Fakta Unik: Kolaborasi ANTARA dan ICT Watch Tingkatkan Literasi Digital Komunitas IT di Kalsel, Bahas Jurnalistik & AI

Perum LKBN ANTARA dan ICT Watch Indonesia berkolaborasi meningkatkan literasi digital bagi komunitas IT di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, membahas etika jurnalistik dan pemanfaatan AI yang bijak.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: Kolaborasi ANTARA dan ICT Watch Tingkatkan Literasi Digital Komunitas IT di Kalsel, Bahas Jurnalistik & AI
Perum LKBN ANTARA dan ICT Watch Indonesia berkolaborasi meningkatkan literasi digital bagi komunitas IT di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, membahas etika jurnalistik dan pemanfaatan AI yang bijak. (Merdeka.com)

Perum LKBN ANTARA dan ICT Watch Indonesia menjalin kolaborasi strategis untuk memperkuat literasi digital di kalangan komunitas informasi dan teknologi (IT). Kegiatan ini dilaksanakan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dengan fokus pada etika jurnalistik dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

Inisiatif ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Komdiphoria yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) se-Kalsel. Acara tersebut menarik partisipasi dari berbagai kalangan, termasuk Komunitas Informasi Masyarakat (KIM), relawan TIK, perusahaan swasta di bidang IT, serta masyarakat umum yang antusias.

Tujuan utama dari kolaborasi ini adalah membekali peserta dengan pemahaman mendalam mengenai tantangan dan peluang di era digital. Pembahasan mencakup pentingnya memilah informasi yang benar serta cara mengoptimalkan teknologi AI secara bertanggung jawab dan aman.

Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Kalsel, Taufik Ridwan Sodikin, memberikan materi esensial terkait etika jurnalistik dalam konteks literasi digital. Ia menjelaskan bahwa jurnalistik adalah serangkaian aktivitas penyebaran informasi melalui berbagai media, termasuk daring, cetak, dan elektronik.

“Kaidah dan bahasanya berdasarkan kode etik yang telah ditetapkan Dewan Pers,” ujar Taufik. Ia menegaskan bahwa pemberitaan yang baik harus berimbang, tidak menyerang personal, sesuai fakta, serta tidak mengandung unsur suku, ras, dan agama (SARA). Selain itu, narasumber harus jelas dan informasi terkonfirmasi.

Taufik juga menekankan pentingnya independensi dalam pemberitaan, di mana informasi tidak memihak salah satu sumber atau pihak manapun, serta sesuai dengan kejadian sebenarnya. Hal ini krusial untuk menjaga kepercayaan publik terhadap media.

Di tengah derasnya arus informasi di dunia maya, Taufik mengingatkan bahwa banyak konten yang beredar bukanlah berita, melainkan sekadar informasi yang belum terverifikasi. Ia menyatakan, “Jadi, informasi belum tentu berita, tetapi berita sudah pasti menjadi informasi,” menyoroti maraknya hoaks dengan berbagai maksud dan tujuan tertentu.

Sementara itu, Program Director ICT Watch Indonesia, Prasati Dewi, mengupas tuntas mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Ia menekankan bahwa teknologi AI harus digunakan secara bijak dan tidak sepenuhnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pengganti peran manusia.

“Gunakan AI sebagai alat bantu atas sesuatu yang kita kerjakan. AI jangan dijadikan sebagai pengganti, hanya alat bantu,” ungkap Prasati. Ia menambahkan bahwa meskipun AI dapat mempermudah pekerjaan, teknologi ini memiliki keterbatasan dan tidak dapat menggantikan semua tugas manusia.

Prasati juga mengingatkan pentingnya verifikasi informasi yang dihasilkan oleh AI, karena tidak semua akurat. Hal ini disebabkan AI merupakan buatan manusia dan masih memiliki kekurangan. Pengguna harus kritis terhadap output yang diberikan oleh sistem AI.

Selain itu, penggunaan AI harus seperlunya dan sewajarnya, dengan menghindari memasukkan informasi privasi atau rahasia. Prasati menjelaskan bahwa hal tersebut dapat berdampak pada penyalahgunaan data oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, mengingat pengguna AI yang terus meningkat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi