CSIS Gelar Diskusi Soroti Masa Depan ASEAN
Para narasumber menyoroti bagaimana ASEAN berupaya mempertahankan ketangguhan, memperkuat kohesi internal, dan menjaga sentralitas di tengah persaingan global.
Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia menggelar diskusi meja bundar bertajuk “Prospek Strategis ASEAN Menuju 2045 dan Peran Mitra Wicara: Refleksi KTT ASEAN ke-46 dan ke-47 serta Prospek Kepemimpinan ASEAN pada 2026” di Jakarta, Jumat (21/11).
Kegiatan ini didukung Misi Korea Selatan untuk ASEAN dan menghadirkan pakar kawasan dari berbagai latar belakang.
Forum tersebut menjadi ruang telaah atas hasil KTT ASEAN ke-46 dan ke-47 yang berlangsung di Malaysia pada 2025.
Para narasumber menyoroti bagaimana ASEAN berupaya mempertahankan ketangguhan, memperkuat kohesi internal, dan menjaga sentralitas di tengah persaingan global yang semakin intens.
Isu Utama
Isu utama yang disorot adalah perumusan Visi Komunitas ASEAN 2045. Visi ini mencakup penguatan pilar politik-keamanan, peningkatan daya saing ekonomi, pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, serta penguatan kapasitas kelembagaan ASEAN sebagai organisasi regional.
Diskusi juga mengangkat isu-isu baru yang kini menjadi prioritas kawasan, seperti tata kelola kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, transisi energi, dan ketahanan iklim.
Topik-topik tersebut dinilai krusial sebagai fondasi bagi kemakmuran dan stabilitas jangka panjang di Asia Tenggara.
Tantangan Menuju Kepemimpinan ASEAN 2026
Selain dinamika internal, peran mitra dialog turut menjadi perhatian. Korea Selatan disebut sebagai salah satu mitra strategis yang berkontribusi dalam menjaga sentralitas ASEAN melalui berbagai mekanisme, termasuk ASEAN Plus Three (APT) dan East Asia Summit (EAS).
Peringatan 20 tahun EAS pada 2025 juga dipandang sebagai momentum evaluasi efektivitas platform tersebut dalam menjembatani kepentingan keamanan dan ekonomi di kawasan Indo-Pasifik.
Forum ini turut membahas prospek kepemimpinan ASEAN 2026 yang akan dipegang Filipina. Para pembicara menilai periode tersebut akan menjadi ujian ASEAN dalam menerjemahkan visi jangka panjang menjadi kebijakan konkret.
Tantangan seperti pengambilan keputusan berbasis konsensus serta keterbatasan sumber daya kelembagaan menjadi catatan penting yang membutuhkan pendekatan lebih pragmatis dan adaptif terhadap dinamika regional maupun global.
Reporter magang: Mochamad Aidil Akbar