VIDEO Anggota Parlemen Australia Menangis Tersedu-sedu Saat Pidato Soal Genosida Israel di Gaza
Anggota parlemen Australia Kat McNamara tak kuasa menahan tangis saat berpidato tentang genosida di Gaza di depan parlemen.
Kat McNamara, anggota parlemen Australia menangis tersedu-sedu dalam pidatonya di parlemen pada 20 Maret di Darwin, Australia. Ia berbicara tentang genosida di Gaza yang kembali memburuk.
Israel melanjutkan serangan dan pengeboman ke Jalur Gaza pada 18 Maret, serangan tersebut menjadi tanda berakhirnya kesepakatan gencatan senjata yang berlangsung hampir dua bulan, Lebih dari 792 warga Palestina tewas hanya dalam waktu sepekan.
McNamara mengungkapkan rasa sedihnya sebagai seorang ibu saat melihat bayi-bayi Palestina menjadi korban atas serangan Israel.
“Saya membuka Instagram, dan melihat gambar anak-anak Palestina yang meninggal dan sekarat. Dan melihat bayi saya yang berusia 15 bulan sedang tertidur dengan damai di samping saya,” kata dia, seperti dilansir Middle East Eye, Rabu (26/3).
Pada Selasa Malam (18/3) Israel melanggar gencatan senjata dan menghabiskan malam itu dengan mengebom perkemahan tenda pengungsi di daerah sipil. Serangan tersebut menewaskan banyak wanita dan anak-anak, salah satu anak tersebut mengenakan baju terusan merah muda dengan motif bunga-bunga.
“Saya membayangkan ketika seorang ibu memilih pakaian itu untuk bayinya saat dia hamil, penuh harapan untuk masa depan anaknya,” ucapnya.
Selain bayi dengan pakaian motif bunga-bunga, ia menyampaikan kesaksiannya soal tenaga medis bantuan asing yang merawat anak-anak dengan luka tembak, serta seorang anak yang menjadi saksi atas kematian seluruh keluarganya, dan seorang nenek yang meninggal ketika sudah membawa bendera putih tanda menyerah.
Ia menegaskan “tidak ada penembak jitu yang secara tidak sengaja menembak seorang anak dua kali.”
Selain itu, McNamara bercerita tentang kesaksiannya terhadap salah satu tenaga medis asal Perth Australia, yakni Dr. Mohammed Mustafa yang baru saja tiba di Gaza. Dokter tersebut berbicara di depan kamera saat terbaring kelelahan di lantai rumah sakit yang hampir tidak berfungsi. Ia menyampaikan kepada McNamara bahwa tenaga medis di sana bekerja sepanjang malam tanpa henti, kekurangan obat-obatan, dan menyaksikan pengeboman yang terus berlangsung.
“Kami kehabisan semua obat penghilang rasa sakit, kami tidak bisa menenangkan siapa pun. Ketika kami memasang selang pernafasan, mereka terbangun dan tersedak karena kami tidak memiliki obat penenang,” ungkap dokter tersebut menggambarkan betapa minimnya fasilitas kesehatan di Gaza.
“Ada tujuh gadis yang kakinya diamputasi tanpa anestesi. Pengeboman masih berlangsung, ruangan masih terguncang.”
McNamara menutup pidatonya dengan menyampaikan kepada warga Gaza dan Palestina, “Saya selalu mendengar dan menyimak. Setiap hari hati saya hancur dan tidak bisa berkata kata. Saya selalu bersama para orang tua di Palestina.