Dari Balai Desa, Merawat Warisan Keberanian Marsinah
Mereka membawa ingatan dan kerinduan pada seorang perempuan yang pernah mengguncang sejarah: Marsinah.
Rabu (30/4) malam. Balai Desa Nglundo tampak lebih terang dari biasanya. Bukan karena banyak lampu yang dinyalakan, tapi karena hati orang-orang yang berkumpul di dalamnya menyala oleh kenangan dan doa.
Satu per satu warga datang. Tanpa spanduk dan toa. Mereka membawa ingatan dan kerinduan pada seorang perempuan yang pernah mengguncang sejarah: Marsinah.
Istighosah digelar dalam rangka Haul ke-32 Marsinah dan sekaligus menjelang 1 Mei 2025, peringatan Hari Buruh Internasional. Doa bersama yang berlangsung sederhana itu terasa hangat, penuh makna.
Di tengah lantunan doa-doa, nama Marsinah disebut dengan penuh khidmat. Seakan dia hadir di tengah-tengah mereka.
Tak ada tangis, tapi keheningan yang dalam. Seolah semua yang hadir paham. Bahwa malam itu bukan sekadar mengenang, melainkan menyambung kembali warisan keberanian yang dulu sempat dibungkam oleh kekuasaan.
“Ini bentuk rasa hormat kami. Marsinah itu bukan sekadar pahlawan nasional bagi buruh. Ia adalah anak desa kami. Ia lahir di sini, tumbuh di sini, dan dari sini pula ia belajar soal keberanian,” ucap Ansori, Kepala Desa Nglundo, yang kini menjadi penjaga narasi tentang Marsinah di kampungnya sendiri.
Istighosah ini bukan tradisi tahunan yang lahir dari pemerintah. Momen ini tumbuh dari warga yang tak ingin nama Marsinah hilang ditelan zaman. Ada semangat yang terus mereka rawat. Bahwa sejarah tak hanya hidup di buku, tapi juga di ruang-ruang kecil tempat kenangan terus dibacakan dengan air mata dan doa.
Suara Kecil di Tengah Rezim Besar
Marsinah lahir pada 10 April 1969 dari keluarga sederhana. Hidup di bawah bayang-bayang rezim Orde Baru, ia adalah gambaran nyata jutaan rakyat kecil Indonesia pada masa itu: semangat besar, kesempatan kecil.
Setelah tamat SLTA, cita-cita melanjutkan kuliah kandas kerasnya ekonomi keluarga. Pada 1989, Marsinah memilih jalan yang ditempuh banyak anak muda desa. Merantau ke Surabaya. Di kota besar itu, dia tinggal menumpang di rumah kakaknya, Marsini.
Bekerja di pabrik plastik SKW di Kawasan Industri Rungkut, Marsinah mulai merasakan kerasnya dunia industri. Upah minim, jam kerja panjang, dan perlakuan semena-mena menjadi makanan sehari-hari. Demi bertahan, ia bahkan berjualan nasi bungkus di sela-sela jam kerjanya.
Setelah beberapa kali berpindah pekerjaan, akhirnya ia bergabung dengan PT Catur Putra Surya (PT CPS) di Porong, Sidoarjo, pada 1990. Di pabrik arloji ini, Marsinah menemukan bukan hanya penghidupan, tetapi juga medan perlawanan.
Marsinah tidak hanya bekerja. Ia bersuara. Di tengah tekanan otoritarianisme Orde Baru, keberanian itu tidak biasa. Ia aktif di Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) unit kerja PT CPS, serikat buruh resmi bentukan pemerintah, tetapi Marsinah mendorongnya menjadi alat perjuangan yang sesungguhnya.
Tahun 1992, Gubernur Jawa Timur mengeluarkan surat edaran yang mengimbau kenaikan upah buruh sebesar 20 persen. Namun, PT CPS, seperti banyak perusahaan lain, mengabaikannya.
Ketika buruh PT CPS berencana mogok kerja, Marsinah terlibat langsung dalam rapat-rapat di Tanggulangin. Ia ikut menyusun 12 tuntutan kepada perusahaan. Tanggal 3 Mei 1993, para buruh menggelar aksi. Mereka mencegah rekan-rekannya masuk kerja.
Koramil setempat segera turun tangan. Tekanan militer terhadap buruh adalah hal biasa di masa itu, di mana stabilitas dianggap lebih penting daripada keadilan.
Tanggal 5 Mei 1993, 13 buruh “diamankan” ke Kodim Sidoarjo. Mereka dipaksa mengundurkan diri dari perusahaan. Marsinah, mendengar kabar itu, berangkat ke Kodim untuk mencari kejelasan.Malam itu, Marsinah menghilang.
Jasad Marsinah ditemukan tiga hari kemudian di hutan jati Wilangan, Nganjuk. Tubuhnya menunjukkan tanda-tanda penyiksaan berat: luka memar, patah tulang, bahkan indikasi pemerkosaan.
Autopsi menyimpulkan bahwa Marsinah tewas pada 8 Mei 1993 — sehari sebelum jasadnya ditemukan.
Publik geger. Media nasional memberitakan secara luas. Aktivis hak asasi manusia menuntut pengusutan tuntas. Namun, alih-alih transparansi, justru muncul rekayasa kasus: sejumlah orang dipaksa mengaku bertanggung jawab di bawah tekanan.
Upaya penuntasan kasus Marsinah berulang kali mandek. Laporan Komnas HAM, desakan LSM, bahkan tekanan internasional tak mampu menggerakkan aparat. Sampai hari ini, pembunuhan Marsinah tetap menjadi salah satu luka terbuka terbesar dalam sejarah perburuhan Indonesia.
Sebagian besar warga yang hadir di Balai Desa semalam mengenal Marsinah bukan dari koran atau pidato. Mereka mengenalnya sebagai gadis kecil yang berlari di pematang sawah, membantu jualan gorengan ke sekolah, atau duduk membaca di serambi rumah.
Mereka tahu Marsinah bukan hanya buruh yang dibunuh karena bersuara, tapi juga perempuan tangguh yang tak gentar bahkan saat mencari rumput di sawah, seperti dikenang oleh kepala desa.
“Marsinah itu sejak kecil keras, bukan galak, tapi punya prinsip.”
Malam itu, tak ada orasi. Tak ada yel-yel. Tapi yang bergema justru lebih dalam dari itu: doa-doa yang dipanjatkan oleh warga, sebagai tanda bahwa Marsinah tak pernah benar-benar pergi. Ia hidup di tiap doa yang dikirimkan, di tiap cerita yang dituturkan, dan di tiap langkah kecil perempuan desa yang kini berani menyuarakan haknya.
Haul Marsinah ke-32 bukan sekadar agenda memperingati kematian. Tapi sebuah perayaan diam-diam atas nyala api perjuangan yang tak pernah padam. Dari Balai Desa inilah suara Marsinah kembali menyusup ke ruang-ruang kesadaran: bahwa keberanian, kebenaran, dan keadilan, tidak akan pernah mati.
Monumen yang Sunyi
Sunyi di Jalan Raya Baron. Setiap kendaraan yang melintas di Jalan Raya Baron, Nganjuk, mungkin sekilas saja memandang patung itu. Patung seorang perempuan muda dengan tangan terkepal ke udara. Berdiri kokoh di atas alas berbentuk bunga teratai.
Tidak banyak yang berhenti. Tidak banyak yang bertanya. Padahal, di bawah patung berwarna emas itu, tersimpan kisah tentang keberanian melawan ketidakadilan. Suara perlawanan paling mahal yang harus dibayar karena nyawanya dihilangkan.
Nama itu terpahat jelas: Marsinah. Sebuah nama yang bertahun-tahun menggetarkan ruang-ruang sunyi di tengah kerasnya dunia perburuhan Indonesia.
Monumen Pahlawan Buruh Marsinah berdiri di tanah kelahirannya, Desa Nglundo, Sukomoro, Nganjuk. Letaknya persis di tepi jalan raya, tak jauh dari pemakaman umum tempat jasadnya beristirahat.
Monumen ini bukan yang pertama. Patung sebelumnya sempat roboh ditabrak truk pada 2014. Tapi, bahkan kecelakaan itu pun tak mampu menghapus jejak perjuangan Marsinah. Patung baru segera dibangun, lebih gagah, lebih bersuara dalam diamnya.
Kades Ansori telah mengusulkan renovasi patung Marsinah yang kini berdiri di dusun tersebut. Baginya, Marsinah bukan sekadar pahlawan, tapi putri Nglundo yang semangatnya perlu terus disemai.
“Kalau ada niatan dari serikat buruh atau aktivis untuk buat patung yang lebih besar, silakan. Pemerintah desa siap bantu,” katanya.
Marsinah memang tidak pernah mendapatkan keadilan. Namun, perjuangannya tidak sia-sia. Ia menjadi simbol perlawanan buruh di Indonesia, sebuah ikon bagi keberanian melawan ketidakadilan sistemik.
Namanya hidup di tiap peringatan Hari Buruh. Kisahnya menjadi bahan lagu, puisi, novel, hingga pentas teater. Ia dianugerahi Penghargaan Yap Thiam Hien — penghargaan bergengsi untuk perjuangan hak asasi manusia di Indonesia.
Lebih dari itu, Marsinah mengajarkan satu pelajaran abadi: bahwa hak buruh bukan hadiah dari negara atau pengusaha, melainkan hasil perjuangan yang sering kali menuntut pengorbanan besar.
Hari ini 1 Mei 2025, monumen Marsinah berdiri diam di Nglundo. Dia mengingatkan bahwa perjuangan buruh tidak selesai. Bahwa keadilan masih sering menjadi barang mewah di negeri ini. Bahwa di balik setiap hak yang kita nikmati — upah layak, jam kerja manusiawi, perlindungan hukum — ada orang-orang seperti Marsinah yang berani membayar dengan nyawa.Dalam setiap suara buruh yang menuntut haknya hari ini, ada gema nama itu. Marsinah.