Hari Buruh: Kisah Soerjopranoto ‘Si Raja Mogok’ Keturunan Bangsawan
"Karena dia pernah memukul salah satu pejabat orang Belanda," cerita Sejarawan Indonesia, Asep Kambali saat diwawancarai Merdeka.com.
Raden Mas Soerjopranoto sering memimpin aksi demonstrasi. Terutama menentang kebijakan pemerintah Hindia Belanda dan ketidakadilan sosial. Meski keturunan ningrat, Soerjopranoto justru dikenal lebih dekat dengan para tokoh pergerakan memperjuangkan hak rakyat kecil dan buruh. Hingga ia dilabeli sebagai ‘Raja Mogok’. Bahkan sampai pernah berurusan dengan hukum dan sempat masuk penjara.
“Karena dia pernah memukul salah satu pejabat orang Belanda,” cerita Sejarawan Indonesia, Asep Kambali saat diwawancarai Merdeka.com.
Soerjopranoto sangat revolusioner. Terlebih lagi, dia lahir di masa yang tepat. Di mana pada saat itu seluruh dunia, para buruh bersatu.
“Jadi istilah raja mogok itu sebenarnya di tasbihkan oleh media Belanda, melalui koran-koran yang terbit di masa itu dan dia dikenal sebagai raja mogok,” jelas Asep.
Soerjopranoto merupakan kakak dari Ki Hadjar Dewantara. Lahir dari sebuah keluarga darah biru. Soerjopranoto memang sangat dikenal di masa pergerakan kaum buruh. Karena upaya perjuangan Soerjopranowo di masa pergerakan itu sangat banyak. Salah satunya demonstrasi besar.
“Selain melalui organisasi organisasi yang ia geluti, pernah gabung di BO di Budi Utomo, lalu Sarekat Islam. Bahkan dia mendirikan perkumpulan sendiri, perkumpulan khusus buruh pabrik,” jelas Asep.
Raden Mas Soerjopranoto ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia yang dikukuhkan Presiden Soekarno pada 1959. Dia memiliki andil besar dalam perjuangan perlawanan pada masa penjajahan.
Secara genealogis, Soerjopranoto adalah seorang bangsawan. Ia adalah putra sulung dari Kangjeng Pangeran Harya (KPH) Surjaningrat, yang mana sang ayah sendiri adalah putra tertua dari Pakualam III. Artinya, Soerjopranowo adalah anak laki-laki pertama dari seorang putra mahkota.
Namun, hak naik takhta sang ayah menjadi batal karena ia terserang penyakit mata yang mengakibatkan kebutaan.Pada tahun 1900, Soerjopranoto mendirikan sebuah organisasi bernama Mardi Kaskaya. Sebagian besar pengurus organisasi ini adalah kerabat Pakualaman. Mardi Kaskaya kurang lebih mirip sebuah koperasi simpan-pinjam.
Pada akhir tahun 1901, Soerjopranoto mendirikan sebuah klub pertemuan dengan nama Societeit Soetrohardjo. Klub ini kurang lebih merupakan sebuah perpustakaan yang sangat sederhana. Dalam klub ini, orang bisa membaca berbagai bacaan, seperti surat kabar dan majalah.
Sehubungan dengan keberadaan Mardi Kaskaya, ruang gerak rentenir semakin berkurang. Mereka sering menemui umpatan dan cacian ketika keluar masuk kampung-kampung.
Akibatnya, konflik terbuka sering terjadi. Insiden-insiden tersebut dianggap oleh pejabat kolonial sebagai gangguan ketentraman umum karena keberadaan Mardi Kaskaya dengan Soerjopranoto sebagai pendirinya.
Oleh karena itulah pejabat kolonial 'menyekolahkan' Soerjopranoto ke MLS (Middelbare Landbouw School = Sekolah Menengah Pertanian) di Bogor.
Tak Mau Dikenal Sebagai Bangsawan
Asep mengatakan, Soerjopranoto mirip seperti Ki Hajar Dewantara. Katanya, Ki Hadjar dan Soerjo memilih keluar dari Istana sebagai bangsawan. Mereka, tidak mau dikenal sebagai bangsawan. Rela meninggalkan kehidupan mewah di Istana.
“Jadi dia berjuang bersama rakyat. Soerjopranoto seperti itu, dia bergaul dengan masyarakat dia bekerja juga, saat bekerja dia pernah mukul pejabat, atau pimpinan di perusahaan itu sehingga dia dipenjara dan seterusnya memang sangat uniklah orangnya,” terang Asep.
Soerjopranoto mendapat didikan di rumah tentang budi pekerti, dan sesuai dengan adat pusaka kebangsawanan, ia diwajibkan mengerti dan memahami sen itari, karawitan, kesusastraan (membuat puisi Jawa yang dilagukan atau tembang). Menjelang dewasa, mulailah Soerjopranoto mempelajari soal ketatanegaraan, perekonomian, kemasyarakatan, sejarah, keTuhanan dan lain sebagainya.
Perpustakaannya meliputi kurang lebih 3500 buku tentang berbagai ilmu pengetahuan. Dia kemudian berhasil mendapat ijasah Klein Ambtenaar.
Karena dipandang terlalu 'lastig' (membuat onar) di dalam masyarakat Yogyakarta atas usaha asisten residen, ia 'dibuang' ke Tuban, Gresik sebagai pegawai di Controleurs-Kantoor. Di sini ia membela teman pegawainya hingga menempeleng atasannya (seorang Belanda).
Ia minta berhenti dan segera pulang kembali ke Yogyakarta. Untuk menghindari tindakan hukum pemerintah Hindia Belanda atas dirinya, pamannya, Pangeran Sasraningrat, yang berpangkat gusti wakil, mengangkatnya menjadi wedana sentana dengan titel panji di Praja Pakualaman.
Pengganggu Belanda
Karena masih dianggap sebagai 'pengganggu', asisten residen 'membuang' ia ke Bogor dengan alasan disekolahkan pada Sekolah Pertanian (Europesche Afdeling) dengan surat tugas langsung ditandatangani Gubernur Jenderal sebagai 'izin istimewa'.
Disini Soerjopranoto tinggal di rumah orang Belanda bernama van Hinllopen Laberton yang menganut ajaran teosofi yang membenci penjajahan dan perbedaan hak bangsa-bangsa. Soerjopranoto merasa menemukan sahabat, guru, kawan, dan orang tua sekaligus. Pada tahun 1907 ia berhasil mendapat ijasah Landbouwkundige dan Landbouw-leraar.
Di samping itu ia memahirkan diri dalam bela diri yaitu kuntau dan toya dari seorang Tionghoa asal Kanton. Pada masa ini ketika ayahnya menugaskan dia mengurus adiknya, Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) masuk Sekolah Dokter Stovia di Jakarta ia menitipkan surat pada adiknya dengan ajakan atas nama pemuda masyarakat dan pelajar-pelajar Bogor kepada student Stovia untuk mendirikan perkumpulan 'Pirukunan Jawi' yang boleh dianggap sebagai voorloper (pendahulu) dari ide mendirikan 'Boedi Oetomo'.
Tapi ajakannya itu gagal, karena tidak mendapat tanggapan.Pada tahun 1908 sampai dengan 1914 ia dipekerjakan sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian (Landbouw Consulent) untuk daerah Wonosobo, Dieng, Batus dengan tugas mengawasi perkebunan tembakau berkedudukan di Kejajar Garung kemudian dipindahkan ke Wonosobo karena harus merangkap juga pekerjaan memimpin sekolah pertanian.
Berhubung ada kejadian di Parakan (Temanggung) pada tahun 1914, dimana seorang asisten wedana, yang anggota Sarekat Islam, dipecat dari pekerjaannya karena keanggotaannya itu, maka ia sebagai pembela keadilan dengan protes keras menyobek-nyobek ijazah-ijazahnya sendiri dan melemparkannya bersama bundelan kunci di hadapan residen Belanda atasannya sambil kontan minta berhenti.
Selanjutnya ia bersumpah tidak akan lagi bekerja pada pemerintah penjajah Belanda untuk selama-lamanya, dan memberikan seluruh tenaga dan pikirannya pada perjuangan pergerakan politik menentang penjajahan.