Kisah Kolam Renang Cikini yang Legendaris, Pribumi Pernah Dilarang Berenang karena Alasan Tak Masuk Akal
Kolam renang ini jadi yang populer di Batavia saat itu.
Kolam renang ini jadi yang populer di Batavia saat itu.
Kisah Kolam Renang Cikini yang Legendaris, Pribumi Pernah Dilarang Berenang karena Alasan Tak Masuk Akal
Kolam renang Cikini yang berlokasi di kompleks perhotelan Jalan Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat, menjadi salah satu tempat yang legendaris di ibu kota. Sejak zaman kolonial Belanda, lokasi ini sudah dibuka untuk umum dan menjadi destinasi wisata kota yang kesohor.
Dulunya, kolam renang Cikini jadi favorit warga Belanda dan Eropa yang tinggal di Batavia.
Namun label ekslusif sempat identik dengan tempat ini, sehingga warga pribumi pernah dilarang untuk berenang.
Sampai sekarang, tempat tersebut masih didatangi oleh banyak orang, baik untuk berenang maupun sekedar nostalgia di masa silam.
Dulunya bernama Zwembad Tjikini.
Merujuk kanal YouTube Candrian Attahiyyat, Senin (25/9), kolam renang ini dibangun pada 1920 dan diresmikan pada tahun 1925.
Ketika itu banyak warga Belanda dan Eropa yang menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata keluarga.
Disebutkan bahwa kolam renang Cikini mulanya bernama Zwembad Tjikini, atau kolam renang Cikini.
Awalnya orang pribumi boleh berenang
Dibukanya kolam renang Cikini membuat riuh warga seisi kota. Di awal-awal pembukaannya, seluruh etnis boleh berenang di sini termasuk kelompok pribumi.
Bahkan, warga Tionghoa juga bisa berenang bebas di tempat itu. Namun lambat laun terjadi pengelompokkan ras terutama oleh orang Belanda.
Lokasi itu menjadi ajang kekuatan melalui ajang balap renang yang tidak sehat. Belum lagi terjadi selumlah prahara rumah tangga akibat saling curi-curi pandang. Air kolam yang awalnya jernih jadi mudah kotor.
Setelah itu, pengelola mengeluarkan kebijakan agar pribumi dan anjing dilarang berenang di lokasi.
Alasan Pribumi Dilarang Masuk Kolam Renang Cikini
Setelah timbulnya kekacauan dan politik ras antar golongan akibat kolam renang tersebut, akhirnya dikeluarkan sebuah kebijakan bahwa hanya orang Belanda dan Eropa yang boleh berenang di kolam renang Cikini.
Jadi hanya orang-orang Belanda dan Eropa yang hanya diperbolehkan berenang di kolam renang Cikini.
“Dulu ada aturan, yang boleh berenang di sini hanyalah untuk orang-orang Eropa. Sedangkan orang lokal, adalah orang yang disebut dilarang masuk ke sini, karena kulitnya berwarna beda dari Belanda,” katanya.
Dulu terdapat bangunan tua
Selain terdapat dua buah kolam renang, di sekitar area juga terdapat bangunan untuk warga Belanda dan Eropa berteduh.
Bangunan ini berbentuk dua susun atap, dengan beberapa tiang penyangga yang berbahan susunan batu.
Bangunan ini awalnya ditempatkan di sisi kolam renang, juga biasa dijadikan tempat untuk melompat atau berkumpul.
Kolam renang Cikini saat ini
Saat ini, sisa kejayaan kolam renang Cikini secara fisik sudah tidak tersisa. Kolamnya pun tinggal satu unit, namun dengan ukuran yang sama dari kolam di masa silam.
Kondisinya masih terawat, dengan air yang bersih, jernih serta segar.
“Untuk kolamnya sendiri ini masih seukuran aslinya, tapi sudah dirombak dengan kedalaman yang ditambah jadi 3 meter dari 2,5 meter dulu. Untuk kolam kecil sekarang sudah dijadikan gedung,” kata pelatih renang di kolam renang Cikini, Taufan.
Jadi tempat nostalgia.
Menariknya, lokasi tersebut juga masih didatangi oleh warga yang dulu pernah atau sering berenang di kolam renang Cikini.
Tujuan mereka pun bermacam-macam, ada yang ingin berenang atau bahkan sekedar nostalgia karena pernah mengunjungi lokasi tersebut di masa silam.
“Dulu saya ke sini itu zaman SMP ya, di sebelahnya ada kebun binatang juga dulu,” kata pengunjung yang bernostalgia, Dede.
Saat ini kolam renang tersebut sudah jadi bagian dari sebuah hotel yang mengelolanya bernama Formule One.
Kolam renang juga direnovasi menjadi lebih indah dan nyaman oleh pengelola pada tahun 2008 lalu.