Rektor YARSI: Peran Keluarga Kunci Bangun Minat Anak pada STEM Sejak Dini
Rektor Universitas YARSI Fasli Jalal menekankan pentingnya peran keluarga dalam menumbuhkan minat anak pada bidang STEM sejak dini, melalui aktivitas sehari-hari yang sederhana dan edukatif.
Rektor Universitas YARSI, Fasli Jalal, menyoroti pentingnya peran keluarga dalam menumbuhkan ketertarikan anak pada bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM). Ia mengungkapkan bahwa minat ini dapat dibangun sejak dini melalui pendekatan sederhana dalam aktivitas sehari-hari, yang dekat dengan lingkungan mereka. Pernyataan ini disampaikan oleh Fasli Jalal kepada wartawan usai menghadiri kuliah umum bertajuk "STEMpowerment for All: Breaking Barriers, Building Futures" di Universitas YARSI, Jakarta, pada hari Jumat.
Menurut Fasli Jalal, menciptakan kebutuhan akan sains dan teknologi harus dimulai dari lingkungan keluarga sebagai fondasi utama. Berbagai aktivitas sederhana di rumah dan sekitar anak dapat menjadi pintu masuk yang sangat efektif bagi mereka untuk memahami konsep-konsep ilmiah. Ini termasuk melalui permainan edukatif dan interaksi langsung dengan lingkungan sekitar mereka.
Sebagai contoh konkret, permainan seperti Lego atau penyusunan balok berwarna-warni bisa menjadi sarana yang sangat efektif bagi orang tua. Melalui kegiatan ini, orang tua dapat memperkenalkan dasar-dasar STEM kepada anak-anak mereka secara menyenangkan, interaktif, dan tanpa terasa seperti belajar yang membebani.
Membangun Fondasi STEM dari Rumah
Fasli Jalal menyoroti masih adanya anggapan dari sebagian orang tua dan guru bahwa bidang sains kerap dianggap sulit dan memiliki jalur karir yang tidak jelas. Padahal, banyak penemuan besar dan inovasi penting lahir dari proses bertahap serta kegigihan dalam bidang ini. Oleh karena itu, mengubah persepsi ini sejak dini di lingkungan keluarga menjadi sangat krusial.
Pendekatan yang lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari anak dapat menjadi kunci utama dalam menumbuhkan minat STEM. Misalnya, orang tua dapat mengenalkan konsep fisika melalui permainan ayunan di taman atau mengajarkan dasar-dasar matematika melalui perhitungan sederhana saat berbelanja di pasar. Hal ini membantu anak melihat relevansi STEM dalam kehidupan nyata mereka.
Menciptakan lingkungan yang mendukung eksplorasi dan rasa ingin tahu anak adalah esensial untuk perkembangan minat STEM. Orang tua dapat memfasilitasi anak dengan buku-buku sains yang menarik, melakukan eksperimen sederhana di rumah, atau mengajak kunjungan ke museum sains dan planetarium. Ini akan memupuk minat mereka secara organik dan berkelanjutan.
Dengan demikian, keluarga memiliki peran yang sangat krusial dalam membentuk persepsi positif anak terhadap STEM sejak usia dini. Mereka dapat mengubah pandangan bahwa STEM itu sulit menjadi sesuatu yang menarik, penuh potensi, dan relevan untuk masa depan.
Dukungan Kebijakan dan Kesetaraan Gender dalam STEM
Selain peran aktif keluarga, Fasli Jalal juga mendorong adanya dukungan kebijakan yang lebih luas dari pemerintah dan institusi terkait untuk memperkuat ekosistem STEM di Indonesia. Kebijakan ini harus mencakup penyediaan beasiswa yang memadai bagi pelajar berprestasi dan menunjukkan contoh nyata jalur karir yang beragam di bidang STEM. Ini penting untuk menarik lebih banyak talenta.
Ia secara tegas menyatakan, "Kita harus membina itu sejak dari awal, memfasilitasi kebijakan, membuka biasiswa-biasiswa, memberikan contoh-contoh yang real, bahwa karirnya itu bisa ke mana-mana." Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya sinergi antara pendidikan formal, lingkungan keluarga, dan dukungan pemerintah. Sinergi ini akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan bakat STEM di seluruh lapisan masyarakat.
Fasli juga menyoroti peningkatan partisipasi perempuan di bidang STEM, khususnya di lingkungan kampus yang dipimpinnya, Universitas YARSI. Ia mencontohkan, "Di kedokteran, di engineering, kita dominasi perempuan. Di biomedical, kita juga terbanyak perempuan. Profesor kita juga banyak perempuan." Fakta ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender dalam STEM bukan hanya sekadar wacana, melainkan sebuah realitas yang dapat diwujudkan.
Capaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa peningkatan partisipasi perempuan di STEM dapat diwujudkan melalui kebijakan institusi yang mendukung dan budaya yang inklusif. Fasli menambahkan, saat ia pertama kali menjabat rektor di sana, dari enam dekan, lima di antaranya adalah perempuan, menunjukkan komitmen kuat YARSI terhadap kesetaraan dan pemberdayaan perempuan dalam bidang sains dan teknologi.
Sumber: AntaraNews