71% Anak Main Gawai, Ini Kiat Pakar Dampingi Anak Main Game Online Sehat
Pakar Firman Kurniawan membagikan kiat penting bagi orang tua untuk mendampingi anak bermain game online secara sehat. Hindari kecanduan dengan pemahaman dan keseimbangan aktivitas anak.
Jakarta, Merdeka.com - Pakar Budaya dan Komunikasi Digital dari Universitas Indonesia, Firman Kurniawan, membagikan sejumlah kiat esensial bagi orang tua dalam mendampingi anak-anak mereka mengakses serta memainkan game online. Pendampingan ini bertujuan agar aktivitas digital tersebut tetap sehat dan tidak berujung pada kecanduan.
Kiat-kiat yang disampaikan Firman mencakup pentingnya orang tua mendalami jenis game yang dimainkan anak. Selain itu, memastikan aktivitas fisik anak di ruang nyata juga harus terpenuhi sebagai bagian dari keseimbangan hidup mereka.
Pendekatan ini diharapkan dapat membantu orang tua menciptakan lingkungan bermain game yang positif. Dengan demikian, anak-anak dapat menikmati pengalaman digital tanpa mengorbankan kesehatan fisik dan mental mereka di masa depan.
Memahami Daya Tarik dan Membuat Kesepakatan Bermain Game
Menurut Firman, langkah pertama yang harus dilakukan orang tua adalah memahami daya tarik utama dari game yang dimainkan anak. Pemahaman ini krusial karena seringkali ada tekanan dari teman sebaya (peer pressure) yang membuat anak ingin ikut bermain.
"Pertama orang tua itu perlu tahu apa sih daya tarik yang menyebabkan gim itu dibicarakan dan sering dimainkan oleh anak karena pada kelompok anak-anak memang ada peer pressure (tekanan dari teman sebaya) sehingga mungkin agar sama (dengan teman), orang tua perlu mengizinkan, tapi, dengan catatan mendampingi dan sertai dialog, apa gunanya (permainan tersebut) dan buat kesepakatan soal lamanya bermain gim itu," kata Firman.
Orang tua tidak hanya perlu mendampingi secara fisik, tetapi juga harus memiliki pemahaman mendalam tentang game tersebut. Ini termasuk cara bermain dan berkomunikasi di dalamnya, sehingga dapat mengantisipasi dampak positif maupun negatif dari bermain game online.
Menyeimbangkan Dunia Digital dengan Aktivitas Fisik Nyata
Firman juga menekankan pentingnya menyeimbangkan kegiatan digital anak dengan aktivitas fisik di ruang nyata. Keseimbangan ini penting agar konsumsi konten-konten digital, termasuk game online, tidak menimbulkan kecanduan yang merugikan.
Saat ini, banyak komunitas yang aktif mengajak masyarakat, khususnya anak-anak, untuk bergerak dan bermain di ruang nyata. Salah satu contoh yang disebutkan adalah Kampoeng Dolanan di Surabaya, Jawa Timur, yang memperkenalkan permainan tradisional.
"Jadi, anaknya diajarkan interaksi langsung ini juga asik loh, main dan menggerakan tubuh itu membuat diri menjadi nyaman. Kegiatan-kegiatan ini benar-benar diciptakan daya tariknya," jelas Firman. Kegiatan semacam ini membantu anak merasakan kegembiraan dari interaksi langsung dan gerakan tubuh.
Peran Regulasi dan Klasifikasi Game untuk Keamanan Anak
Masalah kecanduan game online merupakan tantangan signifikan di era digital, terutama pada anak-anak. Survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2020 menunjukkan data yang mengkhawatirkan.
- Sekitar 71,3 persen anak usia sekolah telah menghabiskan waktu cukup lama dengan gawai mereka.
- Dari jumlah tersebut, 55 persen di antaranya menghabiskan waktu bermain game, baik online maupun offline, melalui gawai.
Sebagai respons terhadap kondisi ini, pemerintah memperkenalkan sistem klasifikasi game bernama Indonesia Game Rating System (IGRS). Sistem ini akan berlaku efektif mulai tahun 2026, mewajibkan pengembang game mencantumkan klasifikasi usia.
Klasifikasi IGRS dibagi berdasarkan kelompok usia pemain, yaitu 3+, 7+, 13+, 15+, dan 18+. Aturan ini bertujuan menjadi panduan bagi pemain dan orang tua untuk mengakses konten game sesuai dengan usia yang ditetapkan, sehingga menciptakan ruang bermain yang lebih aman bagi generasi muda.
Sumber: AntaraNews