumumkan sedang melakukan diskusi terhadap kemungkinan memperpanjang gencatan senjata menyusul seruan dari Arab Saudi dan Amerika Serikat pada Minggu, 28 Mei 2023 a (© 2025 Liputan6.com)

Kondisi di Sudan semakin memprihatinkan. Pada hari Kamis, 13 Maret 2025, Catherine Russell, Kepala UNICEF, mengingatkan bahwa situasi 'polikrisis' di negara tersebut semakin memburuk akibat konflik yang berkepanjangan.

Dia menekankan bahwa jutaan perempuan dan anak-anak berada dalam keadaan yang sangat rentan terhadap kekerasan seksual, sementara laki-laki dan anak laki-laki juga menghadapi ancaman yang signifikan.

Russell juga memperingatkan bahwa kelaparan semakin meluas, yang semakin memperburuk keadaan di tengah hancurnya ekonomi dan sistem layanan sosial yang ada.

"Dengan ekonomi dan infrastruktur yang hampir runtuh serta konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, kami memperkirakan hampir dua pertiga populasi Sudan, lebih dari 30 juta orang akan membutuhkan bantuan kemanusiaan tahun ini," ungkap Russell, seperti yang dikutip oleh VOA Indonesia, Sabtu (15/3).

Selain masalah kelaparan, UNICEF juga mencatat bahwa anak-anak di Sudan semakin terancam oleh wabah penyakit mematikan seperti kolera, malaria, dan demam berdarah. Sekitar 1,3 juta anak balita berada di daerah yang rawan kelaparan, dan lebih dari 3 juta anak balita berisiko tinggi terkena penyakit akibat sistem kesehatan yang sudah kolaps.

Dalam sektor pendidikan, situasi juga sangat mengkhawatirkan. Sebanyak 16,5 juta anak usia sekolah telah putus sekolah, yang mengancam masa depan generasi mendatang.

"Ini bukan sekadar krisis, tetapi krisis multidimensi yang memengaruhi setiap sektor, mulai dari kesehatan dan gizi hingga air, pendidikan, dan perlindungan," tambah Russell.

Kondisi di Sudan yang semakin memburuk telah menyebabkan meningkatnya pelanggaran serius terhadap hak anak. Antara bulan Juni dan Desember 2024, lebih dari 900 insiden kekerasan yang menargetkan anak-anak telah tercatat.

"Sekitar 80 persen insiden ini melibatkan pembunuhan dan mutilasi anak-anak, terutama di negara bagian Darfur, Khartoum, dan Al Jazirah," ujar Russell, sambil menambahkan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan.

Selain dari konflik bersenjata, kekerasan seksual juga semakin meluas, menambah penderitaan yang dialami masyarakat Sudan.

Christopher Lockyear, Sekretaris Jenderal Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Tanpa Batas, turut menekankan betapa parahnya situasi ini.

"Tim kami di Chad merawat lebih dari 800 korban luka hanya dalam tiga hari, saat ribuan warga Masalit melarikan diri dari El Geneina setelah kota itu direbut oleh Pasukan Dukungan Cepat," ungkap Lockyear.

Menurutnya, menjadi bagian dari komunitas Masalit saat ini seakan menjadi vonis hukuman mati bagi mereka yang terjebak dalam kekerasan yang berkepanjangan.

Lockyear mengingatkan bahwa kedatangan musim hujan yang semakin mendekat akan memperburuk kondisi krisis kelaparan di Sudan.

"Kesenjangan pangan akan semakin besar. Krisis di Sudan membutuhkan perubahan mendasar dari pendekatan sebelumnya yang telah gagal. Jutaan nyawa bergantung pada hal ini," tegasnya.

Dukungan internasional untuk Sudan juga disampaikan oleh Dorothy Shea, kuasa usaha ad interim untuk Misi Tetap AS di PBB. Ia memastikan bahwa Amerika Serikat akan tetap memberikan bantuan kemanusiaan bagi Sudan.

"Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah menyetujui keringanan bantuan kemanusiaan yang mencakup makanan darurat, obat-obatan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya, termasuk untuk Sudan," ujar Shea.

Rekomendasi