Hari Buruh: Jejak Marsinah di Rumah Tua Nglundo
Semangatnya membela yang lemah, kata orang-orang, sudah tumbuh sejak masa kecil.
Di sebuah rumah sederhana di Dusun Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Setiap hari, sepasang suami istri sepuh menyapu halaman, menyiram bunga, dan sesekali menyeka bingkai foto yang menempel di dinding ruang tamu.
Wajah dalam foto itu adalah perempuan bernama Marsinah. Seorang buruh perempuan yang meninggal di tengah perjuangan meneriakkan suara keadilan. Kini rumah itu dihuni oleh budenya, Sini (62), dan pakdenya, Suraji (71). Mereka tidak hanya menyimpan, tapi juga merawat jejak kenangan perempuan pejuang kaum buruh.
“Dari kecil, Marsinah itu keras, bukan dalam arti buruk. Tapi keras kepala untuk kebenaran,” kenang Sini, sembari menatap foto keponakan yang baginya seperti anak kandung sendiri.
Sejak usia dua tahun, Marsinah sudah yatim ibu. Ayahnya, Mastin, kemudian menikah lagi. Beban pengasuhan Marsinah kemudian dipikul oleh Sini dan Suraji.
“Saya anggap seperti anak sendiri. Kalau sekolah juga rajin bantu jualan gorengan.”
Marsinah lahir dari keluarga sederhana pada 10 April 1969. Dia bersekolah di SD Nglundo, lalu lanjut ke SMP Negeri 5 Nganjuk, dan SMA Muhammadiyah Nganjuk. Sejak kecil, Marsinah dikenal berbeda. Dia gemar membaca dan berpikir kritis. Sebuah kebiasaan yang tak lazim, apalagi untuk anak desa di era Orde Baru.
Semangatnya membela yang lemah, kata orang-orang, sudah tumbuh sejak masa kecil. Kades Nglundo, Ansori menyimpan memori keberanian perempuan yang jadi simbol perlawanan buruh.
“Saya memang terpaut umur dengan Mbak Marsinah. Tapi yang saya tahu Mbak Marsinah itu pemberani. Kalau cari rumput aja, duel sama anak laki-laki pun diladenin.” katanya.
Motor Gerakan Buruh
Selepas lulus sekolah, Marsinah bekerja di PT Catur Putra Surya, Sidoarjo. Dia menjadi bagian dari gerakan buruh, menuntut hak, menolak ketidakadilan, dan akhirnya menjadi simbol keberanian yang dibayar mahal.
Tahun 1993, Marsinah diculik dan ditemukan tak bernyawa dengan tubuh penuh luka. Sejak saat itu, namanya tak pernah lagi hanya sebatas nama. Ia menjadi nyala api yang tak padam dalam ingatan kaum buruh dan pembela hak asasi manusia.
"Marsinah itu bukan sekadar pahlawan nasional bagi buruh. Ia adalah anak desa kami. Ia lahir di sini, tumbuh di sini, dan dari sini pula ia belajar soal keberanian,” ucap Ansori yang kini menjadi penjaga narasi tentang Marsinah di kampungnya sendiri.
Hari ini, 1 Mei 2025, tepat Hari Buruh Internasional, rumah itu kembali hidup dengan langkah-langkah pelan.
Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, bersama serikat pekerja dari berbagai daerah berencana datang untuk tabur bunga di makam Marsinah.
Prosesi ini bukan hanya ritual tahunan, tapi bentuk penghormatan atas perjuangan dan warisan moral yang ditinggalkan Marsinah: tentang harga diri, upah yang layak, dan keberanian bersuara.
Rumah Marsinah tak sunyi. Dia tak pernah benar-benar pergi. Foto-foto dan piagam penghargaan yang berjajar di ruang tamu bukanlah nostalgia, tapi pengingat: bahwa dari dusun kecil ini, suara kebenaran pernah menggelegar menembus tirani.
Selama dunia kaum buruh masih membutuhkan keadilan, nama Marsinah akan terus dipanggil. Bukan sebagai korban, tapi sebagai simbol keberanian yang tak bisa dibungkam waktu.