Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengidentifikasi aren (sugar palm) sebagai sumber bioetanol nasional yang sangat menjanjikan. Tanaman ini menawarkan alternatif berkelanjutan untuk produksi bioetanol, menjadikannya solusi potensial untuk kebutuhan energi Indonesia. Potensi ini dibahas dalam sebuah forum penting yang menarik perhatian berbagai pihak terkait.
Peneliti dari Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Saptadi Darmawan, menjelaskan bahwa aren memiliki keunggulan dalam pemrosesan yang sederhana. Selain itu, bioetanol dari aren juga memiliki angka oktan yang tinggi, melebihi bensin oktan tinggi standar. Keunggulan ini menjadikan aren sebagai kandidat kuat dalam pengembangan energi terbarukan di tanah air.
Berbicara di Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan di Bogor pada Jumat (26 Juni), Saptadi menguraikan bahwa nira aren merupakan bahan baku yang relatif mudah diolah menjadi bioetanol. Hal ini karena nira aren mengandung kadar sukrosa, glukosa, dan fruktosa yang tinggi. Keberadaan komponen gula ini mempermudah proses fermentasi dan distilasi, yang merupakan langkah kunci dalam produksi bioetanol.
Advertisement
Advertisement
Berbeda dengan bioetanol yang berasal dari biomassa pati atau kayu, yang memerlukan proses kompleks, bioetanol dari nira aren dapat diproduksi melalui fermentasi dan distilasi sederhana. Proses yang tidak rumit ini mengurangi biaya produksi dan waktu yang dibutuhkan, menjadikannya lebih efisien. Angka oktan bioetanol berbasis aren mencapai sekitar 108, lebih tinggi dari bensin oktan tinggi standar.
Pohon aren juga dapat menghasilkan nira hingga 20 tahun, menjadikannya sumber energi terbarukan yang sangat berkelanjutan dan memiliki nilai ekonomi yang baik. Selain itu, aren dapat ditanam di lahan marjinal atau lahan pertanian yang kurang produktif. Ini memastikan bahwa tanaman energi ini tidak bersaing langsung dengan komoditas pangan, sehingga menjaga ketahanan pangan nasional.
Dari segi lingkungan, tanaman aren berkontribusi pada upaya konservasi berkat sistem akarnya yang luas. Sistem akar ini membantu menjaga kualitas tanah dan air, mengurangi risiko erosi, serta menghasilkan nektar bagi lebah. Manfaat ekologis ini menambah nilai plus aren sebagai sumber energi berkelanjutan.
Advertisement
Namun, pengembangan bioetanol aren masih menghadapi beberapa tantangan. Saptadi mengakui perlunya standardisasi lebih lanjut terhadap kualitas bahan baku dan proses produksi. Selain itu, di beberapa daerah, nira aren bersaing dengan penggunaannya sebagai bahan baku minuman beralkohol tradisional yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Advertisement
Untuk mengatasi persaingan bahan baku, Darmawan menekankan pentingnya membedakan pengembangan aren untuk bioetanol dari penggunaannya untuk pangan. Ini berarti harus ada klaster terpisah untuk aren pangan dan aren energi agar pengembangan berjalan lancar dan tidak terjadi konflik. Pemisahan klaster ini sangat krusial untuk keberlanjutan proyek bioetanol.
Dari perspektif ekonomi, bisnis bioetanol aren dinilai layak untuk koperasi atau industri skala kecil. Berdasarkan penelitian tim Saptadi, biaya pokok produksi (HPP) berkisar antara Rp8.500 hingga Rp10.000 per liter. Sementara itu, harga jual diperkirakan antara Rp14.000 hingga Rp16.000 per liter, menawarkan margin kotor 35 hingga 45 persen.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tanaman aren tersebar di seluruh Indonesia, dengan Jawa Barat memiliki area perkebunan terbesar, diikuti oleh Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Namun, data BPS juga mengungkapkan bahwa perkebunan aren di Indonesia sedikit menyusut dari 64.544 hektar pada 2019 menjadi 60.557 hektar pada 2023. Produksi juga menurun dari puncaknya 107.415 ton pada 2021 menjadi 100.273 ton pada 2023.
Advertisement
Tren penurunan ini memerlukan perhatian serius jika aren ingin dikembangkan sebagai sumber bioetanol nasional. Sebagai langkah konkret, Kementerian Kehutanan telah meresmikan Pabrik Percontohan Bioetanol Aren di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Kamojang, Garut, Jawa Barat, pada Desember 2025. Proyek percontohan ini memanfaatkan nira aren yang dipasok oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Baru Bojong, dengan kapasitas produksi sekitar 300 liter bioetanol per hari dari 300 hingga 500 kilogram nira.
Sumber: AntaraNews