Survei: 80 Persen Lebih Warga Israel Setuju 'Pengusiran Paksa' Penduduk Gaza
Sebuah survei mengungkap bahwa lebih dari 80 persen warga Israel mendukung 'pengusiran paksa' penduduk Gaza.
Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh Universitas Penn State menyatakan 82 persen warga Israel mendukung pembersihan etnis di Gaza.
Jajak pendapat ini digelar pada Maret dan dipublikasikan oleh surat kabar Haaretz pada 22 Mei, dengan melibatkan 1.005 responden Yahudi Israel.
Menanggapi pertanyaan apakah tentara Israel harus bertindak sesuai dengan kisah Alkitab tentang bangsa Israel dan penghancuran seluruh penduduk Yerikho selama penaklukan kota tersebut, 47 persen warga Israel menjawab “Ya.”
Bangsa Amalek
Dilansir the Cradle, Jumat (23/5), sebanyak 65 persen responden juga meyakini ada “inkarnasi kontemporer Amalek.” Sembilan puluh tiga persen dari 65 persen tersebut menyatakan “perintah untuk menghapus kenangan Amalek juga relevan untuk Amalek modern ini.”
Pada awal perang di Gaza, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut kampanye Tel Aviv sebagai perang suci yang mengingatkan pada perang alkitabiah melawan bangsa Amalek – sebuah kaum yang diperintahkan untuk dimusnahkan oleh bangsa Israel kuno dalam Alkitab Ibrani.
“Delapan puluh dua persen dari mereka yang disurvei menyatakan dukungan untuk pengusiran paksa penduduk Jalur Gaza, dan 56 persen mendukung pengusiran paksa warga Arab Israel,” kutip Haaretz dari jajak pendapat tersebut.
Pertanyaan serupa 20 tahun lalu
Sikap ini menandakan peningkatan tajam dari jajak pendapat dengan pertanyaan serupa 20 tahun lalu.
Penerbitan jajak pendapat ini bertepatan dengan operasi militer Israel baru yang brutal di Gaza – yang dijuluki Gideon’s Chariots. Operasi ini bertujuan untuk membawa seluruh Gaza di bawah kendali Israel dan akan membuat militer mengusir seluruh penduduk serta membatasi mereka ke area kecil di wilayah selatan jalur tersebut.
Netanyahu mengatakan dalam pidato pada 21 Mei bahwa syaratnya untuk mengakhiri perang di Gaza adalah penerapan inisiatif yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump awal tahun ini, yang menyerukan pengusiran penduduk jalur tersebut ke negara lain dan pengambilalihan Gaza oleh AS.
Sumber yang berbicara dengan NBC News sepekan lalu mengatakan Trump sedang bekerja pada rencana untuk “merelokasi secara permanen” sebanyak satu juta warga Palestina dari Jalur Gaza ke Libya.
Kontraktor keamanan AS sudah berada di Gaza untuk mengawasi rencana distribusi bantuan Israel yang baru. Langkah ini dikecam keras oleh PBB dan organisasi internasional lainnya, karena bergantung pada mekanisme yang akan semakin mengusir penduduk Gaza.
Perbedaan Pendapat dan Masa Depan Gaza
Terdapat perbedaan pendapat yang signifikan antara warga Israel dan Palestina mengenai solusi konflik dan masa depan Gaza. Beberapa pihak percaya bahwa solusi dua negara adalah satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan.
Namun, pihak lain meragukan kemungkinan solusi dua negara dan menyerukan pendekatan baru yang lebih radikal. Masa depan Gaza masih belum pasti, dan diperlukan upaya diplomatik yang intensif untuk mencapai solusi yang adil dan dapat diterima oleh semua pihak.
Upaya untuk merelokasi penduduk Gaza mendapat dukungan dari sebagian warga Israel dan Amerika Serikat. Namun, rencana ini mendapat penolakan dari pihak Palestina.