Dapur MBG di Flores Timur Ditutup Sementara Imbas Limbah Cemari Lingkungan
Dapur itu akan kembali beroperasi setelah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) selesai diperbaiki dengan baik.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) telah memutuskan untuk menutup sementara dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terletak di Kelurahan Ekasapta. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap protes warga terkait limbah yang dihasilkan oleh dapur tersebut. Plt. Lurah Ekasapta, Save Mautuka, menyampaikan bahwa dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) Ekasapta akan berhenti beroperasi hingga masalah limbah cairnya diselesaikan.
Dapur tersebut dijadwalkan akan kembali beroperasi setelah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) diperbaiki dengan baik. "Untuk sementara ditutup sampai IPAL-nya diperbaiki sesuai standar," ujarnya Sabtu (14/3).
Save Mautuka menegaskan bahwa pengoperasian kembali dapur MBG harus memenuhi standar sanitasi dan lingkungan yang ditetapkan. Dapur ini ditutup karena belum memiliki IPAL yang memadai dan akan diizinkan beroperasi kembali setelah pihak pengelola menyelesaikan perbaikan tersebut.
Sebagai bagian dari program nasional, dapur MBG di Flores Timur, khususnya di Ekasapta, akan terus dipantau untuk memastikan bahwa standar sanitasi dan fasilitas pengolahan limbah berfungsi dengan baik agar operasionalnya dapat berlangsung secara berkelanjutan. Penting untuk dicatat bahwa salah satu syarat utama bagi dapur MBG adalah melengkapi persyaratan teknis, terutama terkait dengan IPAL.
Sesuai dengan standar Badan Gizi Nasional (BGN), keberadaan IPAL adalah syarat yang tidak bisa diabaikan untuk mencegah pencemaran lingkungan, mengingat dapur MBG memproduksi makanan dalam jumlah besar setiap hari.
Air Sumur Tercemar
Warga di Kelurahan Ekasapta, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur mengungkapkan keluhan mengenai bau tidak sedap yang berasal dari limbah dapur SPPG setempat. Mereka melaporkan bahwa limbah dapur dari Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalir hingga ke halaman rumah, menyebabkan aroma yang sangat mengganggu.
Selain masalah bau, warga juga memperhatikan bahwa air sumur mereka berubah menjadi hitam dan muncul jentik-jentik nyamuk, yang tentu saja menambah kekhawatiran mereka.
Dapur MBG yang berada di Kelurahan Ekasapta ini pernah mendapatkan protes dari warga terkait masalah limbah tersebut, namun keluhan tersebut tampaknya tidak dihiraukan. Risky, Kepala Dapur MBG di Ekasapta, mengakui bahwa pihaknya telah didatangi oleh warga mengenai limbah SPPG. Ia menyatakan bahwa keluhan tersebut sudah disampaikan kepada mitra untuk segera menyiapkan septic tank atau menggali sumur resapan.
"Dalam minggu ini akan dikerjakan agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat kesehatan lingkungan harus dijaga," ujarnya.