Suasana peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Monas, Jakarta, pada Kamis (1/5), menjadi lebih bermakna ketika Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa pemerintah telah sepakat mengangkat tokoh buruh Marsinah sebagai pahlawan nasional.
Pengumuman itu disambut tepuk tangan ribuan buruh yang memadati area Monumen Nasional. Nama Marsinah, yang telah lama dikenal sebagai simbol perjuangan buruh di Indonesia, akhirnya diusulkan secara resmi oleh serikat pekerja sebagai figur yang mewakili perjuangan kelas pekerja.
"Coba kalian berembuk, usulkan pahlawan dari kaum buruh. Dan mereka sampaikan: bagaimana kalau Marsinah jadi pahlawan nasional. Asal seluruh pimpinan buruh sepakat, saya akan mendukung," ujar Prabowo dalam orasinya.
Advertisement
Bagi kaum buruh, Marsinah bukan sekadar nama. Ia adalah simbol keberanian di masa sulit, suara yang menolak dibungkam, bahkan oleh rezim paling otoriter sekalipun.
Perempuan kelahiran Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, pada 10 April 1969 ini dikenal aktif memperjuangkan hak-hak buruh di era Orde Baru era yang terkenal represif terhadap aktivisme pekerja.
Setelah lulus SLTA, Marsinah merantau ke Surabaya pada 1989. Ia tinggal bersama kakaknya Marsini dan bekerja di pabrik plastik, sembari berjualan nasi bungkus demi menyambung hidup.
Mimpinya untuk kuliah harus kandas karena keterbatasan ekonomi. Namun, keterbatasan itu tak menghalanginya untuk memperjuangkan sesuatu yang lebih besar: keadilan bagi buruh.
Pada tahun 1990, Marsinah bergabung dengan PT Catur Putra Surya (PT CPS), sebuah pabrik arloji di Sidoarjo. Di sana, ia bergabung dengan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dan menjadi motor penggerak perjuangan buruh, terutama soal kenaikan upah.
Advertisement
Puncak perjuangan Marsinah terjadi pada Mei 1993, ketika ia ikut dalam serangkaian aksi mogok dan perundingan dengan manajemen pabrik menyusul instruksi pemerintah untuk menaikkan gaji buruh sebesar 20 persen.
Ketegangan memuncak ketika 13 buruh ditangkap dan dipaksa mengundurkan diri. Marsinah, yang saat itu masih aktif dalam proses perundingan, dilaporkan hilang setelah mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan nasib rekan-rekannya.
Tiga hari kemudian, jenazah Marsinah ditemukan dalam kondisi mengenaskan di hutan Wilangan, Nganjuk.
Hasil autopsi mengungkapkan bahwa ia mengalami penyiksaan berat sebelum akhirnya meninggal. Ia juga diduga menjadi korban kekerasan seksual.
Hingga kini, kasus pembunuhan Marsinah masih menyisakan tanda tanya besar pelakunya belum ditemukan.
Advertisement
Meski jasadnya telah tiada, semangat Marsinah terus hidup. Ia dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan. Namanya diabadikan dalam lagu, buku, hingga film dokumenter. Pada tahun 1993, ia dianugerahi penghargaan HAM Yap Thiam Hien atas dedikasinya memperjuangkan hak buruh.
Kini, lebih dari tiga dekade sejak kematiannya, suara Marsinah kembali menggema, kali ini di tengah upaya negara untuk mengakui perjuangannya secara resmi sebagai pahlawan nasional.
Bagi ribuan buruh yang memadati Monas, Marsinah bukan hanya masa lalu. Ia adalah cermin dari harapan, keberanian, dan tekad untuk melanjutkan perjuangan demi keadilan sosial.