BRIN dan DPR Dorong Penguatan Jurnalisme Sains di NTB Hadapi Tantangan AI
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Komisi X DPR RI berkolaborasi untuk memperkuat jurnalisme sains di Nusa Tenggara Barat (NTB), membekali wartawan dengan kemampuan verifikasi dan penerjemahan informasi ilmiah di tengah gempuran AI dan disinf
Mataram, 17 Mei – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mengambil langkah proaktif dalam mendorong penguatan jurnalisme sains di Nusa Tenggara Barat (NTB). Inisiatif ini bertujuan untuk membekali para jurnalis dengan kemampuan esensial dalam menghadapi tantangan era kecerdasan buatan (AI) serta maraknya disinformasi yang membanjiri ruang publik.
Sosialisasi teknik menulis berita ilmiah populer, yang diselenggarakan bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTB di Mataram, menjadi platform utama bagi BRIN dan DPR RI untuk menyampaikan pesan penting ini. Acara tersebut menekankan urgensi bagi wartawan untuk memiliki kemampuan membaca, membingkai, dan memverifikasi informasi ilmiah secara akurat.
Menurut Peneliti BRIN, Mega Mardita, media memiliki peran krusial sebagai agen pengetahuan publik di tengah kompleksitas isu berbasis sains dan teknologi. Penguatan kapabilitas jurnalisme sains diharapkan dapat mencegah penyebaran informasi yang menyesatkan dan memastikan masyarakat memperoleh pemahaman yang benar mengenai perkembangan ilmiah.
Tantangan Jurnalisme Sains di Era Digital
Era digital membawa tantangan signifikan bagi jurnalisme sains, terutama dengan kemunculan kecerdasan buatan (AI) dan banjir disinformasi. Mega Mardita menyoroti bahwa hampir seluruh isu publik saat ini bersinggungan dengan sains, mulai dari teknologi AI, krisis global, hingga kebijakan berbasis data.
Dalam konteks ini, media dituntut untuk mampu menerjemahkan bahasa ilmiah yang rumit menjadi informasi yang mudah dicerna oleh masyarakat luas. Banyak berita sains seringkali gagal menarik perhatian publik karena terlalu teknis dan dipenuhi jargon ilmiah, padahal masyarakat lebih tertarik pada dampak nyata suatu penelitian terhadap kehidupan sehari-hari mereka.
Mega juga mengingatkan wartawan agar mewaspadai kesalahan umum, seperti menyamakan korelasi dengan kausalitas, dan menghindari pengutipan hasil riset preprint yang belum melalui proses peer review. AI sendiri membawa tantangan baru, termasuk deepfake audio dan video, artikel sintetis, jurnal palsu, hingga halusinasi AI yang dapat memanipulasi data dan informasi.
Membangun Jembatan antara Riset dan Publik
Untuk mengatasi tantangan tersebut, wartawan masa depan dituntut memiliki kemampuan verifikasi berlapis, literasi data, serta kemampuan berpikir kontekstual yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI. Publik tidak hanya ingin mengetahui bahwa penelitian dilakukan, tetapi juga mengapa mereka harus peduli terhadap hasil riset tersebut.
Mega Mardita memperkenalkan formula dasar jurnalisme sains yang berfokus pada temuan, dampak, dan manusia. Formula ini menekankan pentingnya menerjemahkan hasil penelitian menjadi manfaat konkret bagi publik. Hal ini juga mencakup cara cepat membaca jurnal ilmiah dengan memahami abstrak, metode penelitian, hingga kesimpulan untuk menghindari pemberitaan yang berlebihan terhadap hasil riset yang masih prematur.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menambahkan bahwa penguatan kapasitas wartawan sangat penting agar informasi berbasis riset dapat dipahami publik secara benar dan tidak menimbulkan disinformasi. Di era digital, wartawan tidak hanya dituntut cepat menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu memverifikasi dan menerjemahkan informasi ilmiah agar mudah dipahami masyarakat.
Kolaborasi Strategis untuk Literasi Publik
Kolaborasi antara BRIN, DPR RI, dan PWI NTB dianggap sebagai langkah strategis dalam membangun literasi publik berbasis data dan riset ilmiah. Tujuannya adalah agar hasil-hasil riset tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi dapat diterjemahkan menjadi informasi yang berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Media memiliki peran vital sebagai jembatan antara dunia riset dan publik, memastikan bahwa inovasi dan penemuan ilmiah dapat diakses dan dipahami oleh khalayak umum. Lalu Hadrian Irfani juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap maraknya disinformasi dan manipulasi konten berbasis AI yang semakin sulit dibedakan dari informasi asli.
Pers harus tetap menjadi penjaga kepercayaan publik, dengan verifikasi, akurasi, dan etika jurnalistik sebagai fondasi utama di tengah banjir informasi digital. Dengan demikian, masyarakat dapat terus mengandalkan media sebagai sumber informasi yang terpercaya dan akurat.
Sumber: AntaraNews