Penelitian Ungkap Ukuran Paus Makin Menyusut Karena Perubahan Iklim
Penelitian ini berfokus pada paus sikat Atlantik Utara (Eubalaena glacialis), yang terpengaruh secara signifikan oleh perubahan iklim.
Perubahan iklim yang terjadi di seluruh dunia telah memberikan pengaruh yang besar terhadap berbagai spesies di lautan, termasuk paus. Salah satu efek dari perubahan iklim yang telah teridentifikasi adalah pengurangan ukuran tubuh paus yang disebabkan oleh perubahan kondisi lingkungan.
Dikutip dari Live Science, Jumat (20/12), para peneliti menemukan perubahan iklim merupakan salah satu faktor utama yang mengakibatkan ukuran tubuh paus semakin kecil. Suhu air laut yang meningkat dan perubahan pola arus laut menjadi penyebab utama yang memengaruhi proses upwelling, yaitu fenomena alami di mana air laut dingin dan kaya nutrisi naik ke permukaan. Proses ini sangat penting karena menjadi habitat bagi plankton, yang merupakan sumber makanan utama bagi paus.
Apabila jumlah plankton menurun, paus akan mengalami kesulitan dalam mencari makanan yang cukup. Hal ini menyebabkan pertumbuhan tubuh paus tidak optimal, sehingga ukuran mereka menjadi lebih kecil dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Penelitian ini berfokus pada paus sikat Atlantik Utara (Eubalaena glacialis), yang mengalami dampak signifikan akibat perubahan iklim. Ketersediaan makanan bagi spesies ini berkurang, memaksa mereka untuk berenang lebih jauh dan mengeluarkan lebih banyak energi untuk mencari makanan. Energi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan kini terpaksa dialokasikan untuk bertahan hidup, yang berujung pada penurunan ukuran tubuh mereka.
Fenomena serupa juga dialami oleh paus abu-abu di Samudra Pasifik. Peneliti mencatat, panjang tubuh paus abu-abu telah menyusut sekitar 13 persen sejak tahun 2000. Jika kita bayangkan, paus yang lahir pada tahun 2020 diperkirakan memiliki ukuran tubuh 1,65 meter lebih pendek dibandingkan paus yang lahir dua dekade sebelumnya. Penyusutan ukuran ini dapat mengganggu kemampuan paus untuk melakukan perjalanan jauh di lautan.
Tubuh yang lebih kecil membuat mereka kurang kuat dan lebih rentan terhadap predator serta perubahan lingkungan lainnya. Selain paus, banyak hewan lain juga mengalami penyusutan ukuran tubuh akibat perubahan iklim. Penelitian menunjukkan bahwa banyak spesies, termasuk ikan, burung, dan mamalia darat, terpengaruh oleh fenomena ini. Kenaikan suhu yang terjadi menyebabkan mereka kekurangan makanan atau energi untuk tumbuh dengan optimal.
Ekosistem Lautan
Paus memainkan peranan yang sangat vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Ketika paus bergerak di dalam air dan mengeluarkan kotoran, mereka berkontribusi dalam penyebaran nutrisi yang diperlukan oleh plankton dan berbagai hewan kecil lainnya.
Dikutip dari IFL Science, Jumat (20/12), paus juga memiliki dampak yang signifikan terhadap ekosistem laut serta siklus karbon global. Sebagai mamalia laut terbesar, paus memiliki usia yang panjang dan kemampuan untuk bermigrasi jauh, serta secara tidak langsung menyimpan dan mendistribusikan karbon di lingkungan laut. Hal ini menjadikan mereka salah satu elemen kunci dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Penelitian dalam jurnal Trends in Ecology and Evolution pada Desember 2022 menunjukkan, paus dapat menyimpan sejumlah besar karbon dalam tubuh mereka. Terdapat 12 spesies paus besar, seperti paus biru (Balaenoptera musculus), paus sirip (Balaenoptera physalus), dan paus bungkuk (Megaptera novaeangliae), yang diperkirakan menyimpan sekitar 2 juta metrik ton karbon. Jumlah ini setara dengan emisi karbon yang dihasilkan dari pembakaran 851 juta liter bensin. Oleh karena itu, keberadaan paus sangat penting dalam usaha mengurangi kadar karbon di atmosfer dan lautan.
Selain itu, paus juga berkontribusi pada siklus karbon ketika mereka meninggal. Bangkai paus yang tenggelam ke dasar laut membawa akumulasi karbon yang telah tersimpan dalam tubuh mereka sepanjang hidup. Proses ini, yang dikenal dengan sebutan carbon sequestration, memiliki potensi untuk menyimpan karbon dalam jangka waktu yang sangat lama. Para peneliti memperkirakan bahwa karbon tersebut bisa memerlukan waktu hingga 1.000 tahun untuk kembali ke permukaan laut. Dengan cara ini, bangkai paus yang tenggelam berfungsi secara efektif dalam mengurangi karbon yang seharusnya menguap ke atmosfer.