Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyoroti tantangan berat yang dihadapi bangsa Indonesia di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.
Hal tersebut disampaikan Sigit dalam acara buka puasa bersama antara Polri dengan Insan Pers yang digelar di Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (25/2).
Dalam sambutannya, Sigit mengatakan, munculnya teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa dampak yang sangat signifikan bagi kehidupan berbangsa.
Advertisement
Salah satu yang paling diwaspadai adalah teknologi rekayasa digital yang semakin canggih dan sulit dibedakan oleh masyarakat awam.
"Perkembangan AI (Artificial Intelligence), perkembangan Deepfake, yang mau tidak mau ini memunculkan dampak yang sangat luar biasa," kata Sigit dalam sambutannya.
Menurut jenderal bintang empat ini, ancaman nyata yang saat ini menyusup ke dalam situasi dalam negeri adalah masifnya penyebaran informasi palsu.
Ia merujuk pada laporan risiko global yang menempatkan masalah gangguan informasi sebagai ancaman serius yang harus segera diantisipasi oleh semua pihak.
"Dari Global Risk Report, itu meramalkan bahwa salah satu yang menimbulkan dampak global, salah satunya adalah masalah misinformasi dan disinformasi," ujarnya.
Advertisement
Sigit menilai, masyarakat saat ini sangat membutuhkan panduan untuk memilah informasi di tengah belantara media sosial. Oleh karena itu, ia menitipkan harapan besar kepada media massa arus utama untuk menjalankan fungsinya sebagai pemberi pencerahan bagi publik.
"Karena memang masyarakat butuh suatu pencerahan. Dan tentunya harapan kita, harapan kita semua, media sebagai salah satu fungsi yang kita harapkan bisa memberikan pencerahan itu," ungkapnya.
Eks Kabareskrim Polri ini mendorong para jurnalis untuk terus memproduksi karya jurnalistik yang berbasis pada fakta. Langkah ini dianggap sebagai obat penawar agar masyarakat Indonesia tidak tersesat dalam narasi bohong yang sengaja diproduksi untuk memicu kegaduhan.
"Karena apapun, kita harapkan rekan-rekan di media bisa memberikan informasi yang faktual, informasi yang bisa dipercaya, sehingga kemudian masyarakat tidak tenggelam dan terbawa oleh misinformasi ataupun disinformasi yang memang sangat luar biasa terjadi khususnya di media sosial," kata dia.
Advertisement
Lebih lanjut, Sigit menegaskan, sinergitas antara institusi Polri dan insan pers merupakan pilar penting dalam menjaga stabilitas nasional. Media dipandang sebagai mitra strategis yang membantu Polri memantau situasi keamanan melalui perspektif publik.
"Dan tentunya harapan kita, dan kami menyadari bahwa media memiliki peran yang sangat luar biasa untuk turut menjaga stabilitas keamanan nasional," ucapnya.
Sigit juga mengingatkan jajarannya agar tidak hanya bergerak berdasarkan keinginan internal saja. Respon kepolisian di lapangan haruslah berangkat dari jeritan dan suara masyarakat yang ditangkap dan disebarluaskan oleh rekan-rekan media.
"Sehingga ke depan, tentunya respons kita, bukan respons karena keinginan sendiri, tapi bagaimana respons kita betul-betul respons di lapangan yang kemudian bergerak karena kita mendengarkan suara publik yang disuarakan oleh rekan-rekan media," ucapnya.
Advertisement
Selain membahas soal teknologi, Sigit mengapresiasi dukungan pers yang selama ini membantu tugas pokok Polri dalam menjaga ketertiban. Ia menyatakan bahwa Polri selalu siap membuka diri terhadap masukan serta evaluasi demi pengabdian terbaik kepada negara.
"Kami siap selalu untuk menerima masukan, menerima kritik dan evaluasi. Namun titip juga agar kami terus bisa menjaga untuk melaksanakan amanah institusi, untuk melaksanakan tugas pokok kami dalam menjaga Harkamtibmas," jelasnya.
Terakhir, Sigit mengajak seluruh elemen media untuk bersama-sama menjaga keutuhan negeri di tengah situasi dunia yang tidak menentu. Kolaborasi ini diharapkannya dapat membawa Indonesia melalui berbagai tantangan bangsa ke depan.