PBB Sebut 142.000 Warga Gaza Mengungsi dalam Sepekan karena Dipaksa Israel
Serangan militer Israel di Jalur Gaza memaksa lebih dari 142.000 warga Palestina mengungsi dalam waktu seminggu, memicu krisis kemanusiaan yang memprihatinkan.
Serangan militer Israel yang kembali dilancarkan di Jalur Gaza sejak 18 Maret 2025 telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang meluas. Lebih dari 142.000 warga Palestina telah mengungsi dari rumah mereka dalam waktu hanya seminggu, meninggalkan harta benda mereka dan mencari perlindungan di tempat yang lebih aman. Kejadian ini terjadi setelah pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh Israel pada 2 Maret 2025, yang memicu operasi militer besar-besaran. Akibatnya, puluhan warga Palestina tewas, termasuk anak-anak, dan ratusan lainnya luka-luka, membutuhkan bantuan medis segera.
Menurut laporan Badan Kemanusiaan PBB (OCHA), banyak pengungsi hanya membawa sedikit barang pribadi dan kini tinggal di jalanan, membutuhkan makanan, air minum, dan kebutuhan pokok lainnya. Situasi ini diperparah oleh pengepungan yang telah berlangsung, membuat akses bantuan kemanusiaan menjadi sangat terbatas. Sekitar 250.000 warga Palestina berada di daerah yang dijadwalkan untuk evakuasi, dan sedikitnya delapan pekerja bantuan telah tewas di Gaza sejak dimulainya kembali operasi militer Israel. Ketakutan akan serangan lebih lanjut masih menghantui penduduk Gaza, karena belum ada terobosan dalam pembicaraan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
Peristiwa ini bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya, lebih dari 423.000 warga Palestina telah meninggalkan wilayah selatan Gaza menuju utara sejak 29 Januari 2024, setelah dibukanya Jalan Salah ad-Din dan Al Rashid. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menggambarkan skala perpindahan penduduk ini sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan. "Dalam waktu hanya satu minggu, 142.000 orang telah mengungsi," ujar Dujarric, menekankan bahwa sekitar 90 persen populasi Jalur Gaza setidaknya pernah mengungsi satu kali antara awal perang pada 7 Oktober 2023 hingga Januari tahun ini. "Ruang yang tersedia untuk keluarga-keluarga 'semakin menyempit', tambahnya.
Perintah Evakuasi Israel dan Dampaknya
Perintah evakuasi yang dikeluarkan Israel telah mencakup sekitar 14 persen wilayah Jalur Gaza, memaksa sekitar 124.000 warga Palestina mengungsi. Banyak di antara mereka berjalan kaki dan mencari perlindungan di rumah sakit. Stephane Dujarric menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi tersebut, menekankan bahwa perintah evakuasi terbaru mencakup area yang luas, termasuk zona terlarang di sepanjang perbatasan dan koridor Netzarim. "Setiap gelombang pengungsian menyebabkan ribuan orang 'tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga akses terhadap kebutuhan dasar seperti makanan, air minum, dan layanan kesehatan'," jelas Dujarric.
Situasi ini semakin memperparah krisis kemanusiaan yang tengah terjadi. Akses bantuan kemanusiaan menjadi sangat terbatas, dan kebutuhan akan air bersih, makanan, dan perlengkapan medis sangat mendesak. Laporan menunjukkan bahwa 90 persen orang yang disurvei melaporkan tidak memiliki akses yang cukup terhadap air bersih, bahkan kesulitan untuk mencuci tangan selama beberapa hari. Kondisi ini menggambarkan tantangan besar dalam pemulihan pasca konflik.
Perintah evakuasi terbaru di Rafah, yang mencakup sekitar 2 persen wilayah Gaza dan memengaruhi lima lingkungan, telah dikeluarkan oleh otoritas Israel. Dengan tambahan ini, total area yang diperintahkan untuk dievakuasi dalam sepekan terakhir mencapai sekitar 14 persen dari keseluruhan Jalur Gaza. Wilayah ini juga mencakup zona 'terlarang' yang luas di sepanjang perbatasan dan koridor Netzarim, menambah kompleksitas situasi darurat kemanusiaan yang tengah berlangsung.
Bantuan Kemanusiaan PBB
PBB dan mitra kemanusiaannya telah meningkatkan respons terhadap krisis ini. Bantuan berupa makanan, air bersih, dan perlengkapan sanitasi didistribusikan kepada para pengungsi. UNICEF turut serta dengan memberikan gelang identifikasi bagi anak-anak untuk membantu menjaga keamanan dan memudahkan pencarian keluarga yang terpisah. Namun, upaya bantuan ini masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan yang sangat besar.
Kelompok rentan, termasuk anak-anak tanpa pendamping, wanita hamil, lansia, penyandang disabilitas, dan orang-orang yang membutuhkan perawatan medis rutin, turut serta dalam gelombang pengungsian ini. Mereka membutuhkan perhatian dan perlindungan khusus. Tim OCHA yang mengunjungi lokasi di Kota Gaza menemukan kebutuhan mendesak akan air bersih, perlengkapan dapur, tempat tidur, dan barang-barang kebersihan.
Setelah gencatan senjata, hampir setengah juta warga Palestina telah kembali ke rumah mereka di wilayah utara Jalur Gaza. Meskipun demikian, sekitar 8.500 orang telah berpindah dari utara ke selatan Gaza. PBB terus memantau situasi dan memberikan bantuan kepada mereka yang paling rentan.
Serangan udara Israel yang dahsyat telah menewaskan sedikitnya 730 warga Palestina dan melukai hampir 1.200 lainnya, memicu krisis kemanusiaan yang meluas dan gelombang pengungsian besar-besaran. Peristiwa ini terjadi meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang berlaku sejak Januari 2024.