Potret Lawas Dua Surat Kabar yang Pertama Terbit di Jogja, Sama-Sama Gunakan Nama "Mataram"
Tradisi surat kabar masuk ke Yogyakarta bersamaan dengan mulai stabilnya kondisi perpolitikan saat itu.
Tradisi surat kabar masuk ke Yogyakarta bersamaan dengan mulai stabilnya kondisi perpolitikan saat itu.
Potret Lawas Dua Surat Kabar yang Pertama Terbit di Jogja, Sama-Sama Gunakan Nama "Mataram"
Surat kabar di Yogyakarta sudah ada sejak zaman Belanda. Tradisi surat kabar masuk ke Yogyakarta bersamaan dengan mulai stabilnya kondisi perpolitikan ditandai dengan kebijakan pembukaan pabrik gula dan penyewaan tanah.
Melalui sebuah unggahan pada 9 Mei 2024, akun Instagram @sejarahjogya menampilkan dua surat kabar yang pertama kali terbit di Jogja.
Koran satu bernama “Mataram Courant” dan satunya lagi bernama “Bintang Mataram”. Kedua koran itu sama-sama menggunakan nama Mataram.
Dikutip dari @sejarahjogya, Mataram Courant terbit perdana pada 15 Januari 1877. Pemilihan nama itu mengacu pada sejarah kerajaan dan bukan dari nama kota.
Beberapa koran yang terbit sezaman biasanya menggunakan nama lokasi. Sebagai contoh, surat kabar di Batavia menggunakan nama Bataviasche Koloniale Courant.
Kemungkinan nama “Mataram” dipilih mengikuti pola “Preanger Bode” di Bandung atau “Deli Courant” di Medan. Jadi, alih-alih menggunakan nama “Djocjakarta Courant” atau Djocjakarta Nieuwsblad”, surat kabar ini menggunakan nama Mataram.
Redaksi surat kabar ini berkantor di Toegoe Weg (Sekarang Jalan Margo Utomo) Nomer 58. Kalau sekarang kemungkinan lokasinya berdekatan dengan kantor surat kabar Kedaulatan Rakyat.
Di foto lainnya, ada surat kabar “Bintang Mataram”. Surat kabar ini memiliki segmentasi pembaca kalangan Tionghoa. Uniknya, surat kabar ini menggunakan bahasa Melayu, bukan bahasa Mandarin. Diketahui surat kabar ini terbit sekitar tahun 1920-an.
Selain kedua surat kabar itu, pada periode yang tak terlalu terpaut jauh, di Yogyakarta terbit pula surat kabar Sedya Tama. Surat kabar ini terbit pada tahun 1930-an dan menjadi satu-satunya koran berbahasa Jawa.
Saat Indonesia berada di bawah penjajahan Jepang, semua surat kabar dan majalah yang tidak mendapat izin Istimewa dilarang terbit. Namun pemerintah Jepang tetap membiarkan Sedya Tama terbit dengan syarat harus menggunakan bahasa Indonesia.