DPRD Jabar Peringatkan Ancaman 131 Ton Sampah Tak Terangkut, Desak Optimalisasi Pengelolaan Sampah Cimahi
DPRD Jawa Barat menyoroti ancaman 131 ton sampah harian Kota Cimahi yang tak terangkut ke TPA Sarimukti. Mendesak perubahan strategi, bagaimana masa depan Pengelolaan Sampah Cimahi?
DPRD Provinsi Jawa Barat memberikan peringatan serius kepada Pemerintah Kota Cimahi terkait ancaman penumpukan sampah harian. Sebanyak 131 ton sisa sampah harian Kota Cimahi terancam tidak dapat terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.
Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Acep Jamaludin, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kebijakan pembatasan kuota yang diterapkan TPA Sarimukti saat ini. Situasi ini menuntut perubahan strategi Pengelolaan Sampah Cimahi yang lebih radikal dan berkelanjutan.
Peringatan ini disampaikan di Bandung pada Selasa, 20 Januari, menyoroti urgensi penanganan masalah sampah yang semakin mendesak. Ketergantungan pada pola lama angkut-buang sudah tidak relevan dan berpotensi membahayakan lingkungan kota.
Kesenjangan Data dan Ancaman Lingkungan
Acep Jamaludin membeberkan data krusial terkait produksi sampah di Cimahi yang mencapai 250 ton per hari. Namun, jatah pembuangan ke TPA Sarimukti dibatasi hanya 119 ton per hari, menciptakan kesenjangan signifikan sebesar 131 ton sampah yang tidak terangkut.
Kondisi TPA Sarimukti yang sudah kelebihan kapasitas atau overload menjadi penyebab utama pembatasan kuota ini. TPA tersebut tidak lagi mampu menampung seluruh sampah dari daerah sekitar, termasuk Cimahi, sehingga memperburuk isu Pengelolaan Sampah Cimahi.
Ketergantungan terus-menerus pada pola lama angkut-buang sampah ke TPA dinilai sudah tidak relevan dan berbahaya bagi lingkungan kota jika diteruskan. Tanpa strategi baru, penumpukan sampah di sudut-sudut kota menjadi ancaman nyata yang harus diatasi dalam Pengelolaan Sampah Cimahi.
Solusi Jangka Panjang dan Tantangan Transisi
Pemerintah Provinsi Jawa Barat memang memiliki solusi jangka panjang berupa Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Legok Nangka. Namun, fasilitas ini diproyeksikan baru akan beroperasi penuh pada tahun 2028.
Artinya, Kota Cimahi harus mampu bertahan dan mengelola sampahnya secara mandiri selama masa transisi dua tahun ke depan. Periode ini menjadi tantangan besar yang memerlukan inovasi dan komitmen kuat dari pemerintah kota dan masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Cimahi.
Masa transisi ini menuntut Cimahi untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada TPA eksternal. Sebaliknya, fokus harus beralih pada upaya Pengelolaan Sampah Cimahi yang terdesentralisasi dan berkelanjutan di tingkat lokal.
Optimalisasi TPS 3R dan Kolaborasi Hulu-Hilir
Menghadapi situasi mendesak ini, Acep Jamaludin mendesak optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) dan penguatan bank sampah. Kedua inisiatif ini dianggap sebagai benteng pertahanan utama dalam Pengelolaan Sampah Cimahi.
Sampah wajib habis di tingkat wilayah dengan diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Contohnya adalah kompos, Refuse Derived Fuel (RDF), hingga paving block.
Acep menekankan pentingnya kolaborasi dari hulu sampai hilir: "Masyarakat memilah sampah, pemerintah kota menyiapkan TPS 3R, dan pemerintah provinsi menangani residu akhirnya." Ini menunjukkan pendekatan komprehensif yang melibatkan semua pihak untuk Pengelolaan Sampah Cimahi yang efektif.
Target Ambisius dan Keberlanjutan Pengelolaan Sampah
Politikus tersebut juga menyoroti target ambisius namun rasional dari Pemerintah Kota Cimahi yang didukung program Integrated Sustainable Waste Management Program (ISWMP). Program ini bertujuan mengelola 90 persen sampah di tingkat kawasan sebelum menyentuh TPA.
Jika skema desentralisasi Pengelolaan Sampah Cimahi ini berjalan mulus, ancaman penumpukan sampah di sudut-sudut kota akibat pembatasan kuota Sarimukti dapat dihindari. Ini akan secara signifikan mengurangi beban TPA.
Acep menegaskan, "Jika pengelolaan di tingkat wilayah berjalan konsisten, beban Sarimukti bisa ditekan. Inilah yang harus kita kawal agar pengelolaan sampah di Cimahi berkelanjutan." Konsistensi adalah kunci untuk mencapai keberlanjutan lingkungan dalam Pengelolaan Sampah Cimahi.
Sumber: AntaraNews