BRIN Dorong Penguatan Kebijakan Mitigasi Bencana Berbasis Riset untuk Pembangunan Berkelanjutan
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya penguatan kebijakan Mitigasi Bencana Berbasis Riset dan inovasi sebagai kebutuhan strategis dalam pembangunan daerah berkelanjutan.
Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amarulla Octavian, menegaskan urgensi penguatan kebijakan mitigasi risiko bencana yang didasarkan pada riset dan inovasi. Hal ini krusial untuk mencapai pembangunan daerah yang berkelanjutan di seluruh Indonesia.
Menurut Amarulla, riset dan inovasi harus menjadi fondasi utama dalam merumuskan setiap kebijakan penanganan bencana. Pendekatan ini memastikan respons yang cepat, akurat, dan berkelanjutan terhadap potensi bencana alam.
Penguatan mitigasi bencana berbasis riset ini diharapkan mampu mengubah paradigma penanganan bencana dari reaktif menjadi proaktif. Dengan demikian, setiap daerah dapat lebih siap menghadapi berbagai ancaman bencana.
Peran Strategis BRIN dalam Mitigasi Bencana
BRIN mengambil peran strategis dalam upaya penanggulangan bencana melalui pendekatan ilmiah yang konkret. Di Sumatera, lembaga ini telah membentuk "Task Force Supporting Penanggulangan Bencana" sebagai wujud nyata komitmen tersebut.
Peran utama BRIN adalah menyediakan data ilmiah dan teknologi mutakhir untuk mendukung pengambilan keputusan pemerintah daerah. Data valid ini sangat penting agar kebijakan mitigasi yang diambil tepat sasaran dan efektif.
Melalui penyediaan informasi berbasis riset, BRIN berupaya memastikan bahwa setiap langkah mitigasi didasarkan pada bukti konkret. Hal ini meningkatkan efektivitas program penanggulangan bencana di berbagai wilayah.
Integrasi Mitigasi dalam Perencanaan Pembangunan Daerah
Mitigasi risiko bencana di tingkat daerah diwujudkan melalui integrasi ke dalam dokumen perencanaan pembangunan. Dokumen-dokumen ini meliputi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), dan Rencana Kontingensi Daerah.
Integrasi ini menjadikan mitigasi bukan lagi sekadar respons sesaat terhadap bencana, melainkan bagian integral dari strategi pembangunan daerah. Pendekatan ini mendorong perencanaan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Dengan demikian, upaya pengurangan risiko bencana dapat terstruktur dan teralokasi dengan baik dalam anggaran serta program pembangunan. Ini menciptakan ketahanan daerah yang lebih kuat terhadap berbagai ancaman.
Sumatera Barat sebagai Model Implementasi Mitigasi
Amarulla Octavian menyoroti Sumatera Barat sebagai contoh praktik baik dalam implementasi kebijakan mitigasi risiko bencana di daerah. Provinsi ini menghadapi potensi bencana yang kompleks, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pemangku kepentingan telah menunjukkan komitmen kuat. Mereka memperkuat mitigasi berbasis kebijakan dan kolaborasi lintas sektor.
Pengalaman Sumatera Barat menunjukkan bahwa kebijakan mitigasi yang didukung data ilmiah, perencanaan matang, dan koordinasi antarlembaga sangat efektif. Hal ini terbukti mampu meningkatkan ketangguhan daerah dan memastikan alokasi anggaran yang tepat pascabencana.
Model ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi provinsi serta kabupaten/kota lain dengan karakteristik kerawanan serupa. Penerapan pendekatan serupa dapat meningkatkan kapasitas mitigasi di seluruh Indonesia.
Fokus BRIN ke Depan dan Penguatan Kelembagaan
Ke depan, BRIN akan memfokuskan kebijakan penanggulangan bencana pada beberapa area kunci. Ini termasuk penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan berbasis riset, serta pengembangan peta risiko bencana yang dinamis.
Selain itu, BRIN juga akan meningkatkan edukasi dan diseminasi ilmu kebencanaan kepada masyarakat luas. Penguatan kolaborasi lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah juga menjadi prioritas utama.
Dalam konteks kelembagaan daerah, BRIN mendorong penguatan peran BRIDA dan Bapperida sebagai motor penggerak riset dan inovasi. Lembaga-lembaga ini diharapkan menjadi garda terdepan dalam pengembangan solusi mitigasi.
Amarulla Octavian menegaskan, mitigasi risiko bencana tidak cukup hanya berbasis pengalaman semata. Harus diperkuat dengan bukti ilmiah, data yang valid, serta inovasi teknologi yang aplikatif untuk hasil optimal.
Sumber: AntaraNews