Suparna Sastra Diredja menjadi sosok heroik yang membela rakyat Indonesia hingga akhir hayat.
Ia tak rela melihat masyarakat Jawa Barat berada di bawah kesewenang-wenangan penjajah sejak era kolonial Belanda sampai Jepang.
Aksi nekat Suparna membela kelas bawah membuatnya dihantam sejarah kelam hingga memilih mengasingkan diri di negeri Belanda.
Di sana, Suparna terus berkoordinasi dan mengadvokasi masyarakat Indonesia agar tetap merdeka di bawah segala jenis kepemimpinan.
Karut marutnya politik Indonesia di masa peralihan orde lama ke orde baru membuat Suparna terasingkan di negeri orang hingga akhir hayat. Berikut kisah selengkapnya.
Advertisement
Merujuk laman konstituante, Jumat (29/9) Suparna merupakan anak dari pasangan Abdul Sastradiredja dan Nyi Emi Resmi. Abdul merupakan guru sekolah dasar, sedangkan Emi merupakan ibu rumah tangga.
Sosoknya lahir di pelosok Garut, tepatnya Desa Tarogong, Kecamatan Tarogong pada 2 Februari 1914.
Suparna menjadi sosok yang beruntung karena berkesempatan mengenyam bangku pendidikan, di mana saat masa penjajahan Belanda sekolah menjadi wadah yang sulit bagi pribumi.
Ia bersekolah pertama kali di sekolah dasar Belanda, Europeesche Lagere School. Lalu lanjut di tingkat sekolah menengah MULO Bandung dan sekolah menengah akhir Algemene Middelbare School di Batavia.
Di sekolah menengah inilah, Suparna tergugah dan ingin bergerak lebih masif demi kebebasan rakyat dari penjajah melalui kegiatan di organisasi Indonesia Muda.
Advertisement
Keterlibatannya di majalah tersebut membuat Suparna makin marah terhadap kalangan penjajah. Ia lantas dipercaya sebagai redaktu Majalah Indonesia dan menerbitkan berbagai tulisan yang provokatif dan mengajak rakyat untuk melawan kekuasaan Belanda. Gambar: Liputan6
Rupanya, tulisan-tulisan tersebut tercium oleh Belanda, dan Suparna dijatuhi hukuman penjara hingga 10 bulan.
Tidur di penjara tak membuatnya gentar. Suparna semakin giat melawan Belanda dengan menghadiri berbagai diskusi dan kegiatan politik rakyat.
Ia juga dipercaya mengajar di sekolah liar perguruan rakyat untuk memantik semangat nasionalis bangsa Indonesia.
Advertisement
Perginya Belanda dan masuknya tentara Jepang tidak disambut baik Suparna. Dia tetap kritis, dan skeptis terhadap pasukan Asia timur tersebut.
Firasatnya tepat. Tentara Jepang sama kejamnya dengan Belanda, sehingga ia dengan tegas melawan.
Di medio 1940-an, Suparna terus bergerilya lewat jalur bawah tanah untuk mengajak para pejuang di Jawa Barat memberantas penjajah Jepang.
Menyuarakan kebenciannya terhadap penjajah Jepang melalu organisasi Koperasi Rakyat Indonesia atau Korindo.
Kemudian ia juga banyak bergerak bersama pemuda-pemuda dan para tokoh revolusioner seperti Wikana, Chaerul Saleh, Sukarni, Amir Sjarifoeddin sampai Mochamad Yamin.
Di masa ini dia mengadvokasi kalangan keluarga pekerja romusha melalui organisasi setengah resmi.
Lalu ia juga membantu keluarga yang terdampak dan anggota pekerja romusha yang kelaparan hingga membuat jengah tentara Jepang.
Advertisement
Pasca pembacaan teks proklamasi, Suparna memiliki ideologi politik kiri bersama Partai Komunis Indonesia terutama pada 1950-an.
Gambar: Liputan6
Bersamaan dengan itu, dia juga tergabung dengan pemuda bersenjata bernama API (angkatan pemuda Indonesia) dan dilantik sebagai Komite Nasional Indonesia pusat yang merupakan badah perwakilan rakyat sementara yang mewadahi pemuda-pemuda di wilayah Bandung serta priangan.
Dari laman kk.sttbandung.ac.id dikatakan, Suparna juga memperjuangkan hak-hak para buruh perkebunan bernama Sarekat Buruh Perkebunan Republik Indonesia atau Sarbupri sampai 1965.
Pergerakannya yang masif bersama rakyat membuatnya banyak terlibat di Partai Komunis Indonesia terutama setelah pemilihan 1955. Di sana ia menjadi anggota dewan yang mengurusi konstitusi baru pengganti undang-undang dasar semetara.
Keterlibatannya di sana juga menjadi perhatian Soekarno hingga ia dilibatkan dalam Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong dan menjadi delegasi politik untuk kunjungan ke negara-negara seperti Korea Utara maupun Cina.
Advertisement
Advertisement
Saat melakukan kunjungan ke Cina, Suparna jatuh sakit dan tidak memungkinkan untuk kembali ke tanah air. Ia akhirnya menjalani perawatan di sana.
Sayangnya setelah sembuh, Suparna masih belum bisa kembali ke tanah air yang dirindukannya karena situasi politik peralihan yang kacau.
Pemerintahan orde baru diketahui melakukan pemberantasan besar-besaran terhadap simpatisan PKI maupun kalangan yang diduga terkait pada akhir September 1965. Momen kelam itu kemudian dikenal dengan gerakan 30 September atau G30SPKI.
Selama 12 tahun Suparna tertahan di Cina, hingga di tahun 1970-an, ia mengungsi ke Belanda sebagai pencari suaka atau suaka politik.
Kerinduannya terhadap keluarga dan tanah air akhirnya tertahan sampai akhir hayat.