Dulunya Jadi Ibu Kota Kerajaan Mataram Islam, Begini Filosofi Tata Kota Kawasan Kotagede di Masa Lampau

Kota kuno Kotagede dibangun dengan konsep filosofi "Catur Gatra" dengan empat elemen penting yaitu keraton, pasar, alun-alun, dan masjid.

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Dulunya Jadi Ibu Kota Kerajaan Mataram Islam, Begini Filosofi Tata Kota Kawasan Kotagede di Masa Lampau
Dulunya Jadi Ibu Kota Kerajaan Mataram Islam, Begini Filosofi Tata Kota Kawasan Kotagede di Masa Lampau (Merdeka.com)

Kotagede merupakan salah satu kawasan wisata sejarah yang ada di Kota Yogyakarta. Lokasinya berada di ujung tenggara kota dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Bantul.

Dulunya, Kotagede merupakan pusat pemerintahan dan Ibu Kota Kerajaan Mataram Islam. Kota kuno itu didirikan langsung oleh Panembahan Senopati, raja pertama Mataram pada tahun 1532 Masehi.

Saat membangun kota itu, Panembahan itu memiliki filosofi konsep penataan kota bernama “Catur Gatra”. Konsep penataan kota ini dibangun atas empat elemen penting yaitu keraton, pasar, alun-alun, dan masjid.

Lalu seperti apa konsep tata kota itu diterapkan? Berikut selengkapnya:

Penataan Letak Bangunan Penting di Kotagede

Kotagede sudah menjadi salah satu spot lokasi wisata di Yogyakarta.
Kotagede sudah menjadi salah satu spot lokasi wisata di Yogyakarta. ( Istimewa) @ 2023 merdeka.com

Keraton atau istana merupakan pusat pemerintahan di Kotagede. Bangunannya dikelilingi oleh pohon beringin tua sebagai simbol kekuasaan. Persis di sebelah utara keraton ada alun-alun. Pada masanya alun-alun adalah pusat pengembangan seni budaya dan tempat latihan perang. Di sebelah utara alun-alun, terdapat pasar sebagai pusat perekonomian. Sementara letak masjid biasanya berada di sebelah barat alun-alun.

Saat ini yang tersisa di Kotagede tinggal pasar dan masjid. Sementara bekas istana sudah hilang tak bersisa dan lapangan alun-alun kini sudah dipenuhi rumah-rumah penduduk sehingga tidak diketahui keberadaannya.

Filosofi Catur Tunggal

Suasana di komplek Masjid Mataram Kotagede
<p>Suasana di komplek Masjid Mataram Kotagede. (Dok: Instagram @damaiserizawa)</p> @ 2023 merdeka.com

Mengutip Goodnewsfromindonesia.id, filosofi Catur Tunggal menggambarkan bagaimana setiap elemen berfungsi sebagai satu kesatuan yang harmonis. Dalam konteks ini, struktur tata kota dirancang untuk memastikan agar semua aspek kehidupan masyarakat Kotagede berintegrasi dengan ajaran agama dan kebutuhan sosial.

Tak hanya di Kotagede, filosofi Catur Tunggal ini juga diterapkan pada keraton lain yang pernah dibangun Kerajaan Mataram Islam seperti Keraton Plered, Kartasura, dan sekarang masih terlihat di Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta.

Selain empat bangunan utama dalam filosofi Catur Tunggal, di Kotagede juga dibangun area pemakaman, taman bermain, dan benteng. Ada juga kawasan permukiman penduduk dari berbagai latar belakang etnis dan budaya.

Arsitektur Bangunan di Kotagede

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Jika dilihat dari segi arsitekturnya, bangunan Kotagede dapat menggambarkan jalannya tiga periodesasi wilayah tersebut, yaitu masa Mataram Awal (abad 17 Masehi) yang bercorak Hindu-Jawa-Islam, masa Kotagede bercorak Jawa-Islam, dan memasuki abad ke-20 yang bercorak Indische perpaduan Jawa.

Sebagai contoh bangunan Joglo di sana. Dikutip dari Jogjakota.go.id, bangunan Joglo pada periode Jawa-Hindu memiliki ornamen berupa ukiran daun-daunan, sulur-suluran, bunga teratai, dan gambar binatang. Sementara bangunan Joglo pada periode Jawa-Islam memiliki ukiran dengan ornamen kaligrafi Islam. Sedangkan bangunan Joglo pada masa Jawa-kolonial ukirannya berupa mahkota kerajaan Belanda dengan perpaduan besi, jendela besar, atau kaca patri khas barat.

Toponim Kotagede

Bedug di Masjid Mataram Kotagede
<p>Bedug di Masjid Mataram Kotagede yang ada di Yogyakarta. (Dok: Instagram @iniyogyakarta)</p> @ 2023 merdeka.com

Berdasarkan peninggalan arkeologis dan toponim, diketahui bahwa Kotagede terdiri atas sejumlah kampung yang dihuni oleh kelompok masyarakat tertentu. Nama-nama toponim tempat di Kotagede saat ini biasanya berhubungan dengan profesi, status sosial, atau nama seorang tokoh.

Beberapa toponim Kotagede itu antara lain Pandheyan, Samakan, Sayangan, Mranggen (pengrajin), Lor Pasar, Prenggan, Trunojayan, Jagaragan, Boharen, Purbayan, Jayapranan, Singosaren, Mandarakan, Kauman, Mutihan (rohaniawan dan ulama), Alun-Alun, Kedhaton, dan Dalem.

Hingga kini, kawasan Kotagede masih semarak dengan berbagai aktivitas sehari-hari manusia. Di sana masih banyak dijumpai rumah-rumah tradisional peninggalan zaman dulu yang membuat seolah-olah waktu berjalan lambat di kota kuno itu.

Rekomendasi