Piramida Berusia 1000 Tahun Ini Runtuh Diterjang Badai, Warga Cemas Bakal Muncul Malapetaka
Peristiwa ini terjadi setelah periode kemarau panjang dan suhu ekstrem.
Piramida berusia 1.000 tahun di zona arkeologi Ihuatzio, Michoacán, Meksiko bagian barat runtuh setelah badai dan hujan lebat menerjang wilayah tersebut. Insiden ini terjadi pada Juli tahun lalu.
Piramida setinggi 15 meter ini merupakan saksi bisu peradaban suku Purépecha. Peristiwa ini terjadi setelah periode kemarau panjang dan suhu ekstrem, yang menyebabkan retakan pada struktur piramida dan memperparah kerusakan hingga menyebabkan runtuhnya bagian selatan bangunan.
Runtuhnya piramida ini bukan hanya kerusakan struktural semata. Setidaknya enam bagian dari 'dasar selatan' piramida mengalami kerusakan, baik pada bagian luar maupun inti bangunan. Institut Nasional Antropologi dan Sejarah Meksiko (INAH), lembaga pemerintah yang bertanggung jawab atas pelestarian warisan budaya, menyatakan cuaca ekstrem merupakan penyebab utama kejadian ini. Pernyataan resmi INAH menekankan perlunya upaya mitigasi bencana dan perlindungan situs-situs bersejarah dari dampak perubahan iklim.
Situs ini saat ini tengah dalam proses restorasi yang mendesak di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang dampak perubahan iklim terhadap warisan budaya kuno.
Kejadian ini menimbulkan duka mendalam bagi masyarakat sekitar, khususnya bagi suku Purépecha. Mereka menganggap runtuhnya piramida sebagai pertanda buruk. Piramida tersebut merupakan situs bersejarah yang sangat penting bagi suku Purépecha, yang diperkirakan mendiami wilayah tersebut antara tahun 900 hingga 1500 Masehi.
Bangunan tersebut menyimpan sejarah, budaya, dan identitas suku Purépecha, dan runtuhnya sebagian struktur tersebut merupakan kehilangan yang signifikan bagi warisan budaya mereka.
"Ini adalah pertanda buruk," ungkap seorang anggota suku Purépecha, menggambarkan kesedihan dan kekhawatiran atas kejadian tersebut.
Bagi sebagian orang, kehancuran itu memiliki makna simbolis.
“Sebelum kedatangan penjajah asing di Meksiko, sesuatu yang serupa terjadi, dan itu karena para dewa tidak senang,” kata Tariakuiri Alvarez, anggota komunitas P’urhépecha, dikutip dari Daily Galaxy, Senin (14/4).
Upaya Perbaikan
Menyikapi kejadian ini, INAH telah segera memulai upaya perbaikan dan penilaian kerusakan yang lebih komprehensif. Tim ahli arkeologi dan insinyur sedang bekerja untuk menstabilkan struktur yang tersisa dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Proses perbaikan diperkirakan akan memakan waktu lama dan membutuhkan sumber daya yang signifikan.
Selain itu, INAH juga akan melakukan studi lebih lanjut untuk memahami penyebab runtuhnya piramida dan mengembangkan strategi pencegahan untuk melindungi situs-situs arkeologi lainnya dari dampak perubahan iklim.
Runtuhnya piramida di Ihuatzio menyoroti kerentanan situs-situs warisan budaya terhadap dampak perubahan iklim. Peristiwa ini menjadi pengingat penting akan perlunya upaya global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan melindungi warisan budaya dunia dari ancaman cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. Perubahan iklim tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga warisan budaya manusia yang tak ternilai harganya.
INAH telah berkomitmen untuk meningkatkan upaya konservasi dan perlindungan situs-situs arkeologi di Meksiko. Lembaga ini berencana untuk memperkuat kerjasama dengan komunitas lokal dan lembaga internasional untuk mengembangkan strategi yang lebih efektif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Hal ini termasuk pengembangan teknologi baru untuk pemantauan dan perlindungan situs-situs bersejarah.