Mengenal Limwa, Terkenal Cerdas sejak Kecil hingga Jadi Raja yang Adil dan Suka Menolong
Ia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sayang padanya
Ia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sayang padanya
Mengenal Limwa, Terkenal Cerdas sejak Kecil hingga Jadi Raja yang Adil dan Suka Menolong
Latar Belakang
Pangeran Limwa lahir di lereng Gunung Kawi sebagai putra bungsu Dewasimha, Raja Kanjuruhan.
Sejak kecil, Limwa terkenal cerdas dan berbakat. Ia juga sangat disayang oleh orang tuanya.
Sang ayah pun memfasilitasi Limwa agar tumbuh optimal dengan bakat-bakat yang dimilikinya.
Mengutip Instagram @amazingmalang, Rabu (24/4/2024), seiring bertambahnya usia, Limwa menunjukkan bakat kepemimpinannya. Dia selalu berusaha membantu orang lain dan berhasil menyelesaikan masalah.
Masa Dewasa
Raja Dewasimha sangat bangga kepada putranya. Ia memberikan pelatihan khusus kepada Limwa untuk mempersiapkannya menjadi raja di masa depan.
Berkat perhatian orang tuanya, Limawa menjadi pemuda agah berani dan penuh kasih sayang .
Kelak, Pangeran Limwa mewarisi takhta ayahnya sebagai Raja Kanjuruhan dan dikenal sebagai Gajayana. Pada masa kepemimpinannya, Kerajaan Kanjuruhan mengalami perkembangan pesat.
Dicintai Rakyat
Raja yang memiliki gelar bangsawan Gajayanalingga Jagatnata ini sangat dicintai oleh para brahmana dan rakyatnya karena membawa ketenteraman di seluruh negeri.
Mengutip situs resmi Kelurahan Sumbersari Kota Malang, pada masa kepemimpinan Gajayana, rakyat hidup aman, tenteram, dan terhindar dari malapetaka serta upaya pemberontakan.
Pemerintahan
Gajayana berkuasa selama 29 tahun (760-789). Gajayana beristrikan Dewi Setrawati, anak pribumi desa Kanjuruhan. Di desa inilah Gajayana mendirikan istana dan sejak itu pusat pemerintahan pindah ke Kanjuruhan.
Gajayana memiliki putri bernama Satyadarmika yang menikah dengan dyah Sangkhara atau Rakai Panangkaran Sri Maharaja Tejahpurnapana Panangkarana, raja Mataram di Jawa Tengah (754-782). Dari pernikahan itu lahirlah Dyah Panunggalan.
Mengutip Wikipedia,Rakai Panunggalan berkuasa di bagian utara Jawa, yaitu di daerah Mamratipura (Medang) selama 18 tahun (782-800). Ada dugaan raja inilah yang menyatukan Kanjuruhan dengan Mataram, sepeninggal Gajayana wafat tahun 789.
Dugaan ini didasarkan pada namanya Panunggalan, yang berarti ‘penyatuan’.