Mengenal Amir Sutarga Bapak Museum Indonesia, dari Sosok Perwira TNI hingga Perintis Museum
Atas jasa-jasanya, Amir memperoleh anugerah “Life Time Achievement” di bidang permuseuman pada 1 Juni 2012.
Hari Museum Nasional diperingati setiap tanggal 12 Oktober setiap tahunnya. Momen tanggal itu ditetapkan berdasarkan Musyarawah Museum se-Indonesia yang pertama kalinya diadakan di Yogyakarta pada tahun 1962.
Bicara tentang museum di Indonesia maka akan bicara mengenai sosok Mohammad Amir Sutarga. Dia didaulat sebagai Bapak Permuseuman Indonesia. Tanda kehormatan itu diperoleh sebagai kontribusinya dalam mengawal perkembangan museum di tanah air.
Ia pun telah beberapa kali menulis karya terkait museum seperti Museum Etnografi: Perkembangan dan Fungsinya di Zaman Sekarang (1958), Persoalan Museum di Indonesia (1962), dan Studi Museologia (1991).
Ia pun juga dikenal sebagai penerjemah buku dan novel berbahasa asing. Lalu seperti apa perjalanan hidup Amir Sutarga? Berikut selengkapnya:
Ikut Berperang demi Kemerdekaan RI
Dikutip dari Ugm.ac.id, Mohammad Amir Sutarga lahir di Rangkasbitung, Lebak pada 5 Maret 1928. Dia merupakan anak sulung dari pasangan M. Ilyas Sutarga dan Siti Mariah.
Ia sebenarnya bercita-cita ingin menjadi seorang ahli perkapalan dan menjalani studi di Belanda. Namun ia gagal mewujudkan mimpinya karena pecahnya Perang Dunia II pada 5 Maret 1942.
Ia pun akhirnya memutuskan untuk bergabung ke dalam dunia militer. Saat itu, ia juga turut berperang dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Berkat kecerdasannya, Amir muda ditugaskan pada bagian intelijen sebagai perwira penghubung.
Pada tahun 1947, di usianya yang ke 19 tahun, ia telah menyandang salah satu pangkat perwira di Tentara Nasional Indonesia (TNI) yaitu Letnan Dua dalam Divisi Siliwangi.
Karier di Bidang Permuseuman
Perkenalannya dengan dunia museum terjadi saat ia bertemu dengan van der Hoop, seorang ilmuwan yang bekerja di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (sekarang Museum Nasional). Hoop memboyong Amir ke Jakarta untuk belajar ilmu etnologi. Pada tahun 1952, Hoop mengangkat Amir menjadi redaktur penerbitan.
Karier Amir terus menanjak. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris BGKW. Selanjutnya ia menerima beasiswa untuk belajar museum di Eropa Barat. Sepulang dari Eropa, Amir kembali menimba ilmu Antropologi di Universitas Indonesia. Hingga akhirnya pada tahun 1962, Amir diangkat menjadi Kepala Museum Pusat dan selanjutnya menjadi Direktur Permuseuman.
Dapat Penghargaan
Di bidang akademik, Amir Sutarga juga dikenal sebagai perintis dan pengembang Museum Nasional. Ia juga menjadi perintis berdirinya sejumlah museum di pemerintah provinsi, pemerintah daerah, dan museum pribadi.
Saat mengunjungi Paris pada tahun 1995, Amir meminta kepada UNESCO untuk mendatangkan tenaga ahli yang dapat membantu pengembangan museum di Indonesia. Keinginan itu terealisasi dengan kehadiran Jhon Irwin, ahli museum dari Victoria & Albert Museum.
Atas jasa-jasanya, Amir memperoleh anugerah “Life Time Achievement” di bidang permuseuman pada 1 Juni 2012 dalam acara Museum Award. Tepat setahun setelah ia menerima penghargaan itu, yaitu pada 1 Juni 2013, Amir menghembuskan nafas terakhir dan dimakamkan di Pandeglang, Banten.