10 Tokoh Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional oleh Prabowo, Cek Profil Lengkapnya di Sini
Pemerintah akan memberikan tunjangan kepada keluarga Pahlawan Nasional sebesar Rp50 juta sampai 57 Juta per tahun.
Presiden Prabowo Subianto mengumumkan 10 nama pahlawan baru, termasuk Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, pada peringatan Hari Pahlawan Nasional, Senin (10/11).
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan, pemerintah akan memberikan tunjangan kepada keluarga Pahlawan Nasional sebesar Rp50 juta sampai 57 Juta per tahun, diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada pahlawan.
"Kami beri dukungan Rp57 juta per tahun untuk keluarga pahlawan nasional," tutur Gus Ipul di Istana Negara, Senin (10/11).
Berikut Profil Singkat 10 Tokoh Dapat Gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Prabowo Subianto
Almarhum K.H. Abdurrahman Wahid (Provinsi Jawa Timur)
K.H. Abdurrahman Wahid atau biasa dikenal Gus Dur lahir di Jombang, 7 September 1940, wafat pada 30 Desember 2009. Gus Dur dianugerahi oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Pahlawan Nasional Bidang Perjuangan Politik dan Pendidikan Islam pada 10 November 2025.
Gus Dur merupakan presiden ke-4 Indonesia tahun 1999-2001, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), dan juga salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Gus Dur juga dikenal dengan Bapak Pluralisme dengan kebijakan di antaranya, Mengakui Agama Konghucu menjadi Agama resmi di Indonesia.
Selain itu, Gus Dur juga menjadi presiden di awal era demokrasi, memisahkan TNI dan POLRI, membubarkan Departemen Penerangan (Depepn) yang di orde baru adalah alat untuk mengontrol media. Gus Dur juga yang mengganti nama dari Irian Jaya menjadi Papua untuk provisi tersebut.
Almarhum Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto (Provinsi Jawa Tengah)
Jenderal Besar Soeharto lahir di Yogyakarta, 8 Juni 1921, wafat pada 27 Januari 2008. Soeharto di anugerahi gelar Pahlawan Nasional Bidang Perjuangan Bersenjata dan Politik/ Soeharto merupakan Presiden ke-2 Indonesia.
Soeharto berperan dalam perjuangan bersenjata, serangan umum 1 Maret 1949, pelucutan senjata Jepang. Sebagai peran politik, Operasi Mandala dan Penumpasan G30S/PKI.
Swasembada Beras pada tahun 1980-an juga hasil dari Soeharto, berhasil menekan hiperinflasi yang sangat tinggi pada akhir era Orde Lama menjadi stabil. Pembangunan Infrastruktur seperti Sekolah (SD Inpres), Puskesmas, Jalan, dan Waduk di seluruh Indonesia.
Almarhumah Marsinah (Provinsi Jawa Timur)
Marsinah lahir Nganjuk, Jawa Timur 10 April 1969 dan wafat pada 8 Mei 1993, adalah seorang aktivis dan buruh pabrik dari PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Jawa Timur. Marsinah menjadi salah satu toko utama dalam unjuk rasa menuntut hak-hak normatif.
Ia terlibat dalam organisasi unjuk rasa dan perundingan dengan pihak perusahaan, beberapa hari setelah unjuk rasa tersebut, Marsinah diculik. Ditemukan tewas setelah tiga hari unjuk rasa dilakukan dalam kondisi yang mengenaskan dengan tanda-tanda penyiksaan berat.
Kemudian kematiannya tersebut menjadi simbol perlawanan buruh dan perjuangan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia, khususnya di era Orde Baru. Maka dari itu Marsinah diangkat menjadi Pahlawan Nasional Bidang Perjuangan Sosial dan Kemanusiaan.
Almarhum Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Provinsi Jawa Barat)
Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja lahir di Batavia (Jakarta) 17 Februari 1929 dan wafat pada 6 Juni 2021. Seorang akademisi (Profesor Hukum), dan politisi Indonesia, beliau pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman (1974-1978) dan Menteri Luar Negeri (1978-1988).
Pencapaian terbesar Mochtar Kusumaatmadja adalah perumusan dan perjuangan diplomasi Konsep Wawasan Nusantara. Mochtar Kusumaatmadja juga adalah arsitek utama di balik gagasan Indonesia sebagai Negara Kepulauan.
Perjuangan selama puluhan tahun, diakuinya konsep ini secara global dalam Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (UNCLOS 1982). Berkat Mochtar Kusumaatmadja luas wilayah Indonesia diakui secara sah oleh dunia, melipatgandakan wilayah territorial negara.
Almarhumah Hajjah Rahmah El Yunusiyyah dari Provinsi Sumatera Barat (Bidang Perjuangan Pendidikan Islam)
Almarhumah Hajjah Rahmah El Yunusiyyah Lahir pada 29 Desember 1900 di Lubuk Mata Cat, Kenagarian Bukit Surungan, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Rahmah El Yunusiyyah tumbuh dalam lingkungan ulama Minangkabau.
Kehidupannya berubah arah ketika sejak muda ia melihat bahwa kaum perempuan di daerahnya memperoleh akses pendidikan yang sangat terbatas hanya dalam ranah domestik dan merasa bahwa Islam serta kemajuan bangsa menuntut perempuan untuk memiliki pengetahuan dan kemandirian.
Pada tahun 1923, ia mendirikan lembaga pendidikan khusus perempuan yang dikenal sebagai Diniyah Putri di Padang Panjang, yang kemudian menjadi institusi model bagi pendidikan Islam perempuan di Indonesia.
Dengan tekad kuat dan pengorganisasian yang sistematis, Rahmah memperkenalkan kurikulum terpadu antara ilmu agama, bahasa Arab, dan ilmu umum serta penekanan pada asrama dan kemandirian siswa perempuan Sebagai hasilnya, institusinya menjadi salah satu titik penting transformasi pendidikan Islam perempuan pada era kolonial dan pasca-kemerdekaan.
Almarhum Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo dari Provinsi Jawa Tengah (Bidang Perjuangan Bersenjata)
Almarhum Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo Lahir di Purworejo, Jawa Tengah pada 25 Juli 1925. Sarwo Edhie Wibowo memulai karier militernya sebagai bagian dari pasukan pembela tanah air (PETA) pada masa pendudukan Jepang, kemudian bergabung ke dalam barisan perlawanan kemerdekaan.
Selama masa perang kemerdekaan 1945–1949, ia menjadi komandan kompi di barisan TKR yang kemudian berkembang menjadi bagian dari angkatan bersenjata republik dan terus menanjak hingga menjadi Panglima Kopassus serta memimpin Komando Daerah Militer besar.
Kariernya tak lepas dari kontroversi khususnya perannya dalam peristiwa 1965-1966 namun tidak dapat dipungkiri bahwa Sarwo Edhie menjadi salah satu tokoh militer utama di Indonesia yang turut membentuk struktur pertahanan negara muda. Ia wafat pada 9 November 1989 di Jakarta.
Almarhum Sultan Muhammad Salahuddin dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (Bidang Perjuangan Pendidikan dan Diplomasi)
Almarhum Sultan Muhammad Salahuddin Lahir pada 14 Juli 1889 (atau catatan lainnya 1888) di Bima, NTB, Sultan Muhammad Salahuddin adalah putra dari Sultan Ibrahim (Sultan Bima XIII). Ia memerintah sebagai Sultan Bima ke-14 sejak tahun 1915 (atau 1917) hingga 1951, dan dalam masa pemerintahannya mengambil langkah-langkah progresif di bidang pendidikan dan diplomasi lokal.
Di antaranya, pada tahun 1921 ia mendirikan sekolah HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Raba, 1922 mendirikan sekolah kejuruan wanita (Kopschool) serta memperluas jaringan sekolah agama dan umum kesetiap kejenelian/pemerintah lokal.
Sultan Salahuddin juga dikenal sebagai pemimpin yang menjalin diplomasi dan pelindung gerakan sosial-agama di wilayah Bima, serta dipandang sebagai tokoh yang menggabungkan tradisi kerajaan dengan semangat kemajuan pendidikan.
Syaikhona Muhammad Kholil: Guru Para Ulama Nusantara
Dikenal sebagai ulama kharismatik asal Bangkalan, Syaikhona Muhammad Kholil adalah sosok penting dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Ia menempuh jalan perjuangan melalui pendidikan, sosial, dan dakwah kultural, membentuk generasi ulama pembaharu di tanah air.
Lahir sekitar tahun 1820 di Bangkalan, Madura. mengembangkan pesantren di Madura dan menjalin hubungan pendidikan dengan murid-murid yang kemudian jadi tokoh penting di Indonesia. Pengaruhnya meluas hingga ke berbagai pesantren di Jawa dan Madura.
Melalui ajaran dan keteladanannya, ia menanamkan semangat cinta tanah air, keislaman, dan kebangsaan kepada murid-muridnya. Karena jasanya, ia dijuluki “Sang Guru Para Ulama Nusantara”.
Tuan Rondahaim Saragih: “Napoleon dari Batak” yang Tak Takut Kolonial
Dari Sumatera Utara, pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Tuan Rondahaim Saragih, tokoh perjuangan dari Simalungun yang dijuluki 'Napoleon dari Batak'.
Lahir sekitar tahun 1828 , ia dikenal sebagai pemimpin pasukan Dayak di wilayah Simalungun yang berani menentang penjajahan Belanda pada awal abad ke-20.
Di bawah kepemimpinannya, pasukan yang dipimpinnya mencatat sejumlah kemenangan penting, termasuk dalam Pertempuran Dolok Merawan dan Dolok Sagala.
Perlawanan Rondahaim Saragih tak hanya memperkuat semangat anti-kolonial di Tanah Batak, tetapi juga menjadi simbol pertahanan kemerdekaan dan harga diri bangsa.
Zainal Abidin Syah: Sultan Tidore dan Diplomat Kemerdekaan
Nama Zainal Abidin Syah, Sultan Tidore terakhir juga masuk dalam daftar penerima gelar pahlawan nasional tahun ini. Tokoh asal Maluku Utara ini dikenal karena perjuangannya di bidang politik dan diplomasi dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia pasca-proklamasi kemerdekaan.
Lahir pada 5 Agustus 1912, Soasiu, Kesultanan Tidore, Maluku. Sebagai Sultan Tidore, ia memainkan peran penting dalam memperkuat integrasi wilayah timur Indonesia ke dalam Republik.
Zainal Abidin Syah mendukung integrasi wilayah timur Indonesia (termasuk Papua) ke dalam NKRI saat periode konfrontasi dengan Belanda, melalui diplomasi dan keikutsertaan dalam Operasi Mandala. Di lancir dari beberapa sumber.
Ketiga tokoh ini menambah deretan nama yang diakui negara atas dedikasi dan perjuangan mereka bagi bangsa. Melalui penganugerahan gelar pahlawan nasional, pemerintah berharap jasa dan semangat perjuangan mereka terus hidup dan menginspirasi generasi muda Indonesia.
Reporter Magang : Ahmad Subayu, Mochamad Aidil Akbar, Muhammad Naufal Syafrie