Relokasi Pekerja PIEP dari Irak dan UEA: Prioritas Keselamatan di Tengah Konflik Timur Tengah

PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) merelokasi pekerja dari Irak dan Uni Emirat Arab (UEA) demi keselamatan di tengah eskalasi konflik regional, menegaskan prioritas perusahaan terhadap keamanan personel.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Relokasi Pekerja PIEP dari Irak dan UEA: Prioritas Keselamatan di Tengah Konflik Timur Tengah
PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) merelokasi pekerja dari Irak dan Uni Emirat Arab (UEA) demi keselamatan di tengah eskalasi konflik regional, menegaskan prioritas perusahaan terhadap keamanan personel. (AntaraNews)

PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) telah mengambil langkah sigap merelokasi sejumlah perwiranya yang bertugas di Irak dan Uni Emirat Arab (UEA) menyusul eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Sebanyak 11 perwira dari Basra, Irak, dan 8 perwira dari Dubai, UEA, telah dipulangkan ke Jakarta sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan personel. Proses relokasi pekerja PIEP ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap keamanan karyawan di tengah kondisi yang tidak menentu.

Langkah evakuasi ini dipicu oleh dinamika geopolitik yang memanas, terutama setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang secara langsung berdampak pada stabilitas kawasan. Direktur Utama Pertamina Hulu Energi (PHE), Awang Lazuardi, menyampaikan bahwa koordinasi erat antara PIEP, PHE, Pertamina, serta dukungan dari Kementerian Luar Negeri dan KBRI di beberapa negara, memastikan kepulangan para perwira berjalan lancar. Proses kepulangan para perwira ini memerlukan waktu sekitar 14 hari karena adanya penutupan sejumlah bandara internasional.

Meskipun menghadapi tantangan logistik seperti penutupan bandara di Kuwait City, Dubai, dan Doha, PIEP berhasil melaksanakan evakuasi dengan jalur alternatif. Sebagian personel tiba di Jakarta pada tanggal 10 Maret 2026, sementara sisanya menyusul pada 11 Maret 2026. Keberhasilan operasi relokasi pekerja PIEP ini menjadi bukti kesiapan perusahaan dalam menghadapi situasi krisis.

Direktur Utama PIEP, Syamsu Yudha, menegaskan bahwa keselamatan seluruh perwira merupakan prioritas utama bagi perusahaan. PIEP secara konsisten menerapkan seluruh prosedur Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) serta Business Continuity Plan (BCP) dengan disiplin tinggi. Penerapan prosedur ini dilakukan melalui koordinasi yang terintegrasi dengan Pertamina Holding, Subholding Upstream, dan berbagai otoritas terkait.

Perusahaan juga terus melakukan pemantauan situasi secara real-time untuk memastikan perlindungan optimal bagi semua personel yang bertugas di wilayah berisiko. Syamsu Yudha menekankan pentingnya melakukan asesmen terhadap contingency plan rute evakuasi. Hal ini bertujuan agar proses evakuasi dapat berjalan lebih mudah dan efektif di masa mendatang, terutama jika terjadi penutupan ruang udara.

Langkah proaktif ini mencerminkan komitmen PIEP dalam menjaga kesejahteraan karyawannya di tengah ancaman eksternal. Dengan perencanaan yang matang dan respons cepat, perusahaan berupaya meminimalkan risiko yang mungkin timbul akibat gejolak regional. Keselamatan jiwa menjadi landasan utama setiap keputusan operasional yang diambil oleh PIEP.

Proses evakuasi para perwira dari Basra, Irak, menunjukkan kompleksitas dan tantangan logistik yang harus dihadapi. Perwira PIREP menempuh perjalanan darat dari Basra menuju perbatasan di Safwan, lalu masuk ke wilayah Kuwait. Dari Kuwait, perjalanan dilanjutkan menuju Dammam, Arab Saudi, melalui jalur darat yang panjang dan berliku.

Setelah tiba di Dammam, seluruh personel melanjutkan perjalanan udara menuju Jeddah, sebelum akhirnya terbang kembali ke Indonesia. Rute alternatif ini dipilih mengingat adanya penutupan sejumlah bandara internasional di kawasan tersebut, termasuk di Kuwait City, Dubai, dan Doha, yang mempersulit akses langsung. Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, mengakui bahwa dinamika geopolitik yang tidak stabil sangat berpengaruh terhadap operasi perusahaan di Irak.

Namun, berkat koordinasi yang sangat baik dari PIEP, PHE, Pertamina, serta dukungan dari Kementerian Luar Negeri dan KBRI di berbagai negara, proses kepulangan dapat terlaksana dengan selamat. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan untuk terus memperkuat strategi mitigasi risiko dan rencana keberlanjutan bisnis di wilayah operasi yang sensitif secara geopolitik.

Pertamina Irak Eksplorasi & Produksi (PIREP) bertindak cepat dengan mengaktifkan Emergency Response Team (ERT) segera setelah menerima informasi mengenai serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Tim ini berperan krusial dalam memantau situasi secara intensif dan mengkoordinasikan langkah-langkah respons.

PIREP juga secara paralel memperkuat komunikasi dan koordinasi strategis dengan berbagai perwakilan diplomatik Indonesia. Ini termasuk KBRI Baghdad, KBRI Kuwait City, KBRI Riyadh, KBRI Abu Dhabi, serta Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Jaringan komunikasi ini penting untuk memonitor perkembangan situasi keamanan dan mengantisipasi dinamika di kawasan Timur Tengah.

Selain memastikan keselamatan personel di lapangan, PIEP juga memberikan perhatian khusus kepada keluarga para perwira. Perusahaan menghubungi keluarga secara langsung untuk menyampaikan kondisi terkini dan menyediakan saluran komunikasi hotline 24 jam. Layanan ini memastikan bahwa keluarga memperoleh informasi dan dukungan yang diperlukan selama proses relokasi, menunjukkan kepedulian holistik perusahaan terhadap karyawannya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi