Seorang peneliti asal Bojonegoro menyandingkan dirinya dengan sosok Che Guevara
Perang Diponegoro yang meletus pada tahun 1825 mencuri perhatian hampir seluruh masyarakat Pulau Jawa. Tekad Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda mendapat dukungan dari masyarakat Jawa. Nyaris setiap daerah di Pulau Jawa melakukan perlawanan terhadap Belanda.
(Foto: Wikipedia)
Advertisement
Melawan Penjajah
Di daerah Rajekwesi, perang melawan Belanda dikomandoi Raden Tumenggung Aria Sosrodilogo yang merupakan putra Bupati Jipang, Raden Tumenggunggung Purwonegoro. Sosrodilogo mampu merebut Rajekwesi dari cengkeraman Belanda.
Pada saat penyerangan ke Kabupaten Rajekwesi, Sosrodilogo bersama pasukannya merusak dan membakar gedung-gedung milik Belanda. Tak hanya itu, Sosrodilogo dan pasukannya juga membunuh tentara dan para punggawa Belanda, membebaskan para pribumi yang ditahan Belanda dan menjadikan mereka menjadi bala pasukan.
Akibat penyerangan ini, Bupati Jipang, Djodjonegoro melarikan diri dari kejaran Belanda dan mengungsi ke Blora. Kekosongan jabatan itu membuat masyarakat mengangkat Sosrodilogo sebagai Bupati Jipang di Rajekwesi.
Mengutip dari laman prc-initiative.org, kekuatan pasukan Sosrodilogo menguat karena mendapat dukungan masyarakat luas. Mereka turut melakukan pemberontakan terhadap Belanda, Berkat dukungan masyarakat, Sosrodilogo berhasil menguasai daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai pihak penjajah. Rajekwesi dan Baureno (seluruh wilayah Bojonegoro), Bancar (Tuban) hingga Rembang jatuh ke tangan Sosrodilogo.
Melihat pengaruh Sosrodilogo semakin meluas, pemimpin tertinggi pemerintahan Hindia Belanda, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, L.P.J Viscount Du Bus de Ghisignies turun tangan sendiri.
Ia mengumpulkan seluruh tentara Belanda di wilayah residen Rembang, ditambah tentara dari wilayah lain untuk mengalahkan pemberontakan Sosrodilogo dan merebut kembali Rajekwesi. Pasukan Belanda di Surabaya dan sekitarnya juga digerakkan untuk membantu membatasi ruang gerak pasukan Sosrodilogo agar mudah dipukul mundur. Pasukan Sosrodilogo dikepung dari arah barat (pasukan Belanda dari residen Rembang) dan arah timur (pasukan Belanda dari Surabaya).
Advertisement
Ruang gerak pasukan semakin sempit ditambah beberapa panglima perang Diponegoro telah tertangkap dan menyerah menyebabkan perang Diponegoro (Perang Jawa) di daerah-daerah lain mulai mengendur, Sosrodilogo bersama pasukannya pun semakin terdesak ke selatan yakni arah Madiun.
(Foto: Freepik fabrikasimf)
Advertisement
Lemahnya pertahanan Sosrodilogo dan pasukannya membuat pihak Belanda kembali menguasi Kabupaten Rajekwesi pada 2 Januari 1828.
Meski peluang menang sangat kecil, Sosrodilogo bersama pasukan setianya tetap melancarkan perlawanan secara gerilya di desa-desa dan bukit-bukit terpencil. Saat situasi perlawanan sudah tidak memungkinkan lagi, Sosrodilogo kalah dan menyerah kepada Belanda pada 3 Oktober 1828. Setelah itu, tidak diketahui lagi bagaimana nasib Sosrodilogo. Ia disebut meninggal dan dikubur di daerah Madiun, namun hingga kini belum ada informasi jelas di mana persisnya kuburan Sosrodilogo.
Mengutip laman bi.or.id, peneliti Bojonegoro Institute, Aw. Syaiful Huda menyebut kepahlawanan Sosrodilogo layak disandingkan dengan Che Guevara. Keduanya sama-sama gigih melawan tindakan sewenang-wenang kaum penjajah.