Melihat Budidaya Melon di Desa Kedungpoh Gunungkidul, Untung Jutaan Rupiah Sekali Panen
Budidaya itu dikembangkan di dalam sebuah greenhouse bernama Lumbung Mataraman Kedungpoh.
Budidaya itu dikembangkan di dalam sebuah greenhouse bernama Lumbung Mataraman Kedungpoh.
Melihat Budidaya Melon di Desa Kedungpoh Gunungkidul, Untung Jutaan Rupiah Sekali Panen
Pertanian menjadi salah satu sektor yang mengangkat perekonomian negara. Tak heran banyak penduduk di Indonesia, terutama yang tinggal di desa-desa, berprofesi sebagai petani.
Di Desa Kedungpoh, Kecamatan Nglipar, Gunungkidul, petani setempat mengembangkan budidaya melon kualitas premium. Budidaya itu dikembangkan di dalam sebuah greenhouse bernama Lumbung Mataraman Kedungpoh.
Direktur Organisasi Lumbung Mataraman Kedungpoh, Didik Purnomo mengatakan, selain melon, lahan pertanian Lumbung Mataraman juga ditanami berbagai jenis tanaman holtikultura seperti cabai, bawang, anggur, markisa, pepaya, dan timun.
Didik menyebutkan, di antara berbagai tanaman holtikultura yang dibudidayakan, melon menjadi komoditas yang diunggulkan dari Lumbung Mataraman Kedungpoh.
Hasil produksinya langsung masuk ke pasar karena masa panen yang terbilang lebih cepat sekitar dua bulan untuk sekali panen.
Dikutip dari Instagram @humasjogja, budidaya melon di Gunungkidul masih terbilang jarang sehingga hasil panen melon berjenis golden kinanti dan sweet lavender saat dijual langsung ludes dalam kurun waktu satu sampai dua hari.
Hasil penjualannya menghasilkan keuntungan berlipat dari modal yang dikeluarkan. Setelah dua kali panen, saat ini budidaya melon tersebut tengah memasuki masa penanaman ketiga.
Didik mengatakan, untuk masa tanam, para petani di sana mengeluarkan modal sebesar Rp2 juta. Setelah panen hasilnya dijual dengan total pendapatan Rp8 juta. Hasil keuntungan itu digunakan untuk modal selanjutnya hingga biaya perawatan.
“Jadi kita masuk ke industri pertanian modern. Contohnya kita tanam melon tapi tetap hitung-hitungan. Kalau kita rugi, ya ngapain kita tanam,” kata Didik.
Didik mengatakan, dalam sekali panen, melon kualitas premium yang dihasilkan ada 300 buah. Satu melon memiliki berat rata-rata 2 kilogram. Pada panen pertama, buah melon dijual seharga Rp18.000 per kilogram.
Masa budidaya melon ketiga selanjutnya dilakukan secara semi modern dengan menggunakan alat timer untuk membantu proses penyiraman, sehingga menjadi lebih efektif dan efisien.
Sebagaimana Pergub DIY Nomor 24 Tahun 2024 tentang Pemanfaatan Tanah Kalurahan, penggunaan Tanah Kas Kalurahan oleh Pemerintah Kalurahan diperuntukkan sebagai lahan pertanian demi meningkatkan perekonomian masyarakat miskin setempat dan mengurangi angka pengangguran. Pada akhirnya, kesejahteraan masyarakat akan terwujud.