Kisah Cinta Perwira TNI & Gadis Palang Merah Berujung Tragis
Kisah cinta dua anak muda yang berjuang ini terhalang agresi militer Belanda I.
Romantika percintaan sepasang muda-mudi bersemi di tengah revolusi. Tak selalu seindah dongeng.
Kisah Cinta Perwira TNI & Gadis Palang Merah Berujung Tragis
Oetari dan Kapten Soewanda Saling Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama
Dalam sebuah pertempuran, tangan Soewanda terluka. Dia dirawat di Turen oleh Oetari yang menjadi anggota Palang Merah Indonesia.
Tak disangka, kedua insan muda itu ternyata saling jatuh cinta. Di tengah gemuruh perang, dua hati bertemu.
Singkat cerita, mereka pun berjanji untuk suatu hari bisa bersatu dalam mahligai rumah tangga.
Kisah Asmara dua insan ini terhalang oleh Agresi Militer Belanda I tahun 1947.
Belanda ingin kembali berkuasa di Indonesia yang telah merdeka.
Atas Nama Perjuangan Keduanya Harus Berpisah
Kapten Soewanda harus menunaikan tugas sebagai tentara: menghadapi musuh di garis terdepan.
Tak lama kemudian, Oetari mengikuti orangtuanya pindah ke Yogyakarta. Kontak antar mereka hanya bisa dilakukan lewat surat semata.
Di Stasiun Keduanya Berpisah
Kereta terakhir menuju Djawa Timoer sudah siap diberangkatkan. Di stasiun itu, seorang perwira muda dengan pakaian siap tempur berdiri bersama seorang gadis.
Kapten Soewanda melepas genggaman gadis itu dan melompat ke atas bordes gerbong terakhir.
Inikah perjumpaan terakhir? Inikah perpisahan untuk selamanya? Akankah Soewanda kembali?
“Kalau ada orang yang akan mengganggumu, dia harus melangkahi jasadku.”
Surat Oetari Tak Berbalas
Hingga sampailah suatu waktu, surat yang ditulis Oetari kembali dengan cap berawarna merah: Sudah Mati.
Oetari yang tak mau lekas percaya, kemudian memburu keberadaan kekasihnya. Namun karena situasi perang yang tengah berkecamuk, kabar tentang Kapten Suwanda tak jua dia dapati.
Kabar pasti baru diterimanya dari Kapten Djajoesman, seorang anggota intel tentara di Jawa Timur yang merupakan sahabat baik Oetari.
Menurut sang kapten, Soewanda memang telah gugur dalam suatu pertempuran seru yang terjadi di Klakah pada Juni 1949.
Kabar Duka dari Garis Depan
“Jenazah Kapten Soewanda, oleh tentara Belanda, diusung dan dipertontonkan kepada penduduk Klakah dan Lumajang…” demikian menurut Kapten Djajoesman.
Oetari pun terpukul mendengar berita itu. Tapi tak ada yang bisa dilakukannya selain menangis dan menangis.
Kisah romatis kedua pasangan pejuang itu ternyata harus berakhir tragis.
Kisah ini dituliskan Oetari dalam buku otobiografinya, Kereta Terakhir: Memoar Gadis Djoang.